Polisi Buru Pengemudi Misterius Pemicu Kecelakaan Maut di Monjali
Polisi menyelidiki kecelakaan maut di Jalan Monjali Sleman yang menewaskan lansia. Pengemudi kendaraan misterius masih diburu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati ditemui di posko penanganan keracunan Tempel pada Senin (10/2/2025)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Sampel makanan dari acara pertemuan di Mlati, Sleman diperiksa Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyusul dugaan keracunan yang dialami warga.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati mengatakan kemungkinan dugaan keracunan ini terjadi dari sumber yang sama. "Sumbernya juga kemungkinan dari tempat yang sama dan itu memang sedang mengadakan arisan," kata Yuli pada Senin (10/2/2025).
BACA JUGA: Selain di Tempel, Dugaan Keracunan Massal Terjadi di Mlati, Santap Siomay Usai Pertemuan
Warga yang mengalami gejala keracunan lanjut Yuli bisa mendatangi Puskesmas. Semalam, bahkan petugas berjaga-jaga untuk menangani bila ada warga yang mengalami gejala keracunan. "Jadi waktu tadi malam sih memang jadi ada semacam kayak ya menunggu, berjaga-jaga," ujarnya.
Menurut data sementara, dari 36 orang yang bergejala, tiga orang di antaranya harus diopname. Sementara 17 orang yang sempat diperiksa di fasyankes dipulangkan, tidak menjalani opname.
Saat ini Puskesmas, Dinas Kesehatan maupun padukuhan terus memantau perkembangan situasi dugaan keracunan ini. Warga yang dipulangkan lanjut Yuli juga akan mendapat pendampingan dari tenaga surveilans Puskesmas Mlati 2.
Dijelaskan Yuli sejauh ini warga yang mengalami gejala keracunan merupakan warga di sekitar lokasi kejadian. "Kalau yang itu hanya lingkup warga situ yang sedang mengadakan arisan biasa," tandasnya.
Yuli menjelaskan bila pihaknya juga telah mengambil sampel makanan dari insiden ini. Adapun sampel yang diperiksa yakni sampel dari makanan siomay. "Samplenya juga ada yang sudah dikirim," ujarnya.
Sebelum di Mlati, dugaan kejadian keracunan juga terjadi Tempel. Yuli mengimbau bila makanan terlihat sudah tidak enak untuk tidak dikonsumsi.
"Intinya memang kalau sudah enggak enak ya jangan dimakan, tapi kan kami enggak tahu kadang-kadang pada saat itu tidak begitu merasakan atau bagaimana tiba-tiba nanti mules dan lain-lain, itu kan setelah efek dari makanan dan itu biasanya terjadi setelah 8 jam ke atas," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi menyelidiki kecelakaan maut di Jalan Monjali Sleman yang menewaskan lansia. Pengemudi kendaraan misterius masih diburu.
Prabowo meminta simulasi baru kenaikan harga minyak untuk menjaga APBN dan harga BBM subsidi tetap stabil hingga akhir 2026.
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
BRI Peduli menggelar kegiatan edukatif Hari Anak Nasional 2026 di enam sekolah penerima Program Ini Sekolahku.
Utang pemerintah melalui SBN mencapai Rp501,2 triliun hingga Juni 2026 atau 62,7% dari target APBN 2026.
Tiga remaja di Sragen menjadi korban curanmor bermodus mengaku petugas Banpol. Pelaku membawa kabur sepeda motor dan ponsel korban.