Kuota Transmigrasi Bantul Anjlok, 2026 Hanya Satu KK Diberangkatkan
Kuota transmigrasi Bantul 2026 turun drastis. Dari tiga KK pada tahun lalu, kini hanya satu KK yang mendapat kesempatan berangkat.
Rumah duka korban pengeroyokan. - Harian Jogja/Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL—Tim polisi masih menyisir lapangan secara intensif untuk menangkap lima anggota geng remaja pelaku pengeroyokan yang tewaskan pelajar Ilham Dwi Saputra (16) di Lapangan Gadung Mlati. Meski dua tersangka utama BLP (18) dan YP (21) sudah diringkus karena memukul korban secara langsung, pengejaran tak henti demi ungkap seluruh eksekutor.
Pengejaran ini prioritas utama Polres Bantul sejak Rabu (22/4/2026). Kasat Reskrim AKP Achmad Mirza optimistis segera menjerat sisa pelaku.
“Lima orang lainnya masih kami buru. Kami optimistis bisa segera mengungkap seluruh pelaku,” tegas Mirza di Mapolres Bantul.
Petunjuk Penjemput Jadi Kunci Buruan
Ayah korban, Sugeng Riyanto, ungkap info krusial. Dua orang tak dikenal jemput Ilham naik sepeda motor sekitar pukul 22.00 WIB sebelum kejadian tragis Selasa (14/4/2026).
Polisi dalami peran masing-masing pelaku dari keterangan dua tersangka ditahan. Aksi bermula interogasi sepihak soal keanggotaan geng motor.
“Korban sempat ditanya apakah tergabung dalam geng tertentu. Karena tidak mengakui, salah satu pelaku mulai memukul dan diikuti oleh yang lain,” jelas Mirza.
Warga Diimbau Bantu Kejar Pelaku Lari
Dugaan perencanaan balas dendam terus diusut lewat saksi tambahan. Lima pelaku sisa diduga kabur pasca pengeroyokan di Lapangan Gadung Mlati, Pandak.
Polisi serukan partisipasi masyarakat. “Kami mengimbau masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaan pelaku lain agar segera melapor guna mempercepat proses pengungkapan kasus,” pungkas Mirza.
Kekerasan remaja ini picu kekhawatiran warga Bantul soal geng motor. Polres harap buruan cepat selesai cegah insiden serupa.
Disiksa di Lapangan
Korban sebelumnya mengalami luka serius di sekujur tubuh dan tidak sadarkan diri sejak dibawa ke Rumah Sakit Saras Adyatma. Selama masa perawatan, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa penganiayaan tersebut terjadi pada Selasa (14/4/2026) malam di Lapangan Gadung Mlati, di Pandak, Bantul. Sebelum kejadian, IDS dijemput dua orang yang dikenalnya dari rumah sekitar pukul 22.00 WIB menggunakan sepeda motor.
Ayah korban, Sugeng Riyanto, mengungkapkan saat itu dirinya sudah tertidur sejak pukul 21.30 WIB. Ia baru mengetahui anaknya dijemput setelah kejadian berlangsung.
“Dua orang pakai NMax datang ke rumah sekitar jam 22.00 WIB dan mengajak anak saya pergi,” ujar Sugeng saat ditemui di rumah duka, Senin (20/4/2026).
Setelah dijemput, korban sempat dibawa ke belakang SMAN 1 Bambanglipuro. Di lokasi tersebut, sejumlah kakak kelas dan rekan lainnya sudah menunggu. Tidak lama kemudian, IDS kembali dibawa oleh dua orang berbeda menuju Lapangan Gadung Mlati.
Kecurigaan muncul dari salah satu teman korban yang kemudian membuntuti perjalanan tersebut. Saat tiba di lokasi, korban diduga sudah ditunggu oleh sekitar 10 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kuota transmigrasi Bantul 2026 turun drastis. Dari tiga KK pada tahun lalu, kini hanya satu KK yang mendapat kesempatan berangkat.
DJP menetapkan pemungutan pajak marketplace mulai 1 Agustus 2026. Berlaku bagi seller beromzet di atas Rp500 juta per tahun.
Kemenkes menyebut putusan MK yang menolak uji materi UU Kesehatan memperkuat dasar hukum penanganan KLB dan wabah di Indonesia.
Kemenhut mencatat 12,3 juta hektare lahan kritis di Indonesia membutuhkan rehabilitasi di tengah ancaman El Nino dan meningkatnya risiko karhutla.
Meksiko memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Ekuador 2-0 di Stadion Azteca, Mexico City.
BPS mencatat inflasi Juni 2026 sebesar 0,44% secara bulanan. Kenaikan dipicu sektor transportasi, BBM, dan harga sejumlah komoditas.