Dies Natalis UNSA ke-28, Astrid Soroti Makna Estafet Antargenerasi
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Pusat gempa Bantul, Selasa (27/1/2026) berada di darat. - ist/BMKG
Harianjogja.com, JOGJA — Kawasan selatan Pulau Jawa, termasuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dikenal sebagai daerah dengan potensi tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Hal ini disebabkan oleh letaknya yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif atau zona subduksi, yang menjadi sumber aktivitas seismik di Indonesia.
Menurut Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Ardhianto Septiadhi, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Namun demikian, potensi kejadian gempa di suatu wilayah dapat dikaji melalui penelitian ilmiah dan teknologi kebumian.
Salah satu hasil kajian yang kerap disalahartikan adalah estimasi magnitudo maksimum gempa, seperti potensi gempa hingga M 8,7 di zona subduksi selatan Jawa. Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah prediksi waktu kejadian, melainkan parameter ilmiah yang digunakan sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana.
Dalam studi kegempaan, dikenal pula konsep recurrence interval atau periode ulang gempa, yaitu perkiraan rata-rata jarak waktu antar kejadian gempa besar pada suatu segmen patahan atau megathrust. Namun, konsep ini bersifat probabilistik dan memiliki rentang waktu yang panjang, sehingga tidak bisa dijadikan acuan pasti kapan gempa akan terjadi.
“Pemahaman yang tepat sangat penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan informasi ilmiah sebagai prediksi kejadian,” jelasnya.
Berbagai hasil kajian tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana. Di antaranya melalui penyusunan peta bahaya gempa dan tsunami, penentuan jalur evakuasi, hingga pengembangan sistem peringatan dini yang lebih cepat dan akurat.
Selain itu, hasil riset juga menjadi acuan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur tahan gempa, guna meminimalkan dampak kerusakan apabila bencana terjadi.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tingkat literasi kebencanaan masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa maupun potensi tsunami.
Dengan pemahaman yang utuh, informasi mengenai potensi gempa tidak lagi menimbulkan kepanikan, melainkan menjadi bekal penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan.
Penguatan sistem mitigasi bencana, didukung kajian ilmiah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan mampu menciptakan ketahanan yang lebih baik bagi wilayah DIY dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dies Natalis ke-28 UNSA di Stadion Sriwedari diisi senam sehat dan lomba estafet. Astrid Widayani menyoroti makna estafet antargenerasi.
Riset McKinsey memproyeksikan 41 juta permintaan pekerjaan hingga 2035, meski otomatisasi dapat menekan 36 juta posisi di AS.
V BTS resmi menjadi Global Brand Ambassador Nothing. Ia membintangi kampanye Headphone (1) Pro yang hadir dengan triple-driver dan ANC.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) untuk simpanan rupiah dan valuta asing (valas) di perbankan
Sering cas motor listrik semalaman? Kenali pengaruhnya terhadap baterai, charger, sistem listrik, dan keamanan pengisian.
Spanyol menyepakati larangan penggusuran hingga 2030 setelah kasus Maricarmen Abascal memicu protes terkait krisis perumahan.