Kadin DIY Sebut Kekuatan Ekonomi Jogja Bukan Tambang Fisik, tapi Tambang Ide
Kadin DIY menyebut kekuatan ekonomi Jogja sebagai “tambang ide”. Riset kampus didorong terhubung dengan industri dan pasar.
Foto ilustrasi sampah organik. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja dalam menekan timbulan sampah terus diperkuat melalui pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat. Melalui program emberisasi sampah organik, volume pengolahan kini mencapai 27,5 ton per hari, menjadikannya salah satu strategi utama penanganan sampah organik basah di Kota Jogja.
Peningkatan kapasitas pengolahan tersebut ditopang oleh pemanfaatan sekitar 1.100 ember yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kota Jogja. Program ini dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan sampah organik mandiri.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan DLH Kota Jogja, Supriyanto, menjelaskan bahwa program emberisasi telah berkembang signifikan dari waktu ke waktu. Menurutnya, volume pengolahan sampah organik saat ini mencapai 27,5 ton per hari, seiring meningkatnya partisipasi warga dalam memilah dan mengelola sampah dari sumbernya.
“Tingginya volume sampah organik yang bisa diolah karena hampir seluruh wilayah di Kota Jogja sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri,” ujarnya, Selasa (27/1/2026). Sampah organik yang terkumpul dari masyarakat tersebut kemudian disalurkan kepada mitra offtaker.
Supriyanto menyebutkan, terdapat 12 mitra offtaker mandiri yang terlibat dalam penyaluran sampah organik basah tersebut. Mitra tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari peternak ayam, bebek, maggot, ikan, hingga peternak babi.
“Mitra offtaker mandiri yang terlibat [penyaluran sampah organik] ada 12 [offtaker] meliputi peternak ayam, bebek, maggot, ikan, hingga babi,” katanya. Sampah organik yang disalurkan selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Ia menilai, pemanfaatan sampah organik basah untuk pakan ternak menjadi solusi efektif dalam mengatasi persoalan sampah basah yang selama ini mendominasi timbulan sampah di Kota Jogja. Dengan pola tersebut, sampah tidak lagi berakhir di depo, tetapi memiliki nilai guna ekonomi.
Selain itu, DLH Kota Jogja juga mendistribusikan ember-ember penampung sampah organik basah kepada para transporter sampah yang tersebar di 45 kelurahan. Penyerahan ember ini diharapkan mampu meningkatkan volume sampah organik yang dapat dikelola masyarakat di setiap wilayah secara berkelanjutan.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menambahkan bahwa tren peningkatan pengelolaan sampah organik melalui emberisasi sudah terlihat sejak tahun lalu. Pada 2025, volume sampah organik yang berhasil dikelola dengan metode ini mencapai sekitar 25 ton per hari dengan menggunakan sekitar 1.000 ember.
Ia optimistis kapasitas pengolahan tersebut akan terus meningkat seiring perluasan program dan keterlibatan masyarakat.
“Ke depan kami menargetkan pengelolaan sampah organik basah dapat meningkat hingga 50 ton per hari atau sekitar dua ribu ember,” katanya.
Hasto menjelaskan, sampah organik masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah di Kota Jogja. Dari total volume sampah harian yang mencapai sekitar 260 ton per hari, sekitar 60% di antaranya merupakan sampah organik basah. Kondisi ini mendorong Pemkot Jogja untuk terus mengembangkan berbagai metode pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
“Strateginya memang menurunkan sampah organik agar tidak dibawa ke depo. Kalau sampah organik bisa terkelola semua, yang tersisa tinggal sekitar 40% dan itu mampu diolah oleh unit pengelolaan sampah [UPS] milik Pemkot Jogja,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kadin DIY menyebut kekuatan ekonomi Jogja sebagai “tambang ide”. Riset kampus didorong terhubung dengan industri dan pasar.
Polri menetapkan 196 tersangka dari 245 laporan karhutla hingga 28 September 2026. Kasus yang melibatkan korporasi juga terus didalami.
Bulog memastikan Beras Kita Premium dapat digunakan untuk kebutuhan MBG sesuai arahan pemerintah, sementara beras fortifikasi bukan pengganti beras premium.
Penempatan lintas daerah manajer KDKMP dilakukan untuk pemerataan SDM. Status tetap berlaku dan lokasi bisa disesuaikan dengan domisili.
Indonesia baru memiliki 66 dokter aritmia untuk sekitar 280 juta penduduk. Akses deteksi dini dan terapi gangguan irama jantung perlu diperluas.
Jadwal PSIM Jogja vs Persija pada 10 Oktober 2026 dimajukan ke pukul 15.30 WIB di Stadion Sultan Agung karena pertimbangan keamanan.