Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Ilustrasi bencana di Gunungkidul. - ist/BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memastikan belum menaikkan status penanganan bencana menjadi tanggap darurat, meski dalam beberapa hari terakhir terjadi sejumlah bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah zona utara. Hingga kini, status yang berlaku masih siaga darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, kondisi di lapangan masih dapat ditangani dengan sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu, belum ada kebutuhan untuk menetapkan status tanggap darurat bencana.
“Belum kami naikkan menjadi tanggap darurat. Saat ini masih siaga darurat bencana hidrometeorologi,” ujar Purwono, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, seluruh penanganan bencana masih menggunakan anggaran reguler yang dimiliki BPBD. Pemerintah daerah belum mengakses dana Belanja Tidak Terduga (BTT) karena situasi dinilai masih terkendali.
“Penanganan masih mampu dilakukan dengan anggaran BPBD,” katanya.
Purwono menambahkan, upaya penanganan terus dilakukan di sejumlah lokasi terdampak. Salah satunya di Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, yang sebelumnya dilanda banjir dan longsor. Hingga kini, kegiatan pembersihan material sisa bencana masih berlangsung.
“Sore ini kami kembali menyalurkan bantuan permakanan bagi warga terdampak,” ungkapnya.
Selain bantuan logistik, BPBD juga berencana membuka kembali aliran sungai yang tertutup material longsor. Penutupan aliran sungai tersebut sebelumnya memicu banjir bandang yang menggenangi rumah warga di Padukuhan Jono, Tancep, pada Selasa (17/2/2026).
“Aliran sungai kecil di sekitar permukiman tertutup longsor sehingga air mengalir ke rumah warga. Akan kami keruk menggunakan alat berat agar alirannya kembali normal,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, menyebut cuaca ekstrem yang terjadi selama dua hari berturut-turut memicu berbagai bencana alam. Pada Selasa (18/2/2026), tercatat 37 titik longsor yang tersebar di Kapanewon Gedangsari, Nglipar, Ngawen, dan Semin.
Selain longsor, banjir juga dilaporkan terjadi di sembilan titik di Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari. Dari kejadian tersebut, sebanyak 165 warga terdampak, dengan 113 jiwa di antaranya mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
“Untuk kejadian Rabu, tercatat 27 pohon tumbang di sejumlah kapanewon serta 12 titik longsor di Gedangsari dan Nglipar,” katanya.
Edy memastikan, tidak ada korban jiwa dalam rangkaian bencana tersebut. Adapun total kerugian material akibat bencana yang terjadi pada Rabu diperkirakan mencapai Rp35,9 juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 29 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
Pemilih lintas domisili diminta diatur dalam revisi UU Pemilu, termasuk soal representasi politik bagi warga yang mencoblos jauh dari daerah asal.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengingatkan 87 calon lurah untuk menghindari politik uang menjelang Pilur 2026.