Dugaan Pencemaran Pantai Cangkring Bantul, DLH Ambil Sampel Air dan Tunggu Hasil Lab
DLH Bantul mengambil sampel air Pantai Cangkring terkait dugaan pencemaran limbah tambak udang. Hasil uji laboratorium diperkirakan 10 hari.
Suasana pameran dengan tema Menelisik Batik, Merawat Riwayat yang digelar di Hall Pintu Timur Stasiun Jogja, Minggu (22/12/2024)./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 bekerja sama dengan Lawasan Batik menyelenggarakan Roadshow Batik dengan tema Menelisik Batik, Merawat Riwayat. Pameran yang berlangsung selama 10 hari mulai 21-31 Desember 2024 di Hall Pintu Timur Stasiun Yogyakarta (Tugu) ini menyajikan perpaduan unik antara sejarah perkeretaapian dengan keindahan batik.
Executive Vice President KAI Daop 6, Bambang Respationo mengungkapkan bahwa pameran ini merupakan upaya untuk mempertemukan dua warisan budaya Indonesia yang kaya, yaitu transportasi kereta api dan batik. “Stasiun Yogyakarta sebagai salah satu stasiun tertua di Indonesia adalah saksi bisu perjalanan budaya dan ekonomi Jogja,” ujarnya, Minggu (22/12/2024).
Pameran ini menampilkan 30 koleksi batik Vorstenlanden yang sarat makna. Motif-motif klasik dengan warna-warna simbolis pada batik ini ternyata memiliki kaitan erat dengan sejarah perkeretaapian di Indonesia.
Jalur kereta api pertama di Indonesia yang menghubungkan Semarang dan Jogja pada 1867 berperan penting dalam pengangkutan hasil bumi, termasuk indigo (nila) yang menjadi salah satu pewarna alami untuk batik.
Selain pameran batik, pengunjung juga dapat menikmati berbagai kegiatan menarik lainnya seperti fashion show batik, nyanting, healing, dan Jogja Walking Tour. Kegiatan-kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya melestarikan batik sebagai warisan budaya dunia.
Ketua I Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI), Laretna T. Adishakti mengapresiasi inisiatif KAI dalam menyelenggarakan pameran ini. Menurutnya, pameran ini bukan hanya sekadar pameran batik, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat identitas bangsa.
"Melalui Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan, kita memahami bagaimana kereta api turut melestarikan dan menyebarluaskan kekayaan budaya ini,” ujarnya.
Kolaborasi antara KAI dan Lawasan Batik ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih mencintai dan melestarikan budaya bangsa. Selain itu, pameran ini juga menjadi bukti stasiun kereta api tidak hanya berfungsi sebagai tempat transit, tetapi juga dapat menjadi ruang publik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DLH Bantul mengambil sampel air Pantai Cangkring terkait dugaan pencemaran limbah tambak udang. Hasil uji laboratorium diperkirakan 10 hari.
Harga bahan bakar pesawat melonjak, AirAsia menaikkan tarif tiket baru 20%-25% atau lebih. Ini alasan tiket lama tak bisa dinaikkan.
Renault 8 Gordini Concept hadir sebagai coupe listrik 270 HP bergaya café racer. Ikon balap 1964 ini tidak diproduksi massal, simak detailnya.
Lansia belum punya akta kelahiran tetap bisa mengurus ke Disdukcapil. Gunakan SPTJM F-2.03 dan F-2.04 bila dokumen hilang.
Poktan Swa Katon Asri Wirobrajan menanam padi dalam ratusan galon bekas. DPRD Kota Jogja menilai inovasi ini layak direplikasi.
Sinopsis film Gak Ada Matinya, kisah Binsar yang berharap uang asuransi ayahnya menyelamatkan hidupnya, tetapi semuanya berubah.