Kalurahan di Gunungkidul Wajib Sisihkan Dana Desa untuk Padat Karya
Kalurahan di Gunungkidul wajib mengalokasikan dana desa untuk program padat karya pada 2026. Program ini ditujukan untuk menyerap tenaga kerja lokal.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X saat menanam bibit pohon Nangka di acara jambore PSKS di Bejiharjo Edupark di Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo, Kamis (16/4/2026)/ Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jambore Sosial Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) 2026 di Gunungkidul menjadi momentum penting penguatan peran relawan sosial. Kegiatan yang digelar di Bejiharjo Edupark di Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo ini diikuti sekitar 500 peserta dari seluruh DIY.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 16–17 April 2026, dengan melibatkan berbagai unsur relawan seperti Tenaga Kesejahteraan Sosial Kapanewon (TKSK), Tagana, hingga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
Acara ini dibuka oleh Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka KGPAA Paku Alam X, bersama Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Pembukaan ditandai simbol unik berupa permainan otok-otok dari bambu, kerajinan khas Kapanewon Semin.
Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patminarsih, menjelaskan jambore ini tidak sekadar pertemuan rutin, tetapi juga ruang kolaborasi antarrelawan.
“Ada sekitar 500 peserta yang mengikuti jambore selama dua hari mulai 16–17 April 2026,” kata Endang, Kamis (16/4/2026).
Beragam kegiatan digelar dalam jambore ini, mulai dari kemah bersama, diskusi antarrelawan, hingga aksi sosial langsung bagi masyarakat. Layanan kesehatan gratis dan donor darah menjadi bagian dari kegiatan yang menyentuh warga sekitar.
Tak hanya itu, peserta juga melakukan aksi lingkungan. Sebanyak 400 pohon nangka ditanam sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Sebelum acara puncak, rangkaian kegiatan sosial juga telah dilakukan, seperti khitanan massal bagi 30 anak, pembagian sembako untuk lansia, serta santunan kepada 500 anak yatim piatu di berbagai wilayah DIY.
Endang menegaskan jambore ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan penguatan semangat relawan.
“Kegiatan ini menjadi ajang untuk bertukar pikiran, saling berdiskusi, saling menguatkan, serta terus bekerja dengan hati sesuai tugas masing-masing,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyebut PSKS memiliki peran strategis di tengah masyarakat.
“Seluruh anggota PSKS DIY terus semangat untuk membangun keadilan dan kemakmuran bagi sesama,” kata Mbak Endah.
Menurutnya, perbedaan pengalaman antarrelawan justru menjadi kekuatan untuk saling belajar dan meningkatkan kualitas pelayanan sosial di lapangan.
Sementara itu, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menilai jambore ini sebagai proses pembelajaran yang penting.
“Jambore ini bukan sekadar kegiatan rekreatif atau konsolidasi biasa, melainkan proses pembelajaran untuk memperkuat kapasitas PSKS agar dapat bergerak dalam satu tujuan yang terhubung dan saling percaya,” katanya.
Dengan berbagai kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat, jambore ini diharapkan mampu memperkuat peran relawan sosial sebagai garda terdepan dalam penanganan masalah sosial di DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kalurahan di Gunungkidul wajib mengalokasikan dana desa untuk program padat karya pada 2026. Program ini ditujukan untuk menyerap tenaga kerja lokal.
Satpol PP Bantul menertibkan reklame tak berizin dan menunggak pajak di Sedayu hingga Kasihan untuk tingkatkan PAD dan keselamatan jalan.
Tecno POVA 8 resmi debut dengan baterai 8000 mAh, layar Alive Matrix, Dimensity 7100, harga mulai Rp5 jutaan.
Istilah "soccer" ternyata lahir di Oxford, Inggris pada 1880-an, bukan ciptaan AS. Simak sejarah perjalanan kata yang memecah belah dunia sepak bola.
Piala Dunia 2026 membuat fans Indonesia harus begadang. Mayoritas pertandingan, termasuk semifinal dan final, digelar pada pukul 02.00 WIB.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengajak masyarakat aktif melaporkan judi online yang menjerat anak. Dampaknya dinilai mengancam kesehatan mental hingga prestasi bela