182 Aduan Kekerasan Anak di Jogja, UPT PPA Lakukan Pendampingan
182 aduan kekerasan anak di Jogja ditangani UPT PPA, puluhan orang tua mulai tempuh jalur hukum dan dapat pendampingan.
Becak motor (bentor) berjajar saat dilakukan pemasangan stiker khusus bentor di Kepatihan, Selasa (2/4/2019). /Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mengonversi becak motor (bentor) menjadi becak listrik (betrik) pada 2026 menuai respons dari para penarik bentor. Mereka meminta pemerintah memastikan kesiapan teknis dan infrastruktur pendukung sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.
Salah satu penarik bentor, Sukir (77), mengaku khawatir jika kebijakan peralihan diterapkan tanpa uji kesesuaian yang matang. Ia bercerita pernah berbincang dengan penarik betrik yang mengeluhkan performa betrik ketika digunakan untuk rute jauh maupun jalan menanjak.
“Tanjakan yang tinggi [bentrik] tidak kuat. Teman saya pernah mencoba, munggah penumpang kok abot, terus mlorot,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Sukir menilai Pemkot perlu memastikan ketersediaan titik pengisian daya yang memadai. Ia mengungkapkan sering mendapat permintaan penumpang untuk perjalanan jauh, misalnya dari Bausasran menuju Piyungan atau Prambanan. Dengan rute tersebut, ia harus memastikan ketersediaan bahan bakar kendaraan. Ia ragu betrik dapat mengakomodasi perjalanan panjang tanpa risiko kehilangan daya.
“Nek ngecas telat, mboten ana serepé, yo mboten iso narik,” katanya.
Meski penghasilannya tidak selalu stabil, Sukir tetap mengandalkan pekerjaan sebagai penarik bentor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada hari-hari ramai, ia bisa mendapatkan dua hingga tiga penumpang dengan tarif berkisar Rp5.000–Rp20.000 untuk rute jarak dekat, menyesuaikan jarak perjalanan.
Ia bercerita telah menarik becak sejak usia 20 tahun—awalnya menggunakan becak kayuh. Namun seiring bertambahnya usia dan menurunnya stamina, ia beralih menggunakan bentor sekitar lima tahun terakhir. “Kalau pakai becak ontel tidak kuat,” ujarnya.
Keraguan serupa disampaikan penarik bentor lainnya, Diran (52). Ia mengaku pernah dijanjikan becak kayuh bertenaga listrik buatan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, namun hingga kini belum menerima kendaraan tersebut.
“Dari dulu dibilangi bakal diganti listrik, tapi yo ora dadi-dadi. Nek listrik piye nek rutene adoh?” tuturnya.
Diran sudah enam bulan menggunakan bentor, setelah sebelumnya mengayuh becak manual. Ia memilih bentor karena lebih mampu menempuh rute jauh. Banyak wisatawan di kawasan Malioboro yang memintanya mengantar ke destinasi luar kota, seperti Candi Prambanan dan Borobudur. Untuk rute seperti itu, ia membutuhkan kendaraan dengan bahan bakar yang mudah diperoleh dan mampu menjangkau perjalanan panjang.
Meski begitu, Diran menyatakan bersedia beralih ke betrik jika Pemkot menyiapkan kendaraan tersebut secara gratis bagi para penarik bentor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
182 aduan kekerasan anak di Jogja ditangani UPT PPA, puluhan orang tua mulai tempuh jalur hukum dan dapat pendampingan.
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Satpol PP Gunungkidul menertibkan pemasangan tikar-tikar di bibir Pantai Sepanjang di Kalurahan Kemadang, Tanjungsari untuk memberikan rasa nyaman ke pengunjung
Festival balon udara di Solo diserbu ribuan warga. Sebanyak 18 balon diterbangkan, namun durasi dipersingkat akibat angin kencang.
302 personel gabungan amankan laga PSIM vs Madura United di Bantul. Polisi siapkan pengamanan ketat dan rekayasa lalu lintas.
Tesla resmi menaikkan harga Model Y di AS setelah dua tahun. Simak daftar harga terbaru dan persaingan ketat di pasar mobil listrik.