Skrining Kesehatan Sekolah di Bantul Ungkap Masalah Gigi dan Mental
Dinkes Bantul menemukan banyak pelajar mengalami karies gigi, kurang aktivitas fisik, hingga gejala gangguan mental.
Foto ilustrasi teh herbal. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL— Puskesmas Kasihan II Bantul terus memperkuat layanan pengobatan tradisional sebagai pelengkap pelayanan medis konvensional. Layanan yang mulai dijalankan sejak 2019 ini mendapat respons positif dari masyarakat, seiring masih kuatnya budaya pengobatan herbal dan tradisional di wilayah setempat.
Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Kasihan II Bantul, Triatmi Dyah Wahyuning, mengatakan pengobatan tradisional yang tersedia meliputi terapi herbal, akupunktur, akupresur, hingga pijat akupresur untuk bayi dan balita. Selain pelayanan langsung, puskesmas juga aktif melakukan pembinaan kader asuhan mandiri serta pendampingan penyedia layanan kesehatan tradisional di masyarakat.
“Pengobatan tradisional ini cukup diterima masyarakat. Warga kami masih akrab dengan jamu dan herbal, sehingga tingkat penerimaannya relatif baik,” ujar Triatmi, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, pasien yang ingin memanfaatkan layanan tersebut tetap melalui alur pelayanan medis standar. Pemeriksaan dan diagnosis dilakukan terlebih dahulu oleh dokter. Selanjutnya, dokter akan menawarkan pilihan terapi, baik pengobatan konvensional, tradisional, maupun kombinasi keduanya, sesuai kondisi pasien. Namun demikian, tidak semua penyakit dapat ditangani dengan pendekatan tradisional.
Untuk layanan akupunktur dan akupresur, Puskesmas Kasihan II melayani sekitar 20 jenis kasus. Beberapa di antaranya meliputi asma, sakit kepala, migrain, gangguan pencernaan, bell’s palsy, kekakuan bahu, nyeri pinggang, insomnia, rinitis alergi, hipertensi, carpal tunnel syndrome (CTS), hingga osteoartritis.
Sementara itu, terapi herbal diberikan dalam bentuk kapsul yang berbahan baku terstandar. Penggunaannya diarahkan untuk kasus tertentu seperti hemoroid, gangguan saluran kemih, pelancar ASI, obesitas, kolesterol, antioksidan, serta imunomodulator. “Untuk penyakit tertentu seperti diabetes, kami tidak menyediakan pengobatan herbal,” jelas Triatmi.
Dalam satu hari, layanan akupunktur di puskesmas tersebut melayani sekitar 8 hingga 10 pasien. Keterbatasan jumlah tenaga menjadi salah satu tantangan, mengingat saat ini baru satu dokter yang memiliki kompetensi akupunktur. Selain itu, durasi pelayanan yang mencapai sekitar 30 menit per pasien membuat layanan ini dijalankan dengan sistem perjanjian agar pasien tidak menunggu terlalu lama.
Di luar pelayanan di puskesmas, akupresur juga banyak diterapkan melalui kegiatan posyandu. Petugas kesehatan bahkan mengajarkan titik-titik akupresur sederhana kepada masyarakat agar dapat dipraktikkan secara mandiri di rumah sebagai terapi tambahan.
Ke depan, Puskesmas Kasihan II Bantul juga mendorong penguatan peran pengobatan tradisional berbasis masyarakat melalui pembinaan kelompok asuhan mandiri. Kelompok ini diarahkan untuk memproduksi olahan herbal yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan warga..
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Bantul menemukan banyak pelajar mengalami karies gigi, kurang aktivitas fisik, hingga gejala gangguan mental.
DPRD DIY menyoroti indikator kinerja daerah yang baru 40 persen meski ekonomi DIY tumbuh dan angka kemiskinan menurun.
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.
Meta menghadirkan fitur Incognito Chat AI di WhatsApp dengan teknologi Pemrosesan Privat untuk menjaga kerahasiaan percakapan pengguna.
KPK memperpanjang penahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terkait dugaan korupsi pemerasan OPD.
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.