Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Sapi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari memastikan satu ekor sapi di Padukuhan Sawah, Tileng, Girisubo. Hasil ini mengacu pada uji laboratoriumg yang dilaksanakan oleb BB Vet Wates.
“Sudah keluar pada 15 Februari lalu dan hasilnya positif,” kata Wibawanti, Senin (17/2/2025).
Dia menjelaskan, upaya pencegahan penyebaran penyakit antraks terus telah dilakukan. Salah satunya dengan upaya sterilisasi dengan cairan disinfektan di lokasi temuan kasus. “Begitu hasil keluar, maka langsung dilakukan penyemprotan di kandang ternak di lokasi temuan kasus selama dua hari beruntun,” ujar dia.
Menurut Wibawanti, pencegahan tidak hanya dengan upaya sterilisasi. Pasalnya, juga mengintensifkan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat.
Salah satu fokus sosialisasi menyangkut tentang larangan praktik brandu atau purak. Tradisi ini, sambung dia, dilakukan untuk meringankan warga yang ternaknya mati.
Warga yang lain mengumpulkan uang untuk kemudian mendapatkan daging dari ternak yang disembelih tersebut. “Praktik brandu harus dihentikan. Secara aturan juga sudah dilarang dalam Perda No.13/2023 tentang Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan,” katanya.
Wibawanti menambahkan, didalam Perda No.13/2023, ada aturan yang mengharuskan hewan yang mati harus dikubur dan bukan disembelih untuk kemudian dagingnya dibagi-bagikan. “Paling aman memang dikubur untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit,” katanya.
Disinggung mengenai pengawasan lalu lintas hewan ternak, ia mengakui akan terus berupaya, meski realisasinya juga banyak kendala. Terlebih lagi, sambung dia, lokasi temuan kasus juga tidak jauh dari perbatasan dengan Kabupaten Wonogiri. “Untuk pasar hewan, kami juga akan rutin melakukan pemeriksaan. Kami minta kepada masyarakat untuk tidak membawa hewan ternak ke pasar terlebih dahulu,” katanya.
BACA JUGA: Suspek Antraks Ditemukan di Tileng Girisubo Gunungkidul, Seekor Sapi Dilaporkan Mati
Sebelumnya diberitakan, Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta mengatakan, kasus dugaan antraks di Kalurahan Tileng dilaporkan pada Sabtu (15/2/2025). Tim dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan langsung melakukan penelusuran terkait dengan kasus ini.
Temuan kasus terjadi antara rentang waktu 4-10 Februari 2025. Adapun hasil penelusuran ada tiga ekor sapi dan dua ekor kambing yang diduga terjangkit antraks.
Dilaporkan dari temuan ini ada satu ekor sapi jenis limousin mati karena penyakit tersebut. “Masih terus dilakukan penelusuran. Hasil pemeriksaan, sapi yang mati juga ada proses perpindahan dari lokasi temuan kasus. Tapi, detailnya masih ditelusuri,” kata Sri Suhartanta.
Dia memastikan didalam kasus ini belum diketemukan adanya potensi menular ke manusia. Hingga sekarang diidentifikasi, baru menyerang ternak milik warga di Padukuhan Sawah. “Informasi awal ada dugaan kalau penyebaran terjadi karena lalu lintas ternak dari luar daerah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Blue fire muncul di Kawah Gunung Papandayan. Badan Geologi turun ke lapangan dan mengimbau warga tak beraktivitas dalam radius 500 meter.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.
Kaspersky menemukan situs palsu yang menawarkan iPhone 18 dengan harga fiktif. Pengguna diminta waspada sebelum memasukkan data pribadi.
Ratusan peserta membersihkan Pantai Baru Bantul. Gerindra mendorong kebersihan menjadi budaya untuk mendukung pariwisata dan ekonomi hijau.
Asah Kreativitas Anak Sejak Dini, Alfamart dan Johnson’s Gelar Lomba Mewarnai di Graha Bung Karno Klaten