Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Seorang bayi diimunisasi dalam peluncuran vaksinasi heksavalen di Rest Area JJLS di Kalurahan Nglindur, Girisubo, Senin (11/11/2025). - Foto: Istimewa/Humas Pemkab Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul meluncurkan vaksinasi heksavalen bagi bayi baru lahir sebagai bagian dari program nasional yang menjadikan DIY wilayah percontohan.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengatakan Kementerian Kesehatan melaksanakan program vaksinasi heksavalen. Provinsi DIY menjadi salah satu percontohan, selain enam provinsi di Papua serta Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Makanya program ini dilaunching di Gunungkidul di Rest Area JJLS di Kalurahan Nglindur, Girisubo,” kata Ismono, Senin (11/11/2025).
Pelaksanaan vaksinasi heksavalen juga mengacu pada Keputusan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/3647/2025 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Imunisasi Diphtheria, Pertussis, Tetanus, Hepatitis B, Haemophilus influenzae tipe B, dan Inactivated Poliomyelitis. Ia menjelaskan bahwa vaksin heksavalen merupakan kombinasi enam antigen dalam satu suntikan.
Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi jumlah suntikan, menyederhanakan jadwal imunisasi, serta meningkatkan keterjangkauan dan penerimaan masyarakat terhadap program imunisasi. “Penggunaan vaksin kombinasi ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi layanan imunisasi sekaligus mengurangi kesenjangan cakupan vaksin IPV. Target nasionalnya adalah cakupan imunisasi bayi lengkap minimal 95 persen pada tahun 2029,” ungkapnya.
Disinggung mengenai sasaran, Ismono mengakui bahwa vaksinasi ini diberikan kepada bayi baru lahir dari rentang usia dua bulan hingga dua bulan 29 hari. Namun karena program baru, maka sasaran dimulai dengan bayi yang lahir pada Juli 2025.
“Intinya yang disasar untuk bayi baru lahir. Tapi, untuk pelaksanaan juga sangat bergantung pada ketersediaan vaksin,” katanya.
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dewi Irawati, mengatakan Pemkab berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan imunisasi ini. Menurut dia, program vaksinasi adalah intervensi kesehatan yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.
“Pemkab Gunungkidul berkomitmen memperkuat logistik vaksin, melakukan edukasi publik, serta menjalin kolaborasi lintas sektor untuk optimalisasi dalam pemberian imunisasi heksavalen,” katanya.
Dewi mengimbau kepada orang tua untuk tidak ragu membawa anak ke posyandu atau puskesmas sesuai jadwal imunisasi. “Jangan mudah terpengaruh hoaks mengenai pelaksanaan imunisasi. Jika ragu, silakan bertanya kepada tenaga kesehatan, pasti akan memberikan penjelasan dengan lengkap karena ini menyangkut masa depan Gunungkidul ada di tangan anak-anak kita,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Polisi mengamankan pria yang diduga berkaitan dengan pelemparan benda diduga molotov di dua Pos Lantas Surabaya. Kota dipastikan kondusif.
RSUP Dr. Sardjito, UGM, dan PERKI Cabang Jogja menggelar deteksi dini penyakit jantung di Gunungkidul untuk menemukan faktor risiko warga.
Bursa karbon menjadi instrumen ekonomi hijau Indonesia. Simak cara kerja, mekanisme perdagangan, peserta, dan peluang cuan dari unit karbon.
PLN memulihkan 11 gardu induk di Flores pascagempa M7,7 NTT. Satu penyulang masih terganggu akibat tiang listrik roboh dan patah.
Gempa NTT M7,7 menewaskan 47 orang dan memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi. BNPB mencatat kerusakan masif di sejumlah wilayah.