ARTJOG 2026: Ruang Pertemuan Seni Lintas Generasi

Media Digital
Media Digital Minggu, 21 Juni 2026 08:27 WIB
ARTJOG 2026: Ruang Pertemuan Seni Lintas Generasi

(dua dari kanan) CEO ARTJOG, Heri Pemad dan (dua dari kiri) Kurator ARTJOG, Farah Wardani dalam konferensi pers di JNM, Jumat (19/6/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.

JOGJA—ARTJOG 2026 resmi dibuka sebagai ruang pertemuan lintas generasi yang mempertemukan berbagai ekspresi seni dalam satu panggung besar di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6/2026). Perhelatan seni tahunan ini akan berlangsung panjang selama hampir tiga bulan, mulai 19 Juni hingga 30 Agustus 2026.

Tahun ini, ARTJOG mengusung tema besar ARS LONGA Trilogia untuk periode 2026–2028. Seri pembuka bertajuk ARS LONGA: GENERATIO hadir sebagai upaya membangun dialog antar generasi dalam praktik seni, sekaligus merefleksikan kembali peran seni di tengah dinamika sosial yang terus berubah.

Tema GENERATIO tidak hanya berbicara soal perbedaan usia, tetapi juga membuka ruang bagi pertemuan gagasan lintas generasi. Seni diposisikan sebagai medium untuk merespons ketidakpastian, baik sebagai bentuk perlawanan, produksi pengetahuan, hingga proses penyembuhan.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara yang hadir dalam pembukaan menekankan pentingnya nilai budaya dalam praktik seni. Ia menyebut perjalanan panjang ARTJOG telah menjadi bagian dari sejarah penting perkembangan seni di Jogja.

“Prinsip Hamemayu Hayuning Bawana mengajarkan bahwa kebudayaan harus mampu memperindah dan memelihara kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, kekuatan budaya tidak terletak pada sekat-sekat generasi, melainkan pada kemampuannya menyatukan perbedaan. Ia menegaskan seni tidak mengenal batas antara masa lalu dan masa depan, melainkan menjadi ruang perjumpaan yang memperkaya perspektif.

CEO ARTJOG, Heri Pemad, menyebut ARTJOG sebagai “lebaran seni” bagi para pelaku dan penikmat seni. Ia menggambarkan momentum ini sebagai ajang pulang kampung bagi para seniman untuk saling terhubung dan memperpanjang napas kehidupan seni.

“ARTJOG menjadi lebaran seni paling panjang, hampir tiga bulan. Kami berharap dampaknya luas dan membawa berkah bagi semua,” kata Heri.

Selama gelaran berlangsung, tercatat hampir 200 pameran akan digelar, disertai berbagai agenda lain seperti diskusi, pertunjukan, hingga aktivitas seni berbasis komunitas. Rangkaian acara ini diharapkan mampu menjadikan seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kurator ARTJOG, Farah Wardani, menjelaskan trilogi ARS LONGA merupakan refleksi menjelang dua dekade ARTJOG pada 2027. Ia menegaskan bahwa di tengah berbagai dinamika, seniman tetap konsisten berkarya.

“Seni itu panjang. Dalam kondisi apa pun, praktik seni akan terus berjalan,” ujarnya.

Di tengah perhelatan ini, sempat muncul polemik terkait keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sebagai salah satu mitra strategis. Menanggapi hal tersebut, Heri Pemad menegaskan bahwa kerja sama tersebut sebatas dukungan sponsorship.

Menurutnya, ARTJOG dan DHF telah berkomunikasi untuk mengambil langkah terbaik yang menghormati berbagai pihak, tanpa mengurangi semangat kolaborasi dalam mendukung ekosistem seni.

“Kami mengutamakan agar ARTJOG tetap berjalan dengan baik dan lancar,” jelasnya.

Salah satu karya yang menyita perhatian datang dari Sirin Farid Stevy bersama Paseduluran Nandur Banyu. Mereka menghadirkan instalasi berupa dua sumur—satu dari batu karst Gunungkidul dan satu lagi dari tumpukan sampah.

Karya ini menjadi simbol refleksi terhadap krisis lingkungan, khususnya persoalan air dan eksploitasi alam. Farid menegaskan bahwa karya tersebut bukan sekadar instalasi visual, melainkan bagian dari praktik seni yang hidup di tengah masyarakat.

“Sumur ini simbol. Praktik seni yang sebenarnya terjadi di kehidupan sehari-hari, bersama masyarakat,” ujarnya.

Melalui karya tersebut, Farid juga menyoroti aktivitas komunitasnya yang berfokus pada pelestarian sumber air, mulai dari penanaman pohon saat musim hujan hingga kegiatan bersih sumber saat musim kemarau.

ARTJOG 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga ruang refleksi kolektif tentang peran seni dalam kehidupan. Dengan mengusung semangat lintas generasi, perhelatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi Jogja sebagai pusat seni dan budaya yang terus hidup dan berkembang. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online