56.000 Peserta BPJS Diaktifkan Lagi, Pemkab Gunungkidul Tambah Anggaran
Gunungkidul menambah anggaran BPJS Kesehatan Rp5,5 miliar menjadi Rp47,5 miliar setelah reaktivasi peserta PBI.
Pekerja mengangkut pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia - ist/Antara/PT Pupuk Indonesia
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan pangan Gunungkidul mencatat penyerapan pupuk bersubsidi belum optimal alias masih rendah. Diharapkan para petani segera menebus kebutuhan pupuk ini untuk persiapan tanam di musim hujan mendatang.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, tahun ini mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi jenis urea seberat 17.317 ton, tapi realisasinya hingga akhir Agustus baru 3.227,4 ton.
“Kalau dilihat dari persentase serapan urea baru 18,6 persen dari kuota yang tersedia,” kata Raharjo, Senin (15/9/2025).
Hal yang sama juga terlihat dari serapan pupuk bersubsidi jenis NPK atau phonska. Jumlah alokasi yang diberikan sebanyak 13.251 ton, baru terserap seberat 3.582,3 ton atau prosentasenya sebesar 27%.
BACA JUGA: WJNC Jadi Lomba OPD, Manusia Silver Akan Diedukasi
“Memang masih sedikit, tapi kami yakin seiring dengan memasukinya musim hujan, maka penyerapan akan lebih dioptimalkan,” ungkapnya.
Menurut dia, penebusan pupuk bersubsidi saat sekarang juga lebih mudah. Pasalnya, prosesnya tidak harus menggunakan kartu tani karena dapat menggunakan KTP-el.
Meski demikian, Raharjo menggarisbawahi bahwa tidak semua kartu identitas ini dapat dipergunakan. Hal itu dikarenakan, penebusan hanya bisa dilakukan bagi pemilik KTP-el yang sudah masuk dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) dari Pemerintah Pusat.
“Jadi sudah ada alokasi bagi setiap petani yang memeroleh pupuk dan tinggal menebus di toko yang jadi penyalur,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengimbau kepada para petani untuk segera menebus pupuk bersubsidi yang menjadi jatahnya. Terlebih lagi, kata dia, berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, musim kemarau akan segera berlalu digantikan penghujan.
“Oktober pekan ketiga sudah memasuki musim hujan. Jadi, harus mulai dipersiapkan dari sekarang,” katanya.
Menurut dia, pertanian di Gunungkidul didominasi oleh ladang tadah hujan sehingga ikut berpengaruh terhadap penyerapan pupuk bersubisid. Pasalnya, aktivitas bercocok tanam banyak dilakukan saat musim hujan karena keterbatasan sumber air untuk pemeliharaan.
“Jadi saat musim penghujan penebusan pupuk akan lebih massif, sehingga akan berpengaruh terhadap penyerapan,” katanya.
Risimiyadi mengungkapkan, berdasarkan pemantauan yang dilakukan sudah ada petani di kawasan selatan Gunungkidul mempersiapkan lahannya. Langkah ini dilakukan untuk penyiapan musim tanam di awal penghujann.
“Jadi nanti tinggal menanam. Tapi, kami berharap petani juga segera menebus pupuk yang telah dialokasikan untuk mengoptimalkan hasil pertanian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul menambah anggaran BPJS Kesehatan Rp5,5 miliar menjadi Rp47,5 miliar setelah reaktivasi peserta PBI.
Tim Sparta Polresta Solo mengamankan tujuh muda-mudi yang mengonsumsi ciu sambil bernyanyi di Taman Kampus ISI Solo.
Pemkab Bantul menyiapkan survei berkala untuk mengevaluasi SPPG dan pelaksanaan MBG, termasuk jumlah, distribusi, kemasan, dan waktu konsumsi.
Bulog mengingatkan penerima tidak menjual beras bantuan pemerintah. Bantuan pangan Oktober-Desember 2026 juga direncanakan kembali disalurkan.
Mengenang konser Guruh Gipsy di Synchronize Fest 2025 yang menjadi penampilan pertama dan terakhir Guruh Sukarnoputra bersama personel asli.
Timnas Indonesia menang 2-0 atas Singapura di FIFA ASEAN Cup 2026. Garuda selanjutnya menghadapi Malaysia dan Bangladesh di Grup A.