Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Mobil tangki air milik BPBD Gunungkidul saat meyalurkan bantuan kepada warga di Dusun Kwarasan Kulon, Kedungkeris, Nglipar. foto diambil beberapa waktu lalu. /Ist- dok BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menyediakan bantuan sebanyak 1.500 tangki air bersih yang siap disalurkan di 2025. Pagu ini tak lepas dari prediksi menyatakan wilayah Bumi Handayani memasuki musim kemarau di akhir Mei ini.
Kepala Bidang Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, jawatannya terus melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dengan perkembangan cuaca dan musim. Diprediksi mulai akhir Mei di wilayah Gunungkidul memasuki musim kemarau.
Sama seperti dengan antisipasi dan penanganan di tahun-tahun sebelumnya, BPBD dalam waktu dekat akan mengumpulkan perwakilan dari kapanewon. Adapun tujuannya, guna membahas antisipasi kemarau di tahun ini.
BACA JUGA: 53.000 Warga Gunungkidul Kekurangan Air Bersih
“Koordinasi ini penting untuk memetakan potensi rawan kekeringan di setiap kapanewon,” katanya, Senin (5/5/2025).
Sumadi menjelaskan, BPBD sudah melakukan antisipasi dengan mengalokasikan anggaran untuk droping air bersih sebanyak 1.500 tangki. Pagu ini akan diberikan kepada Masyarakat yang mengalami krisis air saat kemarau.
“Tentunya bantuan disalurkan saat ada permintaan resmi,” ungkapnya.
Selain alokasi yang dipersiapkan oleh BPBD, ia menyatakan sejumlah kapanewon juga memiliki anggaran droping sendiri. Hanya saja, ia belum mengetahui besaran pasti yang dimiliki untuk penyaluran air bersih secara swadaya di kapanewon.
“Nanti saat koordinasi akan diketahui berapa anggaran pastinya. Yang jelas, kalau ada kekurangan kami siap membantunya,” kata Sumadi.
Menghadapi masa kemarau ini, BPBD juga meminta kepada petani untuk mulai bersiap menghadapi masa kemarau. Agar, ketersediaan air untuk sawah dan ladang perlu diperhatikan sejak dini guna mencegah gagal panen.
“Sistem irigasi atau pompa air perlu disiapkan, terutama di wilayah yang lebih dulu terdampak kemarau,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, akan melakukan pemetaan lokasi-lokasi rawan kekeringan. Seperti pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, potensi kekeringan hampir merata di seluruh kapanewon.
“Tentu dengan adanya pemetaan, maka dijadikan dasar untuk penanganan. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran di Masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Ia juga berpesan, dampak kemarau tidak hanya menyebabkan krisis air. Pasalnya, potensi kebakaran juga meningkat sehingga Masyarakat diimbau tidak membakar sampah sembarangan yang bisa menimbulkan kebakaran hutan dan lahan.
“Ini harus jadi perhatian bersama untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan di saat musim kemarau. Upaya mitigasi terus dilakukan agar dampak dari bencana bisa ditekan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
29 September 2026 diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional, Hari Jantung Sedunia, hingga Save the Koala Day. Simak enam momen pentingnya.
Prakiraan cuaca DIY Selasa, 29 September 2026: mayoritas cerah berawan, suhu 22–34°C, kelembapan 44–98 persen. Cek rincian per kecamatan.
Pemkab Kulonprogo merotasi sejumlah pejabat dan mengisi jabatan kosong dengan mengoptimalkan manajemen talent pool ASN.
Maarten Paes menyebut suporter menjadi pemain ke-11 Timnas Indonesia saat bermain 10 orang melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul Senin 29 September 2026 tersedia untuk rute Obelix Sea View dan Pantai Drini.