Kelurahan Sosromenduran Bekali Warga Keterampilan Shibori
Kelurahan Sosromenduran melatih warga Kampung Jogonegaran membuat shibori sebagai bekal keterampilan dan peluang usaha rumahan berbasis ekonomi kreatif.
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga Rabu (21/1/2026). Peringatan ini disampaikan menyusul cuaca ekstrem yang memicu berbagai dampak di sejumlah wilayah pada Sabtu (17/1/2026).
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Romadi, menyebut potensi cuaca ekstrem masih cukup tinggi dalam beberapa hari ke depan. Meski intensitas hujan hingga Senin (19/1/2026) diperkirakan sedikit menurun dibandingkan 17 Januari, peningkatan kembali berpeluang terjadi pada Selasa (20/1/2026).
“Potensi hujannya masih cukup tinggi sampai tanggal 19, 20, hingga 21 Januari. Dibandingkan hujan di tanggal 17 memang ada sedikit penurunan, tetapi di tanggal 20 ada peningkatannya,” ujar Romadi saat dihubungi, Ahad (18/1/2026).
Ia menjelaskan, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan pada 20 Januari meliputi Kabupaten Sleman, Kulonprogo bagian utara, serta Gunungkidul bagian tengah dan utara. Wilayah-wilayah tersebut berpotensi mengalami hujan dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya.
Selain wilayah utara, daerah selatan DIY juga diperkirakan terdampak peningkatan curah hujan, terutama pada dini hari hingga pagi hari.
“Di tanggal 20, wilayah selatan juga perlu diwaspadai, terutama Bantul bagian selatan, Gunungkidul bagian selatan, dan Kulon Progo bagian selatan. Potensinya meningkat dibandingkan hari ini (Ahad), khususnya di dini hari hingga pagi,” katanya.
Romadi menambahkan, berdasarkan pola cuaca terkini, hujan di wilayah DIY cenderung terjadi pada siang menjelang sore hingga malam hari. Kondisi ini dinilai dapat memicu dampak lanjutan apabila tidak diantisipasi dengan baik, khususnya di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
Menurutnya, cuaca ekstrem yang melanda DIY saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer. Salah satunya adalah posisi bulan Januari yang telah memasuki awal puncak musim hujan.
Selain itu, terdapat dua bibit siklon tropis yang turut memengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia.
“Yang pertama, Januari ini sudah memasuki awal puncak musim penghujan. Yang kedua, ada dua bibit siklon. Satu bibit siklon 91W di perairan Filipina dengan kecepatan sekitar 30 knot dan tekanan 1002 hPa,” jelas Romadi.
Bibit siklon lainnya, yakni 96S, terpantau berada di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur dan bergerak ke arah barat daya. Meski diperkirakan menjauhi wilayah Indonesia, pengaruhnya tetap perlu diwaspadai.
“Bibit siklon 96S ini memang menjauhi wilayah Indonesia, tapi ketika berada di selatan Jawa pengaruhnya bisa cukup kuat dan memicu hujan ekstrem,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelurahan Sosromenduran melatih warga Kampung Jogonegaran membuat shibori sebagai bekal keterampilan dan peluang usaha rumahan berbasis ekonomi kreatif.
Kemendikdasmen mengalokasikan Rp90 triliun memperbaiki 71.000 sekolah dan memperkuat pembatasan gawai untuk melindungi anak.
Bulog telah menyerap 3,5 juta ton setara beras hingga 24 Juli 2026 atau 87 persen dari target nasional 4 juta ton.
Pembangunan Kampus II UIN Sunan Kalijaga di Bantul dimulai dengan pengerasan tanah dan pembangunan akses jalan berkonsep forest campus.
Ye dipastikan menggelar konser di Stadion Utama GBK Jakarta pada 24 Oktober 2026. Tiket mulai dijual 29 Juli 2026.
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Sabtu (25/7/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis.