Fenomena Api Seyegan Diduga Dipicu dari Limbah Pemotongan Ayam

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Kamis, 04 Juni 2026 11:37 WIB
Fenomena Api Seyegan Diduga Dipicu dari Limbah Pemotongan Ayam

Tim PKPE FT UGM melakukan sejumlah pengecekan di rumah yang muncul api misterius di Seyegan pada Sabtu (30/5/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, SLEMAN—Misteri kemunculan api di sebuah rumah warga Kapanewon Seyegan mulai menemukan titik terang. Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM mendeteksi keberadaan gas hidrogen dalam kadar tinggi di sejumlah titik lokasi yang sebelumnya menjadi sumber munculnya api.

Koordinator Tim PKPE FT UGM, Prof. Alva Edy Tontowi, menjelaskan penelitian telah dilakukan sejak pekan lalu melalui beberapa tahap observasi dan pengukuran langsung di lapangan.

Pada observasi awal yang dilakukan Sabtu (30/5/2026), tim menggunakan kamera termal untuk mendeteksi kemungkinan adanya anomali panas di area rumah. Hasilnya, memang ditemukan perbedaan suhu, tetapi tidak menunjukkan peningkatan signifikan.

"Namun tidak signifikan, hanya berkisar sampai 29 derajat Celsius. Artinya suhu di area rumah dan sekitarnya masih berada pada rentang suhu ambien dan tidak dijumpai anomali tinggi," ujar Alva dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026) malam.

Api Muncul Saat Pengukuran Gas

Penelitian berlanjut pada Senin (1/6/2026) dengan fokus pada pengukuran kandungan gas di lokasi. Pada tahap ini, tim menemukan anomali gas hidrogen yang cukup tinggi.

Di area kamar mandi yang sebelumnya sempat menjadi lokasi munculnya api, alat ukur mencatat kandungan gas hidrogen mencapai angka 0,11. Saat proses pengukuran berlangsung, api kembali muncul di salah satu ruangan rumah tersebut.

Tim kemudian melakukan pengukuran ulang di dekat titik api dan mendapati kadar gas hidrogen meningkat tajam hingga mencapai angka 0,40.

"Pada waktu yang sama terjadi kemunculan api di salah satu kamar. Tim mengukur kandungan gas di dekat titik api dan hasilnya terbaca adanya gas hidrogen yang sangat tinggi, sampai 0,40," kata Alva.

Limbah Ayam Diduga Menjadi Sumber Gas

Observasi ketiga dilakukan pada Rabu (3/6/2026). Dalam pemeriksaan lanjutan itu, tim tidak menemukan keberadaan gas mudah terbakar lain selain hidrogen.

Berdasarkan hasil sementara, peneliti menyimpulkan bahwa fenomena api di Seyegan memiliki keterkaitan kuat dengan gas hidrogen yang terakumulasi di dalam rumah.

Menurut Alva, terdapat dua kemungkinan sumber utama gas tersebut, yakni limbah cair organik dan gas yang berasal dari dalam tanah. Namun, dugaan terkuat sementara mengarah pada limbah organik rumah pemotongan ayam yang berada di sekitar lokasi.

"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," ujarnya.

Saat ini sampel limbah masih dianalisis di laboratorium untuk memastikan hubungan antara aktivitas pengolahan limbah dan kemunculan gas hidrogen tersebut.

Fosfin Diduga Menjadi Pemantik Api

Selain hidrogen, tim juga mengkaji kemungkinan keterlibatan gas fosfin (PH3), yakni gas yang dikenal sangat mudah terbakar pada suhu kamar.

Gas fosfin diduga dapat terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang ayam maupun bagian keras bulu ayam yang mengalami proses pembusukan atau fermentasi.

Menurut Alva, keberadaan fosfin sulit terdeteksi karena gas tersebut akan langsung terbakar ketika bersentuhan dengan oksigen di udara.

"Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," katanya.

Meski demikian, dugaan keterlibatan fosfin masih bersifat hipotesis dan membutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan mekanisme kemunculan api yang terjadi di lokasi tersebut.

UGM Beri Rekomendasi Pencegahan

Sambil menunggu hasil penelitian lebih lanjut, tim UGM memberikan sejumlah rekomendasi untuk meminimalkan risiko kemunculan api kembali.

Pemilik rumah diminta membuka ventilasi dan sirkulasi udara selebar mungkin agar gas tidak terakumulasi di dalam ruangan.

Tim juga menyarankan penggunaan blower atau kipas angin untuk membantu mengusir kemungkinan rembesan gas yang masuk ke dalam rumah.

"Pasang blower dan atau kipas angin untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api," ujar Alva.

Selain itu, seluruh barang yang mudah terbakar disarankan dipindahkan sementara dari dalam rumah demi mengurangi risiko kebakaran.

UGM juga akan membantu melakukan penjenuhan tanah menggunakan cairan basa berupa air kapur. Langkah ini bertujuan menekan kemungkinan aktivitas bakteri Clostridium yang diduga berperan dalam pembentukan gas hidrogen.

Penelitian lanjutan masih akan dilakukan untuk memastikan sumber gas secara pasti, termasuk melalui penggalian dangkal di sejumlah titik guna memeriksa kemungkinan adanya gas yang berasal dari dalam tanah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online