Kasus Kebakaran di Bantul Melonjak, Karhutla Mendominasi selama September

Yosef Leon
Yosef Leon Kamis, 24 September 2026 15:37 WIB
Kasus Kebakaran di Bantul Melonjak, Karhutla Mendominasi selama September

Ilustrasi, petugas berusaha memadamkan api di lahan yang terbakar./Dok. KLH

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus kebakaran di Kabupaten Bantul mengalami lonjakan sepanjang September 2026. Hingga 21 September 2026, jumlah peristiwa kebakaran secara kumulatif sejak awal tahun mencapai 326 kejadian, atau bertambah 77 kasus dibandingkan data per 26 Agustus 2026 yang tercatat sebanyak 249 kejadian.

Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Damkarmat BPBD) Kabupaten Bantul menunjukkan kasus kebakaran lahan menjadi penyumbang terbesar kenaikan dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Sepanjang rentang akhir Agustus hingga 21 September 2026, jumlah kebakaran lahan meningkat dari 100 kejadian menjadi 156 kejadian. Artinya, terdapat tambahan 56 kasus kebakaran lahan dalam periode tersebut.

Kelalaian Manusia Jadi Pemicu Utama

Kepala Bidang Damkarmat BPBD Bantul, Kristanto Kurniawan mengatakan kenaikan kasus kebakaran pada September dipengaruhi sejumlah faktor. Kelalaian manusia menjadi faktor utama, sementara kondisi cuaca kering pada puncak musim kemarau turut meningkatkan risiko kebakaran.

"Jika ditinjau dari penyebabnya, kelalaian manusia masih menempati urutan teratas, diikuti oleh gangguan korsleting listrik," ujar Kristanto, Kamis (24/9/2026).

Berdasarkan data penyebab kebakaran, kasus yang bersumber dari kelalaian manusia meningkat cukup tajam. Dari 88 kasus pada akhir Agustus, jumlahnya bertambah menjadi 149 kasus pada pertengahan September.

Sementara itu, kebakaran yang dipicu korsleting listrik juga mengalami kenaikan. Jumlahnya bertambah dari 58 kejadian menjadi 66 kejadian.

Kondisi tersebut menunjukkan risiko kebakaran meningkat seiring dengan kondisi lingkungan yang semakin kering. Kebakaran lahan menjadi perhatian karena vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar.

Kasihan Catat Kebakaran Tertinggi

Berdasarkan pemetaan wilayah, Kapanewon Kasihan menjadi wilayah dengan jumlah kebakaran tertinggi secara keseluruhan. Hingga periode pendataan, Kasihan mencatat 43 kejadian, meningkat dari 33 kejadian pada Agustus.

Banguntapan berada di posisi berikutnya dengan 41 kejadian. Sementara Imogiri mencatat 37 kejadian kebakaran.

Namun, apabila dilihat secara khusus berdasarkan kategori kebakaran lahan, wilayah perbukitan menjadi kawasan yang paling rentan. Kapanewon Imogiri mencatat jumlah karhutla tertinggi dengan 28 kejadian.

Piyungan menyusul dengan 20 kejadian, sedangkan Kasihan mencatat 18 kejadian kebakaran lahan. Kondisi wilayah dan cuaca kering menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran di kawasan tersebut.

Damkarmat Hadapi Kendala Topografi

Kristanto mengatakan penanganan kebakaran hutan dan lahan di lapangan tidak selalu mudah. Salah satu kendala yang dihadapi petugas adalah kondisi topografi wilayah perbukitan yang menyulitkan armada pemadam untuk menjangkau lokasi kebakaran.

Selain akses, keterbatasan titik sumber air juga menjadi persoalan, terutama di lokasi-lokasi yang berada dalam kondisi kering. Situasi tersebut dapat menyulitkan proses pemadaman ketika kebakaran terjadi di kawasan perbukitan.

Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan upaya mitigasi secara mandiri, terutama selama kondisi puncak musim kemarau dengan vegetasi yang mengering.

"Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan mitigasi mandiri dan tidak sekali-kali membakar sampah atau mengolah lahan dengan cara dibakar tanpa pengawasan di tengah kondisi vegetasi yang mengering seperti saat ini," katanya.

Data hingga 21 September 2026 tersebut menunjukkan kebakaran lahan menjadi faktor dominan dalam peningkatan jumlah kasus kebakaran di Bantul. Upaya pencegahan oleh masyarakat menjadi salah satu hal penting untuk menekan risiko kebakaran di tengah kondisi lingkungan yang kering.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online