Bulan Dana PMI Gunungkidul 2026 Targetkan Rp600 Juta untuk Aksi Sosial
PMI Gunungkidul menargetkan donasi Rp600 juta dalam Bulan Dana PMI 2026 untuk mendukung donor darah, kebencanaan, dan berbagai aksi sosial.
Mobil tangki air milik BPBD Gunungkidul saat meyalurkan bantuan kepada warga di Dusun Kwarasan Kulon, Kedungkeris, Nglipar. foto diambil beberapa waktu lalu. /Ist- dok BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menyediakan bantuan sebanyak 1.500 tangki air bersih yang siap disalurkan di 2025. Pagu ini tak lepas dari prediksi menyatakan wilayah Bumi Handayani memasuki musim kemarau di akhir Mei ini.
Kepala Bidang Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, jawatannya terus melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dengan perkembangan cuaca dan musim. Diprediksi mulai akhir Mei di wilayah Gunungkidul memasuki musim kemarau.
Sama seperti dengan antisipasi dan penanganan di tahun-tahun sebelumnya, BPBD dalam waktu dekat akan mengumpulkan perwakilan dari kapanewon. Adapun tujuannya, guna membahas antisipasi kemarau di tahun ini.
BACA JUGA: 53.000 Warga Gunungkidul Kekurangan Air Bersih
“Koordinasi ini penting untuk memetakan potensi rawan kekeringan di setiap kapanewon,” katanya, Senin (5/5/2025).
Sumadi menjelaskan, BPBD sudah melakukan antisipasi dengan mengalokasikan anggaran untuk droping air bersih sebanyak 1.500 tangki. Pagu ini akan diberikan kepada Masyarakat yang mengalami krisis air saat kemarau.
“Tentunya bantuan disalurkan saat ada permintaan resmi,” ungkapnya.
Selain alokasi yang dipersiapkan oleh BPBD, ia menyatakan sejumlah kapanewon juga memiliki anggaran droping sendiri. Hanya saja, ia belum mengetahui besaran pasti yang dimiliki untuk penyaluran air bersih secara swadaya di kapanewon.
“Nanti saat koordinasi akan diketahui berapa anggaran pastinya. Yang jelas, kalau ada kekurangan kami siap membantunya,” kata Sumadi.
Menghadapi masa kemarau ini, BPBD juga meminta kepada petani untuk mulai bersiap menghadapi masa kemarau. Agar, ketersediaan air untuk sawah dan ladang perlu diperhatikan sejak dini guna mencegah gagal panen.
“Sistem irigasi atau pompa air perlu disiapkan, terutama di wilayah yang lebih dulu terdampak kemarau,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, akan melakukan pemetaan lokasi-lokasi rawan kekeringan. Seperti pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, potensi kekeringan hampir merata di seluruh kapanewon.
“Tentu dengan adanya pemetaan, maka dijadikan dasar untuk penanganan. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran di Masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Ia juga berpesan, dampak kemarau tidak hanya menyebabkan krisis air. Pasalnya, potensi kebakaran juga meningkat sehingga Masyarakat diimbau tidak membakar sampah sembarangan yang bisa menimbulkan kebakaran hutan dan lahan.
“Ini harus jadi perhatian bersama untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan di saat musim kemarau. Upaya mitigasi terus dilakukan agar dampak dari bencana bisa ditekan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PMI Gunungkidul menargetkan donasi Rp600 juta dalam Bulan Dana PMI 2026 untuk mendukung donor darah, kebencanaan, dan berbagai aksi sosial.
Danantara membuka pendaftaran Lenders Panel untuk pembiayaan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik hingga 28 Juli 2026.
Dinsos Bantul memperkuat pengawasan dan pembinaan anak jalanan untuk mencegah eksploitasi anak di sejumlah titik rawan.
Pemerintah menyiapkan akses tol untuk Kawasan Industri Kendaraan Nasional di Subang guna mendukung manufaktur kendaraan listrik nasional.
BI dan pemerintah memperkuat GPIPS untuk mengendalikan inflasi pangan dan mengantisipasi dampak El Nino di berbagai wilayah Indonesia.
PGRI menyampaikan persoalan kekurangan guru di DIY hingga pengangkatan guru honorer saat audiensi dengan Wakil Gubernur DIY.