131 Kg Ikan Sapu-sapu Dibasmi di Bantul, Ancam Ikan Lokal
Sebanyak 131 kg ikan sapu-sapu dibasmi di Rawa Kalibayem Bantul untuk menjaga ekosistem dan melindungi ikan lokal dari spesies invasif.
Sri Sultan Hamengku Buwono II. /Kratonjogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Sejarah Sri Sultan Hamengku Buwono II menarik untuk disimak. Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang lahir di lereng Gunung Sindoro ini dikenal sebagai sosok gigih melawan kolonial Belanda dan anti-VOC.
Tak hanya itu, HB II juga melahirkan karya sastra heroik mengandung pesan pertahanan negara hingga meningalkan karya monumental membentuk prajurit dan membangun benteng Baluwarti untuk melindungi Kraton Jogja.
Berdasarkan website Kraton Jogja, sikap anti Belanda dari sosok RM Sundoro semakin terlihat saat dinobatkannya sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono II pada tanggal 2 April 1792. HB II secara tegas menolak permintaan wakil VOC yang menuntut disejajarkan posisi duduknya di setiap acara pertemuan dengan sultan. Sri Sultan Hamengku Buwono II menunjuk sendiri patihnya Tanpa melibatkan VOC untuk menggantikan Danurejo I yang meninggal dunia pada Agustus 1799.
Sri Sultan Hamengku Buwono II juga meninggalkan karya monumental, di antaranya pembentukan satuan keprajuritan yang dilengkapi dengan perlengkapan dan persenjataan, hingga membangun benteng baluwarti yang dilengkapi meriam untuk melindungi kraton dari serangan luar.
Adapun bidang sastra HB II mewariskan karya heroik terdiri atas Babad Nitik Ngayogya dan Babad Mangkubumi. Dua karya babad ini menceritakan perjuangan berdirinya Kraton Ngogyakarta. Juga karya sastra yang bersifat fiksi, lahir berkat beliau, di antaranya Serat Baron Sekender dan Serat Suryaraja.
Oleh karena itulah Yayasan Vasatii Socaning Lokika bersama keluarga trah Sri Sultan Hamengku Buwono II akan menggelar Seminar Nasional bertajuk Merajut Jejak Sang Pemimpin: Perjuangan dan Warisan Sri Sultan Hamengku Buwono II dalam Bingkai Nasionalisme dan Identitas Budaya pada Juli 2025 mendatang.
Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika sekaligus keturunan Sultan HB II, Fajar Bagoes Poetranto mengatakan seminar ini akan mengupas secara mendalam peran Sultan HB II yang bernama asli Raden Mas Sundoro dalam sejarah perjuangan anti-kolonialisme dan pelestarian budaya Jawa.
BACA JUGA: Bantul Diguncang Gempa Magnitudo 1,8 Sebanyak 2 Kali
“Sri Sultan Hamengku Buwono II adalah tokoh sentral dalam sejarah Nusantara. Masa pemerintahannya yang penuh gejolak menjadi pelajaran penting tentang semangat perlawanan dan pelestarian budaya,” ujar Fajar, Jumat (13/6/2025).
Sultan HB II dikenal memimpin Kesultanan Yogyakarta pada periode 1792–1810 dan 1811–1812. Menjadi figur kunci dalam melawan penjajahan Belanda dan mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Namun, namanya masih kurang dikenal luas jika dibandingkan tokoh-tokoh pejuang lainnya.
Pembahasan seminar ini akan melibatkan akademisi lintas bidang, mahasiswa, pelajar, peneliti, dan perwakilan pemerintah seperti Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tujuannya adalah membedah warisan pemikiran Sultan HB II yang masih relevan dalam membangun nasionalisme dan identitas budaya Indonesia masa kini.
“Perjuangan beliau bukan hanya tentang perlawanan fisik, tapi juga soal strategi budaya sebagai benteng identitas bangsa,” ucapnya.
Menurutnya seminar ini juga menjadi bagian dari langkah konkret menuju pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan HB II. Dalam pertemuan dengan keluarga trah HB II di Jakarta, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyatakan dukungan penuh terhadap usulan tersebut.
“Kami sangat mendukung upaya mengenang jasa pahlawan seperti Sultan HB II. Jika syarat-syarat administratif terpenuhi, beliau layak diusulkan sebagai Pahlawan Nasional,” kata Agus.
Ia menilai pentingnya mengenalkan tokoh-tokoh perjuangan kepada generasi muda, terutama Gen Z dan Gen Alpha. “Ini bukan sekadar seremoni. Ini soal menanamkan keberanian, nasionalisme, dan kebanggaan pada sejarah kita sendiri,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 131 kg ikan sapu-sapu dibasmi di Rawa Kalibayem Bantul untuk menjaga ekosistem dan melindungi ikan lokal dari spesies invasif.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.