Kerap Mencuri, Remaja di Bantul Dibina di Sentra Antasena Magelang
Remaja 15 tahun di Bantul yang kerap mencuri sempat bersembunyi di plafon rumah saat dijemput untuk rehabilitasi. Setelah dibujuk, ia akhirnya menjalani pembina
Foto ilustrasi sel virus. /Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, penyakit yang bersumber dari hewan pengerat dan memiliki kemiripan dengan leptospirosis. Meski hingga kini belum ditemukan kasus di wilayah setempat, potensi penularannya tetap harus menjadi perhatian.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto menjelaskan, hantavirus termasuk dalam kategori penyakit new emergencies, yakni penyakit dengan pola kemunculan yang jarang tetapi berisiko tinggi.
“Penyebabnya sama seperti leptospirosis, yaitu dari tikus atau hewan pengerat lainnya. Bedanya, hantavirus menyebabkan pembengkakan pada organ pernapasan, sehingga penderitanya bisa mengalami sesak napas,” ujar Samsu, Kamis (10/4/2025).
BACA JUGA: Penularan Leptospirosis Marak, Dinas Kesehatan Jogja Minta Warga Waspada
Gejala awal yang muncul umumnya berupa demam dan tubuh terasa lemas. Jika mendapati kondisi demikian, Samsu meminta masyarakat untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat agar bisa didiagnosis dan ditangani lebih awal. “Kami sudah menyiapkan layanan deteksi dini di Puskesmas dan rumah sakit. Pengobatannya juga sudah tersedia,” ujarnya.
Sebagai langkah preventif, Samsu menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan sepatu saat beraktivitas di area kebun, gudang, atau tempat yang jarang disambangi.
Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widiyantara menyebut, pencegahan terhadap hantavirus perlu dimulai dari pengendalian populasi rodensia (tikus) serta mencegah kontak langsung dengan urin, tinja, air liur, dan tempat bersarang hewan pengerat tersebut.
“Menutup lubang di rumah, memasang perangkap tikus, dan melindungi makanan dengan wadah tertutup adalah langkah sederhana yang bisa mencegah risiko paparan,” kata Agus.
BACA JUGA: Musim Penghujan Masih Berlangsung, Masyarakat Diimbau Waspada Leptospirosis
Masyarakat juga diminta untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai fondasi utama untuk mencegah berbagai penyakit menular berbasis lingkungan, termasuk hantavirus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Remaja 15 tahun di Bantul yang kerap mencuri sempat bersembunyi di plafon rumah saat dijemput untuk rehabilitasi. Setelah dibujuk, ia akhirnya menjalani pembina
Umbulharjo menjadi percontohan pengelolaan sampah organik di Jogja. Warga dilatih mengolah sisa dapur dengan metode Losida Vermicompos.
Psikolog menegaskan perlindungan anak harus melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak tidak menjadi korban kesalahan orang dewasa.
UAD menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada mahasiswa ACR terkait kasus kekerasan seksual saat KKN berdasarkan rekomendasi Satgas PPKPT.
Workshop P4GN di Kelurahan Gowongan mengajak warga mengenali gejala awal penyalahgunaan narkoba agar penanganan dan pemulihan bisa dilakukan lebih cepat.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 16 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Tarif tetap Rp8.000 dengan 12 perjalanan setiap hari.