Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Kondisi Depo Tompeyan, Kelurahan Tegalrejo, Kemantren Tegalrejo, belum banyak terisi, Sabtu (12/4/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Empat kelurahan di Kemantren Tegalrejo, Kota Jogja, saat ini sudah menggunakan transporter atau penggerobak untuk pengangkutan sampah dari rumah tangga ke depo. Sebanyak 50 penggerobak dikerahkan untuk pengangkutan ini.
Mantri Pamong Praja Tegalrejo, Antariksa Agus Purnama, menjelaskan empat kelurahan di Kemantren Tegalrjo yakni Kelurahan Tegalrejo, Kricak, Bener dan Karangwaru, sudah mengacu kebijakan baru Wali Kota Jogja untuk menggunakan transporter.
“Lewat transporter dari sampah rumah tangga dipilah kemudian dibawa transporter ke depo. Mulai 1 April pembuangan sampah mandiri tidak diperkenankan di depo. Kami menggunakan Depo Tompeyan, untuk empat kelurahan plus satu Kelurahan Cokrodiningratan dari Jetis,” katanya, Sabtu (12/4/2025).
Untuk mengakomodasi empat kelurahan dengan jumlah 46 RW, di Kemantren Tegalrejo saat ini sudah ada sekitar 50 penggerobak yang semuanya sudah terdata. “Minimal satu RW satu penggerobak. Kami sudah melebihi, sehingga sudah cukup,” ungkapnya.
Pengangkutan sampah oleh penggerobak menggunakan sistem gotong royong. Penggerobak diberi honor oleh pengurus RW dari hasil iuran warga.
“Tapi sifatnya tidak sama, kalau yang mampu membayar lebih, kalau yang tidak mampu membayar lebih kecil atau bahkan dibebaskan,” katanya.
BACA JUGA: Pemkot Jogja Akan Melibatkan Ribuan Mahasiswa untuk Menangani Sampah
Sampah yang diangkut oleh transporter juga merupakan sampah yang sudah terpilah. Namun karena masih masa transisi, maka beberapa sampah belum dipilah. Pihaknya pun terus menggencarkan edukasi pemilahan sampah kepada warga.
Edukasi ini dilakukan lewat pertemuan-pertemuan warga baik di tingkat kelurahan hingga RW atau bank sampah.
“Warga terus diedukasi untuk melakukan pilah sampah. Dulu kami punya tagline Pilah Sampah Dari Rumah, Omahe Resik Wargane Becik, Malu Kalau Lingkungan Kotor. Itu terus kami sosialisasikan ke masyarakat untuk pemilahan sampah,” katanya.
Sampah yang diangkut juga sudah dikurangi dari total sampah yang dihasilkan. Untuk sampah anorganik, warga bisa bekerja sama dengan bank sampah untuk menjual sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual.
“Kalau yang organik juga kiranya masih bisa dimanfaatkan terlebih dahulu seperti dengan metode biopori, lusida [lubang sisa dapur], magot dan metode-metode lainnya, bisa dioptimalkan dulu. Yang tidak bisa diolah baru diangkut ke depo,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Taeyang BIGBANG merilis album Quintessence setelah 9 tahun, berisi 10 lagu dan kolaborasi global lintas musisi.
xAI meluncurkan Grok Build, AI coding berbasis terminal untuk saingi Claude Code dengan fitur plan mode dan sub-agent.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.