BPBD Kota Jogja Bekali Sukarelawan KTB Hadapi Bencana di Cagar Budaya

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Kamis, 08 Oktober 2026 20:27 WIB
BPBD Kota Jogja Bekali Sukarelawan KTB Hadapi Bencana di Cagar Budaya

Relawan kebencanaan BPBD DIY saat melaksanakan sosialisasi dan pelatihan, beberapa waktu lalu. (Dok. BPBD DIY)

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja membekali sukarelawan Kampung Tangguh Bencana (KTB) dengan keterampilan mitigasi dan penanganan awal bencana di kawasan bangunan cagar budaya. Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memastikan penanganan kondisi darurat tetap memperhatikan keberadaan bangunan bersejarah.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan kemampuan sukarelawan dalam menghadapi bencana di kawasan cagar budaya perlu diperkuat. Selain mitigasi, pelatihan juga mencakup pertolongan pertama bagi korban agar masyarakat memiliki kesiapan menghadapi kondisi darurat.

Menurutnya, peningkatan kapasitas sukarelawan menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat, terutama mereka yang tinggal atau beraktivitas di sekitar bangunan cagar budaya.

“Peningkatan kapasitas sukarelawan merupakan bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana,” katanya, Kamis (8/10/2026).

Relawan Perlu Paham Batas Penanganan Cagar Budaya

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan DIY Jusman mengatakan bangunan cagar budaya, khususnya yang berada di kawasan Sumbu Filosofi, membutuhkan perhatian tersendiri dalam aspek mitigasi bencana. Karena itu, relawan di sekitar kawasan tersebut perlu mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Dalam pelatihan tersebut, sukarelawan juga diberikan pemahaman mengenai tindakan yang diperbolehkan dan dilarang ketika melakukan penanganan awal pada bangunan cagar budaya. Pemahaman ini diperlukan agar upaya penyelamatan tetap mengutamakan keselamatan manusia tanpa mengabaikan nilai serta keberadaan bangunan bersejarah.

Sukarelawan dan masyarakat juga perlu mengetahui batas tindakan yang dapat dilakukan secara mandiri. Jika penanganan membutuhkan keahlian khusus, mereka harus segera berkoordinasi dengan pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi.

Dibekali Materi Pertolongan Pertama

Selain materi mengenai penanganan cagar budaya, peserta pelatihan mendapatkan materi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Materi PPGD meliputi konsep dasar PPGD, Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR), penanganan luka, pendarahan dan cedera, hingga teknik evakuasi serta pemindahan korban.

Pembekalan tersebut tidak hanya diberikan dalam bentuk teori. Sukarelawan diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh ketika menghadapi kondisi darurat di wilayah masing-masing.

BPBD Kota Jogja terus mendorong penguatan kapasitas relawan dan masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun ketangguhan daerah. Keterampilan yang dimiliki sukarelawan diharapkan dapat mempercepat respons terhadap bencana secara tepat dan aman.

Di sisi lain, kemampuan tersebut juga diharapkan membantu melindungi bangunan cagar budaya yang menjadi bagian dari identitas Kota Jogja ketika terjadi kondisi darurat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online