Bank BPD DIY Kembali Gelar Malioboro Run 2026, Angkat Konsep Culture on Track
Bank BPD DIY kembali menggelar Malioboro Run 2026 bertema Culture on Track dengan lebih dari 8.000 peserta dan rute yang melewati sejumlah ikon budaya Jogja
Wahyu Arrozi mesin pilah sampah./ Ist-dok Pemkab
Harianjogja.com, BANTUL - PT Madani Teknology atau Madanitek merupakan perruahaan teknologi tepat guna yang sudah berdiri sejak 2010 lalu.
Dari bengkel sederhana di pojok desa Wirokerten, Banguntapan, kini nama Madanitec dikenal luas sebagai salah satu produsen mesin teknologi tepat guna yang sukses menembus pasar nasional hingga internasional.
Pemilik Madanitek Wahyu Arrozi,yang merupakan alumni Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan PT Madani Technology atau Madanitec bermula dari ide sederhana bagaimana menciptakan mesin yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, terutama dalam hal pengolahan sampah dan produksi skala menengah.
"Awalnya hanya produksi kecil-kecilan di bengkel, kemudian karena melihat potensi marketnya mendukung jadi terus kami kembangkan," tutur Wahyu saat ditemui di workshop mereka di Jalan Gunung Kepuh No. 1, Kepuh Wetan, Bantul.
BACA JUGA: Surat Kekancingan untuk Tol Jogja-Solo Diserahkan Pekan Lalu, Ini Harapan Sri Sultan HB X
Kini, Madanitec memiliki lebih dari 20 karyawan dan telah mengembangkan hampir 200 jenis produk. Salah satu yang paling populer adalah mesin pemilah sampah, yang memiliki delapan varian tergantung kapasitas dan tingkat kehalusan hasil pemilahannya. Wahyu Arrozi menyebut, mesin terbesar bahkan mampu memproses 4 ton sampah per jam, dengan harga mencapai Rp 220 juta.
"Yang paling banyak dicari sekarang mesin pemilah dan mesin press. Tapi tiap tahun beda-beda, tergantung tren dan kebutuhan pasar," ujar Wahyu.
Harga
Pasar Madanitec tidak main-main. Wahyu mengisahkan, produknya telah menjangkau hampir seluruh provinsi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dengan permintaan tertinggi dari wilayah Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Banyak pembelinya datang dari distributor atau makelar yang memasok ke berbagai instansi dan pemerintah.
Sebagai contoh, mesin pemilah dengan ukuran 120 dijual dengan harga Rp 22 juta yang proses produksi satu mesinnya memakan waktu satu hingga dua minggu. “Tapi kalau buat empat sampai lima barang mungkin malah bisa lebih cepat karena bisa kita kerjakan secara paralel,” bebernya.
Tak hanya menjual mesin yang ready stock, Madanitec juga melayani pesanan khusus. Bahkan, mereka pernah membuat mesin ekstraksi curcumin dengan harga mencapai Rp 500 juta.
Wahyu Arrozi menuturkan, rata-rata omzet mereka per bulan berkisar antara Rp 200–300 juta, dan bisa melonjak hingga tiga kali lipat di akhir tahun. Bahkan, produk Madanitec pernah menembus pasar ekspor ke Timor Leste. Hal ini menjadi bukti bahwa inovasi lokal dari Bantul mampu bersaing di pasar internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bantulkab.go.id
Bank BPD DIY kembali menggelar Malioboro Run 2026 bertema Culture on Track dengan lebih dari 8.000 peserta dan rute yang melewati sejumlah ikon budaya Jogja
Cek kategori desil DTSEN untuk usulan PKH, Program Sembako, dan PBI-JK. Simak cara memeriksa serta memperbarui data bansos.
Gempa bermagnitudo 7,0 mengguncang Tibet, China. Sedikitnya 16 orang tewas, 46 luka-luka, dan ratusan rumah roboh.
MotoGP 2027 akan kedatangan lima rookie. Simak nama Daniel Holgado, David Alonso, Senna Agius, Izan Guevara, dan Nicolo Bulega beserta timnya
Mau membeli mobil listrik? Simak 7 hal penting, mulai dari jarak tempuh, fitur keselamatan, pengisian daya, hingga teknologi baterai.
Marc Marquez menjadi yang tercepat pada FP1 MotoGP Australia 2026 di Phillip Island dengan waktu 1 menit 27,985 detik.