WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Pamong membawa glondong pangarem-arem dalam kirab Mangayubagya 80 Tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X, di Bangsal Pagelaran Kraton, Kamis (2/4/2026)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA — Ribuan pamong kalurahan/kelurahan, kemantren/kapanewon, serta Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) mengikuti kirab Mangayubagya dalam rangka memperingati 80 Tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X di Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026).
Dalam kirab tersebut, para peserta mempersembahkan glondong pangarem-arem berupa hasil bumi dan produk UMKM sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Kirab dimulai dari tiga titik berbeda, yakni kawasan Malioboro untuk peserta dari Sleman, Kota Jogja, dan Gunungkidul; Jalan Senopati untuk Bantul; serta Jalan KH Ahmad Dahlan untuk Kulonprogo. Rombongan mulai bergerak sekitar pukul 07.00 WIB dan berkumpul di Titik Nol Kilometer sebelum berjalan menuju Pagelaran Kraton melalui sisi timur Alun-Alun Utara.
Sri Sultan HB X bersama GKR Hemas dan keluarga tiba di Pagelaran Kraton sekitar pukul 07.45 WIB. Sekitar 10 menit kemudian, Ketua Paguyuban Lurah Nayantaka, Gandang Hardjanata, melaporkan kesiapan acara kepada Sri Sultan sebagai tanda dimulainya prosesi inti.
Prosesi diawali oleh pamong dari Kota Jogja yang membawa beragam glondong pangarem-arem, mulai dari produk UMKM seperti keripik, roti, onigiri, wedang uwuh, hingga hasil olahan ikan.
Sebanyak 45 kelurahan dari 14 kemantren di Kota Jogja secara bergiliran menghadap Sri Sultan, memberikan penghormatan, dan menyerahkan hasil bumi yang dibawa. Setelah itu, kirab dilanjutkan oleh perwakilan dari Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul.
Berbagai hasil bumi turut diarak, di antaranya sayuran seperti kangkung, kubis, kacang panjang, sawi, terong, hingga pare. Selain itu, peserta juga membawa buah-buahan seperti pisang, pepaya, nanas, dan buah naga, serta komoditas pangan seperti padi, singkong, dan jagung.
Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY, Gandang Hardjanata menyampaikan bahwa kirab ini merupakan wujud cinta dan penghormatan masyarakat kepada Sri Sultan HB X yang dinilai telah memberikan teladan kepemimpinan.
“Kami berharap bisa memberikan sumbangsih berupa semangat kepada beliau sekaligus ucapan terima kasih,” ujarnya.
Jumlah peserta kirab diperkirakan mencapai 10.000 hingga 12.000 orang, menjadikannya salah satu kirab terbesar yang pernah digelar sejak masa kemerdekaan. Setiap kalurahan/kelurahan mengirimkan sekitar 20–30 orang sebagai perwakilan.
“Ini momentum monumental, di mana pemerintah kalurahan bersama warganya sowan untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ngarso Dalem,” katanya.
Seluruh hasil bumi yang dipersembahkan dalam kirab tersebut nantinya akan disalurkan kembali kepada masyarakat melalui bupati dan wali kota di masing-masing wilayah, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.