Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Salah seorang petani di Padukuhan Ploso, Giritirto saat melakukan perawatan tanaman bawang merah di lahan yang dimiliki. Senin (28/4/2025). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Kalurahan Giritirto, Purwosari Gunungkidul lebih memilih menanam bawang merah ketimbang tanaman padi. Hal ini tak lepas dari keuntungan yang diperoleh lebih tinggi hingga sepuluh kali lipat.
Lurah Giritirto, Hariyono mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, warganya memilih menanam bawang merah ketimbang padi. Menurut dia, tanaman bawang dinilai lebih prospektif karena memiliki keuntungan yang lebih tinggi.
“Kalau tanam padi, sekali tanam hanya mendapatkan hasil Rp12 juta,” katanya, Senin (28/4/2025).
Kondisi berbeda didapatkan petani di Giritirto saat memanen bawang merah. Pasalnya, sambung Hariyono, pada saat panen bisa mendapatkan hasil mencapai Rp125 juta.
“Yang akan panen [bawang merah] saat ini, sudah ada yang menawar Rp90 juta. Ini jelas lebih prospektif ketimbang menanam padi atau tanaman pangan lainnya dan yang menanam bawang merah juga semakin banyak,” katanya.
Salah seorang warga di Padukuhan Ploso, Giritirto, Purwosari, Kasiyem mengatakan, sudah menanam bawang merah sejak lima tahun lalu. Ia tidak menampik, budidaya ini lebih menguntungkan ketimbang komoditas tanaman pangan, tapi tetap melakukan penanaman padi saat awal musim hujan.
“Setelah panen padi sekali, langsung saya Ganti untuk menanam bawang merah agar mendapatkan untung yang lebih,” katanya.
Kasiyem mengakui di musim tanam perdana bawang merah, menanam benih seberat satu kuintal. Diperkirakan saat panen yang berlangsung awal Mei mampu menghasilkan seberat 60 kuintal.
“Harganya juga bagus karena diperkirakan bisa mendapatkan hasil sekitar Rp60 juta sekali panen,” katanya.
Menurut dia, dari sisi perawatan juga tidak mengalami kesulitan. Meski ada serangan hama seperti ulat dan jamur, namun dengan perawatan secara berkala, hama-hama ini bisa tertangani sehingga tanaman bawang merah dapat tumbuh subur.
“Kalau serangan hama, saya tanggulangi dengan penyemportan pupuk rutin dua hari sekali,” katanya.
Disinggung mengenai biaya untuk perawatan, Kasiyem mengungkapkan hingga memasuki masa panen membutuhkan biaya operasional sekitar Rp6 juta. “Masih ada untung dan lebih menguntungkan ketimbang ketimbang menanam padi atau lainnya. Jadi, pasti setiap tahun terus menanam bawang merah guna memeroleh penghasilan yang lebih,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Cek jadwal KRL Palur-Jogja Rabu 19 Agustus 2026, lengkap dari Stasiun Palur hingga Stasiun Yogyakarta.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 19 Agustus 2026 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur, lengkap dengan waktu di setiap stasiun.
Pascagempa NTT, 32 dari 33 titik longsoran telah ditangani. BNPB mencatat 68 orang meninggal dan 213 lainnya luka-luka.
SAC menggelar pameran 150 lukisan untuk merayakan HUT RI ke-81 sekaligus merespons dinamika global dan memperkuat pesan perdamaian.
Menkeu Purbaya memastikan pengalihan status guru PPPK menjadi pegawai pusat tak mengganggu fiskal. Defisit RAPBN 2027 tetap 2,40%.