Paskah di Ganjuran Penuh Haru, Umat Diajak Refleksi Iman

Yosef Leon
Yosef Leon Minggu, 05 April 2026 12:17 WIB
Paskah di Ganjuran Penuh Haru, Umat Diajak Refleksi Iman

Romo Raymundus Suginhartanta saat mempersiapkan persembahan dalam ibadah Paskah di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Minggu (5/4/2026). Dokumentasi Istimewa

Harianjogja.com, BANTUL—Perayaan Paskah di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran berlangsung khidmat pada Minggu (5/4/2026) pagi. Ratusan umat mengikuti misa dengan suasana hening dan penuh penghayatan, menandai puncak rangkaian Tri Hari Suci.

Ibadah dimulai pukul 07.30 WIB menggunakan bahasa Indonesia, dengan nuansa budaya Jawa yang kuat. Iringan gamelan mengalun mengiringi lagu-lagu liturgi, sementara petugas misa mengenakan busana tradisional seperti blangkon, kebaya, dan beskap.

Refleksi Kehilangan dan Kebangkitan

Dalam homilinya, Raymundus Suginhartanta mengajak umat merenungkan makna Paskah sebagai perjalanan dari kehilangan menuju penemuan kembali yang menghadirkan sukacita mendalam.

Ia mengibaratkan pengalaman tersebut seperti anak kecil yang kehilangan hadiah, lalu menemukannya kembali dengan kebahagiaan yang lebih besar.

Menurutnya, pengalaman para murid Yesus setelah kebangkitan menjadi titik penting dalam pertumbuhan iman, di mana harapan justru lahir dari situasi kehilangan.

Paskah sebagai Inti Iman Kristiani

Romo Raymundus juga menyoroti fenomena umat yang cenderung lebih memeriahkan Natal dibandingkan Paskah. Ia menilai perayaan Paskah masih kurang mendapat perhatian di tingkat lingkungan.

“Padahal, Natal tidak akan pernah dirayakan kalau tidak ada Paskah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam sejarah awal Kekristenan, kebangkitan Kristus merupakan peristiwa pertama yang dirayakan para rasul, sementara Natal berkembang kemudian sebagai bentuk syukur atas kelahiran Yesus.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tanpa kebangkitan sebagai peristiwa penebusan, kelahiran Yesus tidak memiliki makna utuh. Oleh karena itu, Paskah menjadi pusat dari iman umat Kristiani.

Melalui refleksi ini, umat diajak untuk tidak sekadar merayakan Paskah sebagai tradisi tahunan, tetapi menjadikannya momentum memperkuat iman dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan misa di Ganjuran ditutup dengan doa bersama dalam suasana sukacita, mencerminkan makna kebangkitan sebagai kemenangan atas penderitaan dan kematian yang dirasakan langsung oleh umat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online