Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Salah seorang petani di Kalurahan Pangpang sedang menunjukan tanaman padi yang rata dengan tanah akibat cuaca buruk. Selasa (25/2/2025)
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini mulai berdampak di sektor pertanian. Dilaporkan, sejumlah petani di Kalurahan Pampang, Paliyan mengeluh karena padi yang ditanam rata dengan tanah akibat embusan angin kencang.
Salah seorang petani di Padukuhan Polaman, Pampang, Paliyan, Wadiyanto mengatakan, akhir-akhir ini sering terjadi hujan yang disertai angin kencang. Kondisi tersebut berdampak terhadap padi yang ditanamnya karena roboh rata dengan tanah.
“Hujannya deras dengan angin kencang, padi yang siap panen pun pada ambruk semua,” kata Wadiyanto, Selasa (25/2/2025).
Ia berharap peristiwa ini tidak sampai membuat petani rugi dan masih bisa dipanen. Meski demikian, ia mengakui upaya penanganan tidak semudah saat padi tumbuh normal.
“Panen tinggal dua hari, tapi padinya sudah rata dengan tanah. Jadi, butuh tenaga tambahan untuk bisa memanen padi-padi ini,” katanya.
Menurut Wadiyanto, proses pemeliharan tanaman padi berjalan dengan baik karena permasalahan hanya muncul saat akan panen. “Ini dampak dari cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini,” katanya.
Disinggung mengenai area terdampak, ia mengakui lahan milik petani lain juga mengalami hal yang sama. “Kami hanya berharap masih bisa dipanen dan hasilnya juga bagus,” katanya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengaku sudah mendapatkan informasi terkait dengan robohnya tanaman padi milik petani di Kalurahan Pampang, Paliyan. Menurut dia, area terdampak relative kecil dan tanamannya masih dapat dipanen.
“Bukan masalah karena tetap bisa dipanen,” katanya.
Menurut Raharjo, proses panen raya padi di Gunungkidul masih berlangsung. Salah satunya berlokasi di lahan di Kalurahan Siraman, Wonosari.
Hasil pengubinan yang dilakukan, sambung dia, dari hasil panen tersebut mampu menghasilkan seberat 7,47 ton per hektarenya. Ia mengakui hasil panen ini termasuk bagus sehingga harapannya bisa ikut menyejahterakan para petani.
“Panen raya masih akan berlangsung hingga Maret mendatang,” katanya.
Raharjo menambahkan, di masa panen raya ini juga ada kabar bagus karena Bulog sudah membeli gabah milik petani Gunungkidul. “Sudah ada penyerapan gabah dari petani. Untuk harganya Rp6.500 per kilogram,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.
Kaspersky menemukan situs palsu yang menawarkan iPhone 18 dengan harga fiktif. Pengguna diminta waspada sebelum memasukkan data pribadi.
Ratusan peserta membersihkan Pantai Baru Bantul. Gerindra mendorong kebersihan menjadi budaya untuk mendukung pariwisata dan ekonomi hijau.
Asah Kreativitas Anak Sejak Dini, Alfamart dan Johnson’s Gelar Lomba Mewarnai di Graha Bung Karno Klaten
Polres Wonosobo menggelar patroli skala besar pada malam libur untuk mengantisipasi balap liar dan berbagai potensi gangguan kamtibmas.