Ratusan Galon Bekas Disulap Jadi Media Tanam Padi, DPRD Jogja Minta Ditiru
Poktan Swa Katon Asri Wirobrajan menanam padi dalam ratusan galon bekas. DPRD Kota Jogja menilai inovasi ini layak direplikasi.
Embung Langensari, salah satu destinasi wisata di Kalurahan Klitren. Saat ini, wilayah ini disebut sudah jauh lebih bersih dari tumpukan sampah. - Istimewa/Dokumen Kalurahan Klitren
Harianjogja.com, JOGJA—Satpol PP Kota Jogja mendorong pengelolaan sampah organik di Kampung Panca Tertib. Pengolahan sampah organik di sana akan dilakukan dengan memanfaatkan lahan milik Pemkot Jogja maupun warga yang tidak digunakan.
Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Satpol PP Kota Jogja, Suwarna menyebut program pengolahan sampah organik tersebut telah dilakukan di beberapa Kampung Panca Tertib yang ada di Kota Jogja. Di sana, pihaknya melakukan pendampingan terhadap warga yang akan mengolah sampah organik di lahan yang tidak digunakan.
BACA JUGA: Program Waste to Energy di DIY Butuh Lahan di Atas 5 Hektare
“Di setiap Kampung Panca Tertib ada pendamping duta ketertiban. Gerakan kita nanti ada monitor dari rumah ke rumah untuk memantau pengolahan sampah warga,” katanya, Sabtu (13/9/2025).
Dia menuturkan, warga yang telah mengolah sampah organik dengan lodong sisa dapur [losida], biopori, atau ember tumpuk akan didorong untuk melanjutkan pengolahan sampah tersebut. Sementara beberapa warga yang belum mengolah sampah akan didorong untuk mulai mengolah sampah organiknya.
“[Warga] Yang belum [mengolah sampah], dipastikan mulai memilah organik, anorganik, dan residu,” imbuhnya.
Dia menuturkan, pengolahan sampah tersebut diharapkan dapat diintegrasikan dengan penanaman tanaman pangan di kampung setempat dengan memanfaatkan lahan milik Pemkot Jogja maupun warga.
“Di Tompeyan, misalnya, sudah siap menanam pisang raja. Kalau ada lahan kosong kita manfaatkan, kalau tidak, planter bag bisa digunakan,” jelas Suwarna.
Dia menuturkan sampah organik yang telah diolah dengan berbagai metode nantinya, diharapkan dapat dimanfaatkan oleh warga untuk memupuk tanaman pangan yang ada di lahan-lahan milik Pemkot maupun milik warga yang ditanami tanaman pangan.
Selain itu, katanya, pengolahan sampah organik yang telah menjadi pupuk dapat dijual. "Kalau ada nilai ekonomi, harapannya warga semakin semangat melanjutkan,” imbuhnya.
Menurut Suwarna, implementasi pengelolaan sampah organik tersebut sejalan pula dengan program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos). Dia pun berharap agar program tersebut dapat menjadi solusi permasalahan sampah di Kota Jogja.
“Harapan kami, warga yang sudah mengolah sampah organik dapat memanfaatkannya untuk pemupukan tanaman. Dengan begitu, pengolahan sampah dan penanaman pangan bisa berjalan beriringan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Poktan Swa Katon Asri Wirobrajan menanam padi dalam ratusan galon bekas. DPRD Kota Jogja menilai inovasi ini layak direplikasi.
Turis asing bisa mendapatkan tiket Shinkansen gratis ke Kagoshima. Simak syarat, cara klaim, negara peserta, dan periode promonya.
Klasemen Asian Games 2026 berubah setelah Nurisa Dian meraih emas. Indonesia kini mengoleksi 5 emas, 7 perak, dan 20 perunggu.
Gejala influenza A meliputi demam, batuk, lelah, nyeri tubuh hingga sakit tenggorokan. Kenali tanda bahaya dan kapan perlu ke dokter.
Indonesia menghadapi Bangladesh pada laga penentu. Simak syarat Garuda lolos final dan proyeksi poin ranking FIFA jika menang.
Nurisa Dian Ashrifah meraih emas kelima Indonesia di Asian Games 2026 setelah mengalahkan Amaya Amparo 139-137.