Rumah Sempat Digeledah, Bobby Adhityo Rizaldi Datangi Gedung KPK
Anggota V BPK RI Bobby Adhityo Rizaldi memenuhi panggilan KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan suap pengondisian hasil audit BPK di Kabupaten Muara Enim.
Truk terjebak lahar hujan di sungai Boyong, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kamis (3/2/2022)/Ist BPBD Sleman
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY meminta masyarakat mewaspadai potensi bencana banjir lahar hujan dari Gunung Merapi selama musim hujan.
"Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas berada di seputar aliran sungai berhulu Merapi yang perlu diwaspadai adalah banjir lahar hujan," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad di Yogyakarta, Selasa.
Menurut Noviar, curah hujan yang tinggi bisa meningkatkan volume air di puncak Gunung Merapi, sehingga berpotensi memicu banjir lahar hujan apabila bercampur dengan endapan material vulkanik.
Karena itu potensi aliran lahar hujan di sejumlah sungai berhulu Gunung Merapi seperti Sungai Gendol, Bedog, Bebeng, serta Boyong, perlu diwaspadai.
Berdasarkan laporan terakhir, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat volume material kubah barat daya Merapi masih mengalami pertumbuhan terukur sebesar 3.177.100 meter kubik, sedangkan untuk kubah tengah masih tetap sebesar 2.361.800 meter kubik.
BACA JUGA: Bantul Berlakukan Status Siaga Banjir dan Longsor hingga 31 Desember 2024
Untuk mengantisipasi banjir lahar hujan dari puncak Merapi tersebut, menurut Noviar, BPBD DIY memastikan seluruh perangkat Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini otomatis di sejumlah sungai dalam kondisi aktif.
Pihaknya juga telah membentuk dan menyebar Satuan Tugas (Satgas) Siaga Bencana Hidrometeorologi yang siap melakukan penanganan darurat kala terjadi banjir di sejumlah wilayah.
"Potensi bencana longsor itu ada di kawasan Kabupaten Kulon Progo, sebagian di Bantul, dan juga Gunungkidul," ujar dia.
Sebelumnya Pemda DIY telah memperpanjang Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, meliputi bencana banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, dengan mengacu peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 2 Januari 2025.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengemukakan puncak musim hujan di DIY diprediksi terjadi pada Desember 2024 dan Februari 2025.
Sementara untuk akhir musim hujan diprediksi pada Mei dasarian I hingga dasarian II tahun 2025.
Saat tiba puncak musim hujan, Reni mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang agar melakukan mitigasi mandiri sejak dini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Anggota V BPK RI Bobby Adhityo Rizaldi memenuhi panggilan KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan suap pengondisian hasil audit BPK di Kabupaten Muara Enim.
BPS Kota Jogja menyatakan Sensus Ekonomi berjalan lancar tanpa penolakan. Pendataan mencakup usaha, pendapatan, aset, hingga ekonomi digital.
Kemenkes mencatat 59,6 juta peserta CKG hingga 5 Juli 2026. Program kini fokus pada pengobatan hipertensi dan diabetes melitus.
DPMKP2KB Gunungkidul mencatat 24 lurah petahana berpeluang maju di Pilur 2026. Pendaftaran bakal calon berlangsung 13-23 Juli 2026.
Badai dahsyat di Prancis menyebabkan 13.000 rumah masih mengalami pemadaman listrik, merusak permukiman, dan mengganggu transportasi.
KA Bandara YIA PSO melayani 865.187 penumpang sepanjang Januari-Juni 2026, didukung konektivitas antarmoda yang semakin terintegrasi.