Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Wisatawan berjalan di kawasan Malioboro, Kamis (13/3/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Industri hotel di DIY mengalami masa paceklik akibat efisiensi anggaran oleh pemerintah, sehingga menurunkan okupansi dari sisi Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE). Diharapkan hotel bisa mengalihkan segmen MICE ke swasta.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Partandi, menjelaskan industri perhotelan di DIY disokong oleh dua segmen, yakni swasta dan pemerintahan. “60 persen dari pemerintahan, 40 persen dari swasta,” ujarnya, Kamis (13/3/2025).
Dengan adanya efisiensi anggaran, presentase segmen dari pemerintahan turun drastis karena tidak ada lagi acara-acara seremonial dan pengurangan kunjungan kerja (kunker). Segmen pemerintahan tidak mampu lagi mendominasi penyokong MICE.
BACA JUGA: Pemerintah Berikan Insentif Diskon PPN 6 Persen untuk Pesawat Ekonomi
Maka industri perhotelan perlu melakukan re-design untuk membalik presentase dua segmen di atas, menjadi swasta 60% dan pemerintahan 40%. “Segmen swasta dinaikkan dari 40 persen ke angka optimal yang bisa kita dapatkan,” katanya.
Untuk upaya ini, diperlukan kerja sama antara pelaku industri dengan pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait. Meski demikian, dukungan dari Dinas Pariwisata DIY ia akui tidak bisa banyak dalam bentuk pendanaan atau penganggaran khusus. “Karena anggaran untuk publikasi dan promosi dananya juga dibatasi,” ungkapnya.
Maka pihaknya mengupayakan dukungan promosi melalui media yang sudah ada seperti sosial media dan media mainstream. “Melalui sosial media dan media masa, bahwa DIY ini adalah tempat penyelenggaraan MICE yang sudah berpengalaman untuk kegiatan-kegiatan itu,” ujarnya.
BACA JUGA: Dampak Efesiensi Anggaran, Pelaku Wisata di DIY Bidik Potensi Wisata Insentif
Mass Tourism dan Quality Tourism Berjalan Bersamaan
Dalam situasi saat ini, ia menegaskan Dinas Pariwisata DIY tidak lagi memisahkan antara mass tourism dan quality tourism. “Artinya quality tourism kami pandang sebagaimana kami menyiapkan destinasi wisata yang qualified,” paparnya.
Sehingga berapapun wisatawan yang datang ke DIY bisa dilayani dengan baik. Dengan menetapkan destinasi yang qualified, pengelola juga harus mempertimbangkan daya dukung yang ada. “Betul-betul melihat daya dukung lingkungan untuk kunjungan yang bisa dia terima. Maka pembatasan akan secara alami,” ungkapnya.
Ketika memasuki masa liburan yang diperkirakan akan banyak wisatawan datang, setiap destinasi akan memprioritaskan wisatawan yang sudah memesan duluan. “Jadi ada jadwal untuk rombongan, sehingga rombongan bisa memilih kapan bisa mengunjungi itu, sehingga tempat itu tidak terlalu crowded dan tetap nyaman bagi wisatawan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Imigrasi Tangerang tangkap 19 WNA pelaku love scamming di apartemen Teluknaga, diduga sindikat internasional dari Kamboja.
Nadiem Makarim dituntut 18 tahun dalam kasus Chromebook. Kuasa hukum optimistis bebas, pleidoi dijadwalkan awal Juni.
PAD wisata Gunungkidul sudah 72% hingga Mei 2026. Pantai Drini dan Sepanjang jadi penyumbang terbesar, target diprediksi tercapai Juni.
Jemaah haji Indonesia Muhammad Firdaus Ahlan hilang di Makkah. PPIH lakukan pencarian intensif dan gandeng polisi Saudi.
Fabio Di Giannantonio juara MotoGP Catalunya 2026 usai balapan penuh drama. VR46 kian kuat, peluang juara dunia terbuka.