Petugas Damkar Gunungkidul Pingsan di Jalan, Dirawat Intensif
Petugas Damkar Gunungkidul pingsan di Alun-Alun Wonosari usai piket malam, kini dirawat intensif dan belum sadarkan diri.
ILustrasi kekerasan anak/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gunungkidul mencatat di dua bulan pertama 2025 ada 29 kasus kekerasan melibatkan anak dan perempuan. Upaya pencegahan akan terus dilakukan, salah satunya membentuk safe house seperti yang digagas Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.
Sekretaris Dinas Sosial P3A Gunungkidul, Nurudin Araniri mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bumi Handayani masih tinggi. Sebagai gambaran di Januari hingga Februari 2025 sudah ada laporan sebanyak 29 kasus.
Jumlah ini terdiri dari kekerasan terhadap perempuan sebanyak 11 kasus, tujuh kasus kekerasan pada anak perempuan. Sedangkan, 11 kasus lainnya merupakan kekerasan terhadap anak laki-laki.
“Kasus kekerasan pada perempuan dan anak merupakan fenomena gunung es karena datanya hanya terlihat di permukaan. Rata-rata korban banyak yang enggan melaporkan,” kata Nurudin kepada wartawan, Rabu (5/3/2025).
Ia berharap jumlah kasus bisa terus ditekan. Pasal, di 2024 lalu tercatat ada laporan sebanyak 130 kasus. Rinciannya, ada 52 kasus kekerasan terhadap peremupan, kekerasan anak perempuan 55 kasus dan kekerasan terhadap anak laki-laki sebanyak 22 kasus.
“Sebenarnya tidak hanya anak-anak dan perempuan yang jadi korban karena lelaki dewasa juga ada. Tahun lalu ada satu kasus yang dilaporkan dengan korban lelaki dewasa,” katanya.
BACA JUGA: Kakao Gunungkidul Didaftarkan Sebagai Indikasi Geografis ke Kemenkum
Menurut dia, banyak faktor yang membuat terjadinya tindak kekerasan. Untuk korban perempuan atau lelaki desa, didominasi karena masalah ekonomi.
Hal berbeda yang terjadi pada anak-anak karena lebih disebabkan karena faktor di media sosial, kurangnya perhatian orang tua hingga salah pergaulan. “Tindak kekerasan ini harus dicegah agar kasusnya semakin bisa ditekan,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi salah satu fokus yang akan ditangani. Oleh karena itu, dirinya sudah menyiapkan program Safe House untuk mengakomodasi para korban, khususnya kalangan perempuan dan anak.
“Para korban ini harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan dijamin kerahasiannya,” katanya.
Diharapakan dengan program ini, maka upaya memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bumi Handayani bisa dioptimalkan. “Kami akan manfaatkan elemen yang dimiliki untuk memaksimalkan dalam upaya pencegahan sehingga kasusnya dapat semakin ditekan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Petugas Damkar Gunungkidul pingsan di Alun-Alun Wonosari usai piket malam, kini dirawat intensif dan belum sadarkan diri.
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Transformasi ekonomi di DIY dan Jawa Tengah dinilai tidak sepenuhnya menggeser akar budaya lokal.
Jelang Iduladha 2026, Dispertapang Kulonprogo perketat pengawasan hewan kurban. PMK nol kasus, namun ancaman penyakit lain tetap diwaspadai.
PN Tipikor Bengkulu vonis bebas 4 terdakwa kasus korupsi lahan tol. Hakim sebut tidak ada unsur melawan hukum.
Simak jadwal lengkap SPMB SMA/SMK DIY 2026, kuota jalur, hingga tahapan pendaftaran. Pastikan tidak terlewat!