Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Suasana Masjid Jogokariyan menjelang Ramadan, Rabu (11/2/2026)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Masjid Jogokariyan memastikan pembagian 3.800 porsi takjil per hari di Kampoeng Ramadan Jogokariyan 2026 tidak menambah timbulan sampah, baik organik maupun anorganik, sebagai bagian dari komitmen ramah lingkungan di Jogja.
Pada Ramadan 1447 Hijriah, panitia bersama warga Kampung Jogokariyan kembali menggelar Kampoeng Ramadan Jogokariyan dengan berbagai aktivitas, termasuk produksi dan distribusi takjil yang tahun ini meningkat dibanding sebelumnya.
Humas Kampoeng Ramadan Jogokariyan, Ahmeda Edo, menyebut jumlah takjil yang dibagikan mencapai 3.800 porsi setiap hari.
“Bertambah dari tahun sebelumnya dengan jumlah 3.500 porsi, tahun ini kita bagikan takjil sebanyak 3.800 porsi,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, konsep ramah lingkungan tetap diterapkan dengan menggunakan piring sebagai wadah takjil, bukan kotak sekali pakai.
“Ya, kami masih memakai piring untuk takjil,” katanya.
Ahmeda Edo menjelaskan, penggunaan piring bukan sekadar soal teknis, tetapi juga untuk memperluas partisipasi warga dalam meraih keberkahan Ramadan. Menurutnya, semakin banyak pihak terlibat dalam proses distribusi dan pencucian piring, semakin banyak pula yang mendapat pahala dari kegiatan tersebut.
“Kalau pakai box yang dapat keberkahannya hanya yang masak. Tapi kalau pakai piring, yang angkut-angkut dapat, yang cuci piring dapat. Jadi kami memperbanyak orang dapat keberkahan dari takjil,” paparnya.
Selain alasan sosial, panitia juga mempertimbangkan aspek lingkungan. Di tengah isu darurat sampah di Jogja yang belum sepenuhnya teratasi, penggunaan wadah sekali pakai berpotensi menambah ribuan sampah setiap hari.
“Kalau kita sehari produksi sampah sampai 4.000 box nanti Pak Hasto [Walikota Jogja] pusing dapat sampah sebanyak itu,” ungkapnya.
Untuk sisa makanan, panitia telah menyiapkan skema pengelolaan limbah organik. Panitia bekerja sama dengan relawan yang memiliki ternak seperti bebek dan kolam lele untuk menyerap sisa takjil sehingga tidak menjadi timbulan sampah.
“Kebetulan dari tim relawan ada beberapa yang punya bebek, kolam lele dan sebagainya. Jadi sampah sisa makanan itu diberikan ke ternak mereka. Jadi untuk limbah sisa makanan sudah clear dibawa kemana,” kata dia.
Dengan pola ini, Kampoeng Ramadan Jogokariyan tidak hanya menjaga tradisi berbagi takjil dalam jumlah besar, tetapi juga mengintegrasikan pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat kampung, termasuk pemanfaatan limbah organik untuk pakan ternak warga selama Ramadan 1447 Hijriah di Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Toyota mencatat permintaan Veloz Hybrid menembus 10 ribu unit di tengah kenaikan harga BBM dan meningkatnya minat mobil hemat bahan bakar.
Dua wisatawan asal Karawang ditemukan meninggal tertimbun longsor di jalur menuju Curug Cileat, Subang, Jawa Barat.
Manchester City menjuarai Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 lewat gol Antoine Semenyo di Stadion Wembley.
Kunjungan wisatawan di Malioboro Jogja meningkat selama long weekend Kenaikan Isa Almasih, terutama pada sore hingga malam hari.
Persija Jakarta menang 3-1 atas Persik Kediri di Stadion Brawijaya lewat dua gol Gustavo Almeida pada pekan ke-33 Super League.