Ratusan Galon Bekas Disulap Jadi Media Tanam Padi, DPRD Jogja Minta Ditiru

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Senin, 28 September 2026 12:07 WIB
Ratusan Galon Bekas Disulap Jadi Media Tanam Padi, DPRD Jogja Minta Ditiru

DPRD Kota Jogja./Harian Jogja

Harianjogja.com, JOGJA—Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak menghalangi warga untuk mengembangkan pertanian produktif. Di tengah padatnya permukiman Kota Jogja, ratusan galon bekas justru dimanfaatkan sebagai media tanam padi. Inovasi yang dikembangkan Kelompok Tani (Poktan) Swa Katon Asri di Wirobrajan ini mendapat apresiasi dari Ketua DPRD Kota Jogja FX Wisnu Sabdono Putro karena dinilai dapat menjadi contoh penguatan ketahanan pangan di tingkat kampung.

Wisnu menilai kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan ruang yang tersedia menjadi salah satu jawaban atas tantangan pertanian di wilayah perkotaan. Menurutnya, pemanfaatan barang bekas untuk produksi pangan menunjukkan bahwa keterbatasan lahan tidak selalu menjadi penghalang untuk menghasilkan bahan pangan sendiri.

“Pemanfaatan barang-barang bekas seperti galon air mineral sebagai media tanam padi merupakan terobosan yang patut diapresiasi dan dapat dikembangkan di wilayah lain,” kata Wisnu, Senin (28/9/2026).

Menurut dia, model pertanian perkotaan seperti yang dikembangkan warga di Wirobrajan memiliki potensi untuk direplikasi di kampung-kampung lain di Kota Jogja. Selain mendukung produksi pangan, pendekatan tersebut juga memanfaatkan ruang lingkungan yang sebelumnya tidak produktif.

Pertanian Perkotaan di Tengah Keterbatasan Lahan

Wisnu menjelaskan inovasi yang dilakukan Poktan Swa Katon Asri memperlihatkan bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dengan kondisi lahan terbatas. Barang bekas yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kembali memiliki fungsi baru sebagai sarana budi daya tanaman pangan.

Menurutnya, pemanfaatan galon bekas sebagai wadah tanam menjadi contoh kreativitas warga dalam mengembangkan sektor pertanian di kawasan perkotaan. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa produksi pangan tidak selalu harus dilakukan di lahan pertanian yang luas.

Ia menilai praktik tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat di wilayah lain yang menghadapi kondisi serupa, terutama kawasan padat penduduk dengan ketersediaan lahan terbatas.

Tidak Hanya Menanam Padi

Pengembangan pertanian yang dilakukan Poktan Swa Katon Asri tidak hanya berfokus pada tanaman padi.

Dalam satu kawasan, warga juga mengembangkan sistem pertanian terpadu dengan membudidayakan ikan lele serta menanam berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan terong.

Model tersebut dinilai mampu memanfaatkan ruang secara lebih optimal sekaligus menghadirkan beragam sumber pangan bagi masyarakat.

“Harapannya inovasi seperti ini bisa terus dikembangkan dan menjadi bagian dari praktik pertanian perkotaan di tingkat kampung,” ujarnya.

Wisnu mengatakan DPRD Kota Jogja mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan penguatan ketahanan pangan. Menurut dia, keberlanjutan program semacam ini memerlukan pendampingan agar dapat berkembang dan diterapkan di wilayah lain.

Padi Hibrida 32 Segera Panen

Program penanaman padi menggunakan galon bekas di Wirobrajan diketahui telah berjalan sekitar tiga bulan.

Saat ini tanaman yang dibudidayakan warga memasuki fase menjelang panen. Poktan Swa Katon Asri memilih menggunakan varietas padi Hibrida 32 yang memiliki umur panen sekitar 110 hari.

Pengembangan tanaman padi tersebut dilakukan dengan pendampingan dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja.

Selama masa pertumbuhan, pengelolaan air dan perawatan tanaman dilakukan secara rutin untuk menjaga perkembangan tanaman hingga masa panen tiba.

Ratusan galon bekas yang digunakan sebagai wadah tanam menjadi bagian penting dalam sistem pertanian yang dikembangkan warga.

Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Lingkungan

Selain menghasilkan bahan pangan, pemanfaatan galon bekas juga memberikan nilai tambah dari sisi penggunaan kembali barang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

Wisnu menilai langkah tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan ruang terbatas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan saat ini.

Menurutnya, inovasi yang lahir dari masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal sekaligus memperkuat budaya produktif di lingkungan permukiman.

Dengan dukungan pendampingan dan pengembangan yang berkelanjutan, praktik pertanian perkotaan seperti yang dilakukan Poktan Swa Katon Asri di Wirobrajan diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Kota Jogja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online