Sidang Pengalihan Perusahaan di Bantul, Tergugat Sampaikan Jawaban
Sidang gugatan PMH terkait pengalihan kepemilikan CV Art Fashion di PN Bantul memasuki babak baru. Tergugat menyampaikan jawaban sekaligus mengajukan gugatan.
Kraton Yogyakarta dan Dispetaru DIY saat menjelaskan agenda pensrn tanah kasultanan 2024 di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Kamis (7/11/2024)./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat bersama Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetaru) DIY bakal menggelar Pameran Tanah Kasultanan 2024 pada 14-16 November 2024 di Kagungan Dalem Sasono Hinggil Dwi Abad.
Carik KHP Datu Dana Suyasa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KMT Yudha Wijaya mengatakan, pameran ini mengambil tema Tales of the Land We Live in: Sultanaatgrond Exhibition yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada masyarakat mengenai sejarah, pengelolaan, dan pemanfaatan Tanah Kasultanan. "Ini merupakan acara puncak yang sebelumnya sudah didahului dengan berbagai agenda tentang tanah kasultanan," kata dia di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Kamis (7/11/2024).
Dalam pameran itu nantinya disuguhkan soal sejarah dan asal usul tanah Sultan Grond (SG) mulai dari Perjanjian Giyanti, Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5/1960 dan era UU No. 13/2012 tentang Keistimewaan DIY.
"Kami ingin memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana cara memanfaatkan tanah kasultanan sesuai dengan aturan yang berlaku serta memberikan informasi secara proporsional progres pengelolaan tanah SG," jelasnya.
BACA JUGA: Eko Suwanto: Sultan Grond dan Pakualaman Grond untuk Kesejahteraan Masyarakat
Kepala Bidang Penatausahaan dan Pengendalian Pertanahan Dispetaru DIY Moh. Qayyim Autad mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama pameran ini adalah untuk meluruskan persepsi masyarakat yang selama ini menganggap bahwa Tanah Kasultanan hanya dimanfaatkan oleh pihak tertentu.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pemanfaatan Tanah Kasultanan ini sangatlah luas dan berkontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Dalam pameran ini, masyarakat akan disajikan berbagai informasi menarik mengenai sejarah Tanah Kasultanan sejak masa Perjanjian Giyanti hingga saat ini. Selain itu, pengunjung juga dapat mengetahui berbagai regulasi yang mengatur pengelolaan Tanah Kasultanan.
“Meskipun terdapat dualisme politik terkait pengelolaan tanah di DIY yakni UUPA dan Undang-Undang Keistimewaan, kami ingin menegaskan bahwa Tanah Kasultanan sepenuhnya diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sidang gugatan PMH terkait pengalihan kepemilikan CV Art Fashion di PN Bantul memasuki babak baru. Tergugat menyampaikan jawaban sekaligus mengajukan gugatan.
Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Sumenep menewaskan lima orang. Sebanyak 232 korban berhasil dievakuasi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 3 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
Oknum anggota Polres Tanjab Timur, Bripka SO, dipatsus usai video dirinya berada di arena judi sabung ayam viral. Kasus masih didalami Propam.
Menpar Widiyanti menilai desainer berperan penting memperkenalkan budaya Indonesia melalui wastra sekaligus mendorong shopping tourism.
Bumkal Sumberharjo Sleman sukses memanen melon premium di tanah kas kalurahan. Pemkab Sleman menilai inovasi ini berpotensi meningkatkan ekonomi desa.