Terdampak Tol Jogja-Solo, Pembangunan SDN Nglarang Dikebut Mei
Pembangunan gedung baru SDN Nglarang terdampak Tol Jogja-Solo di Sleman ditarget mulai Mei 2026 setelah pematokan lahan rampung.
Sapi, hewan kurban - Ilustrasi freepik
Harianjogja.com, SLEMAN— Kebutuhan hewan kurban di Kabupaten Sleman belum sepenuhnya terpenuhi, terutama untuk jenis sapi dan domba. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sleman bersama DIY turun langsung melakukan pemantauan stok, harga, serta kesehatan ternak di kandang kelompok dan Pasar Hewan Ambarketawang, Selasa (5/5/2026).
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyampaikan ketersediaan sapi saat ini masih jauh di bawah kebutuhan masyarakat. Data terbaru menunjukkan stok sapi sekitar 3.854 ekor, sementara kebutuhan mencapai 9.235 ekor. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 5.381 ekor.
“Kita masih memantau, karena biasanya masyarakat juga membeli dari pasar tiban atau pedagang di pinggir jalan,” ujar Danang.
Untuk jenis kambing, kondisi justru surplus. Stok kambing mencapai 4.002 ekor dari kebutuhan 3.050 ekor, sehingga terdapat kelebihan sekitar 952 ekor. Sementara itu, stok domba juga masih defisit cukup besar, yakni 7.811 ekor dari kebutuhan 15.750 ekor, atau kurang sekitar 7.939 ekor.
Meski terjadi kekurangan, Danang optimistis kebutuhan kurban tetap bisa dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah. Ia menyebut, distribusi ternak dari wilayah lain menjadi solusi untuk menutup kekurangan yang ada di Sleman.
Selain stok, harga ternak juga mengalami kenaikan. Harga sapi dilaporkan naik sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per ekor. Namun, kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar dan tidak memberatkan masyarakat.
“Walaupun ada kenaikan, masih terjangkau dan masyarakat tetap bisa melaksanakan kurban,” katanya.
Dari sisi kesehatan, pemerintah memastikan pengawasan terus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ternak. Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman rutin melakukan vaksinasi serta pemantauan penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan antraks.
Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Rofiq Andriyanto, menjelaskan vaksinasi antraks difokuskan di wilayah perbatasan, seperti di Gayamharjo dan Sambirejo, Prambanan.
“Untuk PMK, kasusnya sudah menurun signifikan, hanya satu sampai dua ekor per bulan. Vaksinasi tetap dilakukan setiap enam bulan,” jelasnya.
Selain itu, pengawasan di pasar hewan juga diperketat. Setiap kendaraan pengangkut ternak wajib melalui proses disinfeksi (dipping), serta dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum hewan masuk pasar.
Langkah ini diharapkan mampu memastikan hewan kurban yang beredar di masyarakat tetap sehat dan aman dikonsumsi.
Dengan pengawasan ketat, pasokan tambahan dari luar daerah, serta koordinasi lintas instansi, Pemkab Sleman optimistis kebutuhan hewan kurban tetap dapat terpenuhi menjelang Iduladha, meski saat ini masih terjadi defisit pada beberapa jenis ternak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan gedung baru SDN Nglarang terdampak Tol Jogja-Solo di Sleman ditarget mulai Mei 2026 setelah pematokan lahan rampung.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.
Tiga calon Sekda Sleman sudah dikantongi Bupati. Tinggal tunggu restu Sri Sultan sebelum pelantikan.