SHDK Kartu Keluarga Jadi Sumber Kendala SPMB 2026 di Bantul
Disdukcapil Bantul ungkap SHDK KK jadi kendala SPMB 2026. Verifikasi tetap aman tanpa temuan pemalsuan dokumen kependudukan.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih bersama jajaran manajemen RS UII saat meninjau layanan KRIS yang baru diresmikan di rumah sakit itu, Senin (5/1/2026)/ Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL— Jumlah penduduk Bantul menembus satu juta jiwa, namun ketersediaan tempat tidur rumah sakit masih jauh dari kebutuhan ideal.
Pernyataan ini disampaikan oleh Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, saat meresmikan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di Rumah Sakit Universitas Islam Indonesia (RS UII), Senin (5/1/2026).
Halim memberikan asumsi sederhana, jika dua persen dari total penduduk membutuhkan layanan rawat inap secara bersamaan, maka idealnya diperlukan sekitar 20.000 tempat tidur rumah sakit.
“Sementara RSUD Panembahan Senopati saat ini hanya memiliki sekitar 275 tempat tidur dan RS UII sekitar 250-an. Ditambah rumah sakit lain pun jumlahnya masih jauh dari kata cukup,” ujar Halim.
Ia mengenang keterbatasan kapasitas ini sangat terasa saat pandemi Covid-19. Kala itu, banyak pasien terpaksa dirawat di lorong, aula, hingga ruang darurat. Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa layanan kesehatan kuratif, khususnya rawat inap, harus terus diperkuat di Bumi Projotamansari.
“Pemerintah tidak mungkin menyediakan semuanya sendiri. Partisipasi publik dan swasta harus dibuka seluas-luasnya. Kehadiran fasilitas KRIS di RS UII ini tentu sangat membantu kemampuan daerah dalam memberikan layanan kesehatan,” tambahnya.
Bupati mengapresiasi fasilitas KRIS di RS UII yang dinilainya sangat representatif dan nyaman bagi pasien. “Ruangannya sangat bagus, seperti hotel bintang empat. Kenyamanan fisik adalah bagian penting dari proses psikologis penyembuhan pasien,” kata Halim.
Direktur RS UII, Mulyo Hartana, menjelaskan bahwa layanan KRIS RS UII berlokasi di lantai lima dan enam dengan total 102 tempat tidur. Ruangan tersebut terbagi menjadi kamar berisi dua dan empat tempat tidur.
Seluruh persyaratan KRIS telah dipenuhi, mulai dari:
- Jarak antar tempat tidur yang sesuai standar.
- Pencahayaan dan ventilasi optimal.
- Kamar mandi dalam di setiap ruangan.
- Akses ramah difabel serta fasilitas air panas dan dingin.
Dengan penambahan ini, total kapasitas RS UII meningkat menjadi 249 tempat tidur dari sebelumnya hanya 147.
“Per 1 Januari tahun ini, kami menyiapkan 150 tempat tidur siap pakai, di mana 60 di antaranya dialokasikan untuk KRIS sesuai ketentuan minimal 40 persen bagi RS swasta,” jelas Mulyo.
Meski fokus pada KRIS, RS UII tetap menyediakan layanan kelas VIP, kelas 1, 2, dan 3 sesuai regulasi BPJS Kesehatan. Saat ini, rumah sakit yang berlokasi di Kapanewon Pandak tersebut telah didukung oleh 84 dokter spesialis dan subspesialis dari berbagai disiplin ilmu.
Deputi Direksi Wilayah VI BPJS Kesehatan, Yessi Kumalasari, menyampaikan apresiasi atas langkah proaktif RS UII dalam mengimplementasikan Peraturan Presiden tentang Kelas Rawat Inap Standar.
“Kami berharap sinergi antara rumah sakit, pemerintah daerah, dan BPJS Kesehatan terus diperkuat untuk menjawab tantangan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat Bantul yang terus meningkat,” tutur Yessi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdukcapil Bantul ungkap SHDK KK jadi kendala SPMB 2026. Verifikasi tetap aman tanpa temuan pemalsuan dokumen kependudukan.
Ekonom Indef minta masa transisi sebelum pajak PPh UMKM marketplace diberlakukan agar pelaku usaha siap.
Kebutuhan darah di Sleman masih tinggi, PMI ajak masyarakat rutin donor untuk menjaga ketersediaan stok.
UMKM Jogja manfaatkan libur sekolah lewat bazar di Taman Pintar, targetkan kenaikan omzet hingga 70 persen.
Program Makan Bergizi Gratis di Gunungkidul dihentikan sementara selama libur sekolah, layanan kembali aktif 13 Juli 2026.
Pemerintah tingkatkan anggaran riset hingga Rp4 triliun, fokus pada solusi nyata seperti waste to energy dan transisi energi.