Butet Kartaredjasa Serahkan Lukisan Jalan Salib ke Paus di Vatikan

Yosef Leon
Yosef Leon Jum'at, 19 Juni 2026 20:17 WIB
Butet Kartaredjasa Serahkan Lukisan Jalan Salib ke Paus di Vatikan

Seniman dan budayawan Butet Kartaredjasa (kanan) menyerahkan lukisan kaca Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV (kiri) dalam audiensi umum di Vatikan, 17 Juni 2026. Dokumentasi Istimewa

Harianjogja.com, BANTUL—Seniman sekaligus budayawan Butet Kartaredjasa menyerahkan satu set lukisan kaca bertema Jalan Salib bernuansa Jawa kepada Paus Leo XIV dalam audiensi umum di Vatikan pada 17 Juni 2026. Karya tersebut menjadi simbol perjumpaan lintas iman dan budaya yang menggabungkan tradisi Katolik dengan kearifan lokal Jawa melalui tokoh-tokoh Punakawan.

Karya ini tidak sekadar seni rupa, tetapi juga menjadi ruang dialog antara nilai spiritual Katolik dan tradisi budaya Jawa yang telah mengakar di masyarakat. Lukisan kaca tersebut menampilkan reinterpretasi 14 stasi Jalan Salib dengan pendekatan visual khas Jawa.

Butet menegaskan bahwa gagasan tersebut lahir dari semangat pluralisme yang ia pegang dalam berkesenian. Ia ingin menghadirkan tafsir baru terhadap tradisi religius Katolik melalui bahasa visual yang dekat dengan masyarakat Jawa.

“Intinya mewujudkan pluralisme, lintas iman dan lintas kebudayaan. Saya Kristen KTP, Bu Ageng istri saya seorang Hajjah, sementara Jalan Salib adalah tradisi Katolik. Ditafsirkan secara Jawa menggunakan lukisan kaca. Itu menjadi tafsir kultural yang mempertemukan berbagai latar belakang,” kata Butet, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, Paus Leo XIV menyambut karya tersebut dengan hangat dan memberikan apresiasi terhadap upaya menerjemahkan nilai-nilai religius ke dalam simbol budaya lokal.

“Beliau sangat senang. Kok ada orang dari jauh, dari timur, menafsirkan Jalan Salib menggunakan tokoh lokal versi Jawa yang sangat lokal. Saya bilang ini dari Jawa, Indonesia, beliau senang,” ujarnya.

Dalam karya tersebut, terdapat 14 lukisan kaca yang masing-masing menggambarkan 14 stasi Jalan Salib, mulai dari penjatuhan hukuman hingga pemakaman Yesus. Namun, seluruh narasi visual itu tidak menggunakan figur konvensional, melainkan tokoh pewayangan Jawa.

Tokoh-tokoh Punakawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong—menjadi medium utama dalam penyampaian pesan spiritual dan kemanusiaan dalam karya tersebut.

Butet bahkan menempatkan Semar sebagai representasi figur Yesus dalam tafsirnya. Ia menilai Semar memiliki kedalaman filosofi dan spiritualitas yang kuat dalam tradisi Jawa.

“Yesus saya gambarkan sebagai Semar karena Semar itu titisan dewa. Tokohnya bisa berganti-ganti pada setiap frame dan jadilah 14 stasi itu,” katanya.

Penggunaan Punakawan berangkat dari tradisi lukisan kaca Jawa yang selama ini sarat pesan moral dan filosofi kehidupan. Menurut Butet, pendekatan ini membuat pesan Jalan Salib lebih mudah dipahami masyarakat karena menggunakan simbol yang akrab.

Ia menilai Jalan Salib sendiri pada dasarnya juga merupakan sarana penyampaian nilai kemanusiaan, sehingga dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa budaya.

Proses penyerahan karya tersebut tidak terjadi secara instan. Butet menyebut keterlibatan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Tahta Suci Vatikan menjadi faktor penting karena proses audiensi dengan Paus memiliki prosedur yang ketat.

Ide awal karya ini muncul pada akhir 2024 setelah dirinya pulih dari sakit. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi momen refleksi spiritual yang mendorong penyelesaian karya.

“Setelah sembuh dari sakit saya merasa mendapat mukjizat. Saya merasa menerima tugas secara spiritual,” ujarnya.

Dari 14 lukisan yang dibuat, Butet secara simbolis menyerahkan stasi ke-9 kepada Paus Leo XIV. Ia memilih bagian tersebut karena dianggap memiliki makna khusus sekaligus menampilkan seluruh tokoh Punakawan dalam satu komposisi.

Karya ini diproduksi terbatas, masing-masing hanya 200 set cetakan. Butet berharap karya tersebut dapat menjadi simbol dialog antara iman dan budaya ketika suatu saat dipajang di ruang publik Vatikan.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online