Api Misterius di Sleman: Warga Disarankan Tinggal di Lantai Dua Rumah

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Sabtu, 30 Mei 2026 21:57 WIB
Api Misterius di Sleman: Warga Disarankan Tinggal di Lantai Dua Rumah

Tim Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta melakukan investigasi dan peninjauan di salah satu rumah warga di Seyegan pada Sabtu (30/5/2026). Peninjauan itu dilakukan menyusul munculnya api misterius dalam sepekan ke belakang. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.

Harianjogja.com, SLEMAN—Fenomena api misterius di Seyegan, Sleman, yang diduga berkaitan dengan gas metana masih terus menjadi perhatian tim peneliti. Sebagai langkah mitigasi, Tim Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta merekomendasikan penghuni rumah yang terdampak untuk sementara waktu meninggalkan lantai dasar dan tinggal di lantai dua selama satu bulan ke depan.

Rekomendasi tersebut muncul setelah investigasi lapangan yang dilakukan tim FTME UPN Veteran Yogyakarta mengarah pada dugaan adanya migrasi gas metana bertekanan rendah dari kawasan yang pada masa lalu merupakan area rawa. Selain itu, tim juga menemukan singkapan batuan lanau yang menjadi indikator kondisi geologi wilayah tersebut.

Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Basuki Rahmad, menyarankan penghuni rumah agar menempati lantai dua selama kurang lebih satu bulan sembari menunggu hasil pemantauan lanjutan.

"Tinggal di lantai dua, [lantai satu] didiamkan dulu sampai satu bulan, maka kami akan memantau, kalau ada perkembangan kita akan memantau," kata Basuki pada Sabtu (30/5/2026).

Menurut Basuki, selama masa pemantauan berlangsung, area lantai dasar sebaiknya tidak digunakan terlebih dahulu. Saat peninjauan dilakukan pada Sabtu, tim tidak menemukan kemunculan api di lokasi tersebut.

"Lantai dasar dikosongkan dulu, hari ini tidak ada api," ujarnya.

Tim FTME UPN Veteran Yogyakarta berencana melakukan evaluasi ulang setelah masa pemantauan selama satu bulan berakhir. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan tingkat risiko fenomena api misterius yang terjadi di Seyegan.

"Jadi kami sampaikan untuk mitigasinya kami berharap mungkin kita tunggu saja, saran kami satu bulan. Setelah itu kita lihat, kalau memang sudah tidak ada semburan gas lagi, mungkin kita klasifikasi musibah ini bisa sedang atau ringan," ungkapnya.

Pemantauan tidak hanya dilakukan oleh FTME UPN Veteran Yogyakarta. Tim juga akan berkoordinasi dengan BPBD serta Dinas PUPESDM untuk mengawasi perkembangan dugaan kemunculan gas metana secara berkala, baik setiap satu minggu maupun dua minggu sekali.

"Tapi intinya, insyaAllah gas ini memang tidak berbahaya dengan secara manual tekanannya rendah," jelas Basuki.

Dalam kunjungan ke rumah warga yang mengalami fenomena api misterius tersebut, Basuki juga menunjukkan sampel batuan yang ditemukan di kawasan Sungai Nepen. Menurutnya, batuan lanau yang ditemukan memiliki karakteristik yang memungkinkan gas tersimpan di dalam lapisan batuan tersebut.

"Jadi ini batuannya, yang diindikasikan kuat gas itu akan tersimpan di dalam batuannya ini. Ada di Sungai Nepen tadi. Kalau mau lihat, gelembung gasnya ada di bawah jembatan," tuturnya.

Terkait kemungkinan penyebaran gas metana ke wilayah lain, Basuki menyebut potensi tersebut tetap ada. Namun, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan dan ke arah mana migrasi gas akan berlangsung.

"Kalau pertanyaan kemungkinan, semua serba kemungkinan, cuma kita tidak tahu kapan. Jadi gas itu terus bermigrasi," ungkapnya.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih rinci mengenai sumber serta jalur migrasi gas metana, FTME UPN Veteran Yogyakarta mengusulkan dilakukannya survei geofisika bawah permukaan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengetahui ukuran reservoir gas, ketebalan lapisan penyimpan gas, hingga potensi sebarannya.

"Maka kami tadi saran kalau memang harus lebih rinci. Jadi memang kita lakukan rekaman geofisika, melihat kondisi bawah permukaan, seberapa besar reservoir gas ini tersimpan, luasnya seberapa, tebal bawah, kita baru tahu," jelasnya.

"Termasuk juga kita lihat rekaman geofisika, crack atau retakannya itu arahnya ke mana saja. Jadi nanti bisa untuk mitigasi Pak Bupati untuk kemungkinan-kemungkinan akan mengarah ke mana nanti," imbuh Basuki.

Basuki menambahkan, hasil rekaman geofisika nantinya juga dapat digunakan untuk memetakan arah retakan bawah tanah yang menjadi jalur migrasi gas metana. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi lanjutan apabila fenomena api misterius di Seyegan kembali muncul atau berpotensi meluas ke area lain di sekitar lokasi.

Sebelumnya, Tim Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta melakukan investigasi dan peninjauan langsung di salah satu rumah warga di Seyegan pada Sabtu (30/5/2026). Kegiatan tersebut dilakukan menyusul kemunculan api misterius yang dilaporkan terjadi berulang dalam sepekan terakhir dan diduga berkaitan dengan keberadaan gas metana di bawah permukaan tanah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online