Industri Alas Kaki RI Tertekan pada Agustus 2026, Ini Penyebabnya
Industri alas kaki kontraksi pada Agustus 2026. Kemenperin mengungkap penyebabnya, mulai dari permintaan ekspor hingga konsumsi domestik yang melambat.
Truk terjebak lahar hujan di sungai Boyong, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kamis (3/2/2022)/Ist BPBD Sleman
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY meminta masyarakat mewaspadai potensi bencana banjir lahar hujan dari Gunung Merapi selama musim hujan.
"Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas berada di seputar aliran sungai berhulu Merapi yang perlu diwaspadai adalah banjir lahar hujan," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad di Yogyakarta, Selasa.
Menurut Noviar, curah hujan yang tinggi bisa meningkatkan volume air di puncak Gunung Merapi, sehingga berpotensi memicu banjir lahar hujan apabila bercampur dengan endapan material vulkanik.
Karena itu potensi aliran lahar hujan di sejumlah sungai berhulu Gunung Merapi seperti Sungai Gendol, Bedog, Bebeng, serta Boyong, perlu diwaspadai.
Berdasarkan laporan terakhir, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat volume material kubah barat daya Merapi masih mengalami pertumbuhan terukur sebesar 3.177.100 meter kubik, sedangkan untuk kubah tengah masih tetap sebesar 2.361.800 meter kubik.
BACA JUGA: Bantul Berlakukan Status Siaga Banjir dan Longsor hingga 31 Desember 2024
Untuk mengantisipasi banjir lahar hujan dari puncak Merapi tersebut, menurut Noviar, BPBD DIY memastikan seluruh perangkat Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini otomatis di sejumlah sungai dalam kondisi aktif.
Pihaknya juga telah membentuk dan menyebar Satuan Tugas (Satgas) Siaga Bencana Hidrometeorologi yang siap melakukan penanganan darurat kala terjadi banjir di sejumlah wilayah.
"Potensi bencana longsor itu ada di kawasan Kabupaten Kulon Progo, sebagian di Bantul, dan juga Gunungkidul," ujar dia.
Sebelumnya Pemda DIY telah memperpanjang Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, meliputi bencana banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, dengan mengacu peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 2 Januari 2025.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengemukakan puncak musim hujan di DIY diprediksi terjadi pada Desember 2024 dan Februari 2025.
Sementara untuk akhir musim hujan diprediksi pada Mei dasarian I hingga dasarian II tahun 2025.
Saat tiba puncak musim hujan, Reni mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang agar melakukan mitigasi mandiri sejak dini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Industri alas kaki kontraksi pada Agustus 2026. Kemenperin mengungkap penyebabnya, mulai dari permintaan ekspor hingga konsumsi domestik yang melambat.
Lionel Messi resmi pensiun dari Timnas Argentina setelah lebih dari 20 tahun. Ia meninggalkan La Albiceleste dengan sejumlah gelar bergengsi
APPI mencatat 28 klub Liga 1 hingga Liga 4 menunggak gaji 303 pemain dengan total kewajiban mencapai sekitar Rp14,8 miliar.
Stasiun Yogyakarta menyiapkan hub antarmoda di sisi selatan untuk menghubungkan kereta api dengan Trans Jogja hingga transportasi daring.
Layanan KOMEN memudahkan pelaku koperasi dan warga Jogja menyampaikan konsultasi, masukan, dan aduan tanpa datang ke kantor dinas.
Kuota Pertalite 2026 berisiko jebol hingga 490.000 KL. Bahlil memastikan harga BBM subsidi tidak naik sampai Desember 2026.