Polri Siapkan 260 Personel Tangani Dampak Gempa Flores M7,7
Polri menyiapkan 260 personel untuk menangani dampak gempa Flores M7,7, termasuk evakuasi, SAR, kesehatan, dan identifikasi korban.
Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul DIY. Antara/Hery Sidik
Harianjogja.com, BANTUL—Momentum Lebaran 2026 di Bantul dibarengi peningkatan kewaspadaan layanan kesehatan terhadap potensi kejadian luar biasa (KLB), wabah penyakit, hingga kasus keracunan makanan yang bisa muncul saat aktivitas masyarakat meningkat.
Di tengah maraknya agenda syawalan dan makan bersama di berbagai wilayah di Bantul, Dinas Kesehatan setempat meminta seluruh fasilitas layanan kesehatan bersiaga penuh menghadapi kemungkinan lonjakan kasus yang muncul secara tiba-tiba.
Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Tri Widiyantara mengatakan, instruksi kewaspadaan telah disampaikan ke seluruh puskesmas agar siap menghadapi berbagai potensi gangguan kesehatan selama Lebaran.
“Kewaspadaan terhadap potensi kejadian luar biasa (KLB) dan wabah lainnya juga sudah kita sampaikan ke semua puskesmas untuk selalu bersiaga menghadapi adanya kasus-kasus yang mungkin terjadi saat Lebaran,” katanya di Bantul, Jumat (20/3/2026).
Ia menjelaskan, seluruh puskesmas dan rumah sakit diminta aktif melaporkan potensi KLB melalui sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR), termasuk jika ditemukan kasus keracunan makanan maupun penyakit yang berpotensi menjadi wabah.
“Kasus-kasus entah itu penyakit yang tiba-tiba muncul atau kasus-kasus keracunan makanan yang mungkin terjadi pada saat Lebaran karena mungkin banyak acara syawalan dan makan bersama perlu diantisipasi, sehingga teman-teman kita siagakan untuk mengantisipasi hal-hal tersebut,” katanya.
Selain itu, kewaspadaan juga diperluas pada penyakit menular tertentu. Seluruh rumah sakit, puskesmas, dan klinik di Bantul diminta meningkatkan pemantauan malaria, terutama bagi masyarakat dengan riwayat perjalanan dari daerah endemis.
Langkah skrining dilakukan melalui pemeriksaan RDT (rapid diagnostic test) atau tes diagnostik cepat guna mendeteksi kasus sejak dini.
Tak hanya malaria, Dinkes Bantul juga mengantisipasi potensi lonjakan penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi seperti campak, rubella, pertusis, difteri, hingga infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Dari sisi layanan pembiayaan, pemerintah daerah turut menyiagakan pelayanan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) agar masyarakat tetap mendapat akses pengobatan tanpa hambatan administratif.
“Jadi harapannya tidak ada masyarakat yang harus menunggu lama untuk mendapatkan kepastian terkait dengan jaminannya,” ujar Agus.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perayaan Lebaran tidak hanya menjadi momen mobilitas tinggi masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan yang perlu diantisipasi bersama, baik oleh tenaga medis maupun warga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Polri menyiapkan 260 personel untuk menangani dampak gempa Flores M7,7, termasuk evakuasi, SAR, kesehatan, dan identifikasi korban.
Dana Transfer ke Daerah atau TKD 2027 mencapai Rp735 triliun, naik Rp42 triliun, tetapi masih 20,1% di bawah alokasi 2025.
Bulog menyalurkan beras dan minyak goreng bagi penyintas gempa NTT. Bantuan mencapai 10 ton beras dan 1.000 liter minyak per kabupaten.
Gempa magnitudo 6,2 mengguncang Parigi Moutong. BPBD menyebut belum ada laporan rumah warga rusak, tetapi plafon dan dinding kantor PU terdampak.
Gubernur NTT Melki Laka Lena menetapkan status tanggap darurat gempa selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.
PLN siagakan 45.000 personel dan cadangan daya 9 GW untuk mengamankan kelistrikan nasional saat HUT ke-81 RI.