Siswa SLB Bina Siwi Bantul Juara LKSN 2026, Anas Unggul di Tata Busana
Anas Vianto, siswa SLB Bina Siwi Bantul, meraih juara I LKSN 2026 cabang tata busana setelah menjadi wakil DIY di tingkat nasional.
Lokasi pertanian garam di kawasan Pantai Tanggul Tirto pada Rabu (2/7/2025). Kiki Luqman/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL – Hujan yang masih kerap turun di wilayah Kabupaten Bantul membuat para petani garam mengalami kendala dalam proses produksi.
Curah hujan yang belum mereda menyebabkan proses kristalisasi air laut menjadi lebih lama dari biasanya, seorang petani di pantai Tanggul Tirto bernama Purnama (47) menjelaskan lamanya proses itu memengaruhi waktu panen garam.
“Bulan ini seharusnya sudah masuk musim kemarau, tapi karena masih ada hujan, produksi garam jadi terhambat. Prosesnya jadi lebih lama dan waktunya tidak cukup untuk ngejar produksi lebih cepat,” ujarnya Rabu (2/7/2025).
Untuk mengakali tantangan cuaca ini, para petani mencoba menyiasatinya dengan cara menampung air laut terlebih dahulu dalam kolam-kolam penampungan. Mereka percaya, semakin lama air laut disimpan, maka kualitasnya akan semakin baik karena kadar garamnya meningkat.
Proses pembuatan garam dari awal hingga menghasilkan kristal siap panen biasanya memakan waktu sekitar dua bulan. Namun, dengan strategi penimbunan air terlebih dahulu, petani berharap bisa mempersingkat waktu kristalisasi di tahap akhir.
“Kita simpan air laut di bak paling tidak dua bulan. Semakin lama disimpan, proses pengkristalannya semakin cepat. Airnya istilahnya semakin tua."
“Kita punya enam kolam. Air laut kita tampung dulu, dikumpulkan satu sampai dua bulan, baru setelah itu kita pindahkan ke tanel sekitar satu bulan untuk proses pengeringannya,” jelasnya.
Selain cuaca, persoalan lain yang juga menjadi tantangan utama adalah keterbatasan dalam penggunaan teknologi. Saat ini, mayoritas petani garam di wilayah tersebut masih mengandalkan cara-cara manual tanpa dukungan alat modern.
“Kita belum pakai teknologi sama sekali. Semua masih manual. Air hanya kita endapkan lama, lalu dipindah ke tanel biar kena angin dan matahari. Tapi karena cuaca belum menentu, sulit untuk mengejar produksi maksimal,” katanya.
Dengan kondisi musim hujan yang belum sepenuhnya berlalu dan keterbatasan teknologi yang digunakan, petani garam di Bantul masih harus bekerja ekstra keras untuk menjaga kesinambungan produksi mereka.
Terakhir, Purnama berharap cuaca segera membaik agar proses kristalisasi dapat berjalan lebih optimal dan hasil produksi bisa memenuhi kebutuhan pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anas Vianto, siswa SLB Bina Siwi Bantul, meraih juara I LKSN 2026 cabang tata busana setelah menjadi wakil DIY di tingkat nasional.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.
PSEL Piyungan ditargetkan groundbreaking Desember 2026. Proyek senilai Rp2,5 triliun-Rp3 triliun ini mulai dibangun Januari 2027.
Polisi menyiagakan puluhan personel setelah massa membakar sejumlah kantor pemerintah di Ilaga, Puncak, Papua Tengah.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000.