Usai Dugaan Keracunan MBG, Seluruh Siswa SDN Kowang Pulih
Sebanyak 18 siswa SDN Kowang Bantul yang sempat diduga keracunan MBG kini kembali masuk sekolah setelah kondisi membaik.
Lokasi pertanian garam di kawasan Pantai Tanggul Tirto pada Rabu (2/7/2025). Kiki Luqman/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL – Hujan yang masih kerap turun di wilayah Kabupaten Bantul membuat para petani garam mengalami kendala dalam proses produksi.
Curah hujan yang belum mereda menyebabkan proses kristalisasi air laut menjadi lebih lama dari biasanya, seorang petani di pantai Tanggul Tirto bernama Purnama (47) menjelaskan lamanya proses itu memengaruhi waktu panen garam.
“Bulan ini seharusnya sudah masuk musim kemarau, tapi karena masih ada hujan, produksi garam jadi terhambat. Prosesnya jadi lebih lama dan waktunya tidak cukup untuk ngejar produksi lebih cepat,” ujarnya Rabu (2/7/2025).
Untuk mengakali tantangan cuaca ini, para petani mencoba menyiasatinya dengan cara menampung air laut terlebih dahulu dalam kolam-kolam penampungan. Mereka percaya, semakin lama air laut disimpan, maka kualitasnya akan semakin baik karena kadar garamnya meningkat.
Proses pembuatan garam dari awal hingga menghasilkan kristal siap panen biasanya memakan waktu sekitar dua bulan. Namun, dengan strategi penimbunan air terlebih dahulu, petani berharap bisa mempersingkat waktu kristalisasi di tahap akhir.
“Kita simpan air laut di bak paling tidak dua bulan. Semakin lama disimpan, proses pengkristalannya semakin cepat. Airnya istilahnya semakin tua."
“Kita punya enam kolam. Air laut kita tampung dulu, dikumpulkan satu sampai dua bulan, baru setelah itu kita pindahkan ke tanel sekitar satu bulan untuk proses pengeringannya,” jelasnya.
Selain cuaca, persoalan lain yang juga menjadi tantangan utama adalah keterbatasan dalam penggunaan teknologi. Saat ini, mayoritas petani garam di wilayah tersebut masih mengandalkan cara-cara manual tanpa dukungan alat modern.
“Kita belum pakai teknologi sama sekali. Semua masih manual. Air hanya kita endapkan lama, lalu dipindah ke tanel biar kena angin dan matahari. Tapi karena cuaca belum menentu, sulit untuk mengejar produksi maksimal,” katanya.
Dengan kondisi musim hujan yang belum sepenuhnya berlalu dan keterbatasan teknologi yang digunakan, petani garam di Bantul masih harus bekerja ekstra keras untuk menjaga kesinambungan produksi mereka.
Terakhir, Purnama berharap cuaca segera membaik agar proses kristalisasi dapat berjalan lebih optimal dan hasil produksi bisa memenuhi kebutuhan pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 18 siswa SDN Kowang Bantul yang sempat diduga keracunan MBG kini kembali masuk sekolah setelah kondisi membaik.
Komet C/2025 R3 PANSTARRS muncul di 2026 dan tak kembali selama 170.000 tahun. Fenomena langka yang simpan sejarah Tata Surya.
Derbi PSIM vs PSS kembali di Liga 1 2026. Wali Kota Jogja ingatkan suporter jaga kondusivitas dan hindari bentrokan.
Penjualan tiket KAI tembus 584 ribu saat long weekend Kenaikan Yesus Kristus 2026. Yogyakarta jadi tujuan favorit wisatawan. Simak data lengkapnya.
Kementan pastikan stok hewan kurban 2026 surplus 891 ribu ekor. Pasokan aman, harga terkendali jelang Iduladha.
Prabowo menyaksikan penyerahan Rp10,27 triliun hasil penertiban kawasan hutan. Dana ini bisa renovasi 5.000 puskesmas.