Jogja Tuan Rumah Kongres HIMPSI 2026, Ini Agendanya
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
Meta Ayu Puspitantri, istri almarhum diplomat Arya Daru Pangayunan (tiga kiri) didampingi keluarga dan penasehat hukum memberikan keterangan kepada wartawan, Sabtu (27/9/2025) (email)
Harianjogja.com, BANTUL—Kasus kematian diplomat Arya Daru Pangayunan (ADP) masih jadi misteri. Istrinya, Meta Ayu Puspitantri, meminta penyelidikan transparan.
Perempuan yang akrab disapa Pita itu menyebut ADP adalah sosok terbaik yang pernah ia kenal dan meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kematian suaminya.
“Sebegitu berharganya Mas Daru bagi saya, bagi anak-anak, orang tua, dan keluarga. Saya sangat meyakini siapa pun yang pernah berinteraksi dengan beliau pasti merasakan ketulusan dan kebaikannya,” ungkap Meta, Sabtu (27/9/2025).
Pita mengenang perjalanan hidupnya bersama ADP sejak kecil. Ia bercerita, hubungannya dengan sang suami sudah terjalin sejak duduk di bangku kelas 5 SD di Jogja. “Kenangan kami bukan hanya saat menikah atau pacaran, tapi sejak kecil. Dari SD, SMP, sampai SMA, selalu ada cerita bersama. Hidup kami mungkin terlihat datar bagi orang lain, tapi bagi kami itu sangat membahagiakan,” ujarnya.
Menurut Pita, ADP dikenal sebagai pribadi penyabar, pendengar yang baik, dan selalu menjaga tutur kata. “Saya banyak belajar kesabaran dari beliau. Mas Daru tidak pernah neko-neko, dan kami sudah sangat cukup satu sama lain,” ungkapnya.
Pita juga menyampaikan harapan besar agar kasus kematian suaminya diselesaikan secara jujur dan transparan. Ia meminta tidak ada lagi framing negatif terhadap ADP. “Saya memohon kepada Bapak Presiden, Kapolri, dan Menteri Luar Negeri agar kasus ini dapat diungkap seterang-terangnya,” katanya.
Penasihat hukum keluarga ADP, Nicolai Aprilindo, menjelaskan alasan Pita baru berani berbicara ke publik. Menurutnya, Pita mengalami trauma mendalam setelah kehilangan suami secara mendadak, padahal keluarga tengah bersiap berangkat ke Finlandia menyusul penugasan ADP sebagai Sekretaris II KBRI Helsinki.
“Semua persiapan sudah selesai: paspor dan visa sudah ada, biaya perjalanan cair, bahkan keluarga besar dijadwalkan berangkat ke Jakarta sebelum ke Helsinki. Namun tiba-tiba kabar duka datang,” papar Nicolai.
Ia menegaskan, keluarga masih menyimpan banyak tanda tanya terkait kematian ADP yang hingga kini belum terjawab oleh penyelidikan Polda Metro Jaya. “Inilah yang menjadi tugas kita bersama. Kasus ini tidak boleh jadi kasus gelap, tidak boleh menguap begitu saja. Apalagi ini menyangkut seorang diplomat aparatur negara,” ujarnya.
Nicolai menambahkan, tim penasihat hukum sudah berkomunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri, Sugiono. Pihak Kemenlu, kata dia, juga mendorong agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. “Menteri Luar Negeri sangat berharap kasus ini dibuka, diungkap seterang-terangnya, demi ketenangan arwah almarhum dan demi moralitas jajaran Kemenlu,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.
Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta menunda keberangkatan 89 calon haji nonprosedural yang memakai visa kerja hingga iqama.
Veda Ega Pratama tetap berada di posisi lima besar klasemen Moto3 2026 usai finis kedelapan pada seri Catalunya di Spanyol.