Izin Klinik KDMP Tamanmartani Masih Berproses di Dinkes Sleman
KDMP Tamanmartani masih menunggu izin operasional Klinik Pratama dari Dinkes Sleman usai proses visitasi dan evaluasi lapangan.
Ilustrasi. /ANTARA FOTO-Feny Selly
Harianjogja.com, SLEMAN—Daya beli masyarakat yang turun belakangan ini memunculkan fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya tanya (rohana) di pusat perbelanjaan, seperti Sleman City Hall (SCH). General Manager SCH, Sebastianus Jony, justru menganggap rojali dan rohana sebagai berkah bagi SCH.
Jony menjelaskan rojali dan rohana dapat dijadikan strategi marketing untuk menarik pengunjung datang. Keramaian menjadi magnet untuk masyarakat. Pengunjung yang datang memang tidak harus selalu berbelanja.
BACA JUGA: Klasemen Akhir Pekan Ketiga Super League 2025/2026
“Sleman City Hall kami fungsikan sebagai ruang publik juga yang inklusif. Siapapun boleh masuk ke mall. Mau ngadem juga kami persilakan, boleh dengan senang hati,” kata Jony ditemui di SCH, Jumat (22/8/2025).
Kendati demikian, Jony mengaku SCH masih menghadapi kendala terkait jumlah kunjungan. Daya beli masyarakat memang rendah, tapi animo masyarakat untuk berkunjung mulai meningkat. Menurut catatannya, rata-rata pengunjung SCH ketika weekday dalam satu hari bisa mencapai sekitar 14.000 – 15.000 orang. Angka kunjungan akan naik ketika weekend, sekitar 20.000 dengan mengasumsikan situasi kondisi normal, tidak seperti ketika Pandemi Covid-19.
Ketika coronavirus disease merebak menjadi pandemi dan Pemerintah Pusat memberlakukan pembatasan, angka kunjungan di SCH jatuh di bawah 5.000 orang per hari. SCH juga tertatih untuk mengembalikan angka kunjungan sebagaimana sebelum ada Pandemi.
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DIY, Surya Ananta, mengatakan aktivitas berjalan-jalan mengisi waktu luang atau leisure tidak mengalami penurunan belakangan ini. Angka kunjungan mall dan kafe tetap tinggi.
“Kalaupun ada sedikit adjustment [penyesuaian pencocokan] juga tidak menyeluruh. Itu adalah value for money. Orang lebih bijak membelanjakan uangnya. Sekarang kalau benar-benar butuh baru belanja,” kata Surya.
Menurut Surya tidak ada pengurangan biaya belanja masyarakat. Sekali lagi, masyarakat saat ini fokus pada value for money.
Ihwal fenomena rojali dan rohana, pengunjung di mall sejak dulu memang datang tidak selalu berbelanja. Ada yang memang nongkrong bareng. Mungkin saja pengunjung hanya membeli makan dan minum tanpa menenteng barang belanjaan pulang.
“Mau ngadem di mall ya tidak apa-apa. Tenant tinggal buat hal-hal yang sifatnya gimmick dan bisa menewarkan benefit. Ini yang perlu dipacu. Niat awal tidak mau belanja berubah jadi belanja,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KDMP Tamanmartani masih menunggu izin operasional Klinik Pratama dari Dinkes Sleman usai proses visitasi dan evaluasi lapangan.
BNNP DIY mengungkap modus sabu disembunyikan dalam speaker di Bantul. Seorang mahasiswa ditangkap bersama sabu dan tembakau sintetis
Puan Maharani menyebut kehadiran Prabowo di DPR untuk menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 menjadi momentum strategis nasional
BPA Fair Kejaksaan Agung menjual Harley Davidson, BMW, hingga Mercedes hasil rampasan korupsi dengan kenaikan lelang Rp1,65 miliar.
Kemhan siapkan Bandara Kertajati menjadi pusat MRO pesawat Hercules Asia untuk memperkuat industri pertahanan Indonesia
Prabowo ungkap alasan turun langsung menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 di DPR di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.