Relokasi Korwil Mlati Dipastikan Tak Ganggu Layanan Pendidikan
Pemkab Sleman pastikan relokasi Korwil Mlati tak ganggu layanan pendidikan. Penataan lahan dorong PAD dan program ekonomi.
Raden Mas Gusthi Lantika Marrel Suryokusumo atau Mas Marrel berdialog langsung dengan warga, menyerap berbagai aspirasi mulai dari persoalan air hingga pengembangan wisata kopi di Dusun Tegalsari, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Senin (23/6/2026)
Harianjogja.com, KULONPROGO— Suasana sore di lereng Pegunungan Menoreh, Senin (22/6/2026), terasa hangat dengan suguhan kopi robusta dan singkong goreng. Di Dusun Tegalsari, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Raden Mas Gusthi Lantika Marrel Suryokusumo atau Mas Marrel berdialog langsung dengan warga, menyerap berbagai aspirasi mulai dari persoalan air hingga pengembangan wisata kopi.
Kepala Bebadan Pangreksa Loka (BPL) Keraton Yogyakarta itu hadir tidak sekadar menikmati kopi khas Menoreh, tetapi juga mendengarkan kebutuhan masyarakat. Dalam pertemuan santai bersama perangkat kalurahan, Kelompok Tani Tegal Mulyo, dan warga, berbagai isu strategis mengemuka.
Lurah Purwosari, Sri Murtini, mengungkapkan persoalan utama yang dihadapi warga saat ini adalah keterbatasan pasokan air untuk lahan pertanian, khususnya di wilayah timur kalurahan. Padahal, terdapat sekitar 25 hektare sawah yang masuk program Lumbung Mataraman.
"Selama ini petani hanya mengandalkan air hujan, sehingga rata-rata hanya bisa tanam padi sekali dalam setahun. Kalau musim kemarau panjang, hasilnya langsung turun," ujarnya, Senin (22/6/2026)
Warga berharap sumber mata air di wilayah barat Purwosari, tepatnya di kawasan Tegalsari, dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah di wilayah timur. Saat ini, aliran air tersebut justru mengalir ke wilayah Jawa Tengah dan belum dimanfaatkan optimal oleh warga setempat.
Menurut Sri, secara geografis kondisi tersebut memungkinkan diterapkannya sistem irigasi perpipaan berbasis gravitasi. Jarak antara sumber air dan lahan pertanian diperkirakan mencapai delapan kilometer.
"Sudah ada warga yang mencoba mengalirkan air dengan pipa sederhana dan berhasil. Harapannya ini bisa dikembangkan lebih besar agar menjangkau seluruh sawah," katanya.
Potensi Wisata Kopi dan Alam
Selain sektor pertanian, warga juga menyoroti potensi wisata berbasis alam di kawasan Menoreh. Hamparan kebun kopi dan teh yang luas dinilai memiliki daya tarik untuk dikembangkan menjadi wisata edukasi kopi.
Wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga bisa belajar langsung proses budidaya kopi, mulai dari penanaman hingga penyajian.
"Tren wisata sekarang bukan hanya melihat, tapi juga belajar. Di sini pengunjung bisa merasakan langsung proses kopi dari kebun sampai ke cangkir," ujar Sri.
Selain itu, potensi wisata pengamatan burung (bird watching) juga mulai dikembangkan, didukung kondisi alam yang masih asri.
Namun, pengembangan wisata tersebut masih terkendala infrastruktur, terutama akses jalan yang sempit dan menanjak. Kondisi ini membuat kendaraan besar seperti bus pariwisata sulit menjangkau lokasi.
"Minat wisatawan sebenarnya tinggi, tapi sering terkendala akses. Ini yang perlu ditingkatkan," katanya.
Dukungan dan Harapan Warga
Sri juga mengapresiasi dukungan pemerintah melalui Dana Keistimewaan DIY yang telah membantu pengembangan kelompok tani, mulai dari bantuan bibit, kandang komunal, hingga pembangunan pendopo tani.
Kini, pendopo tersebut menjadi pusat kegiatan warga yang sebelumnya harus berpindah-pindah tempat.
"Kalau dulu rapat di rumah warga, sekarang sudah punya tempat sendiri yang lebih nyaman," ujarnya.
Melalui pertemuan ini, warga berharap berbagai potensi di Purwosari dapat dikembangkan lebih optimal, baik dari sektor pertanian maupun pariwisata.
"Kalau kebutuhan air terpenuhi, hasil pertanian pasti meningkat. Itu harapan utama kami," kata Sri.
Komitmen Serap Aspirasi
Sementara itu, Mas Marrel menegaskan kunjungan Bebadan Pangreksa Loka ke berbagai wilayah di DIY merupakan bagian dari upaya menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Masukan dari warga akan menjadi bahan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan potensi daerah, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
"Semua aspirasi ini akan kami tindak lanjuti agar pembangunan tetap selaras dengan semangat menjaga keseimbangan alam," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Sleman pastikan relokasi Korwil Mlati tak ganggu layanan pendidikan. Penataan lahan dorong PAD dan program ekonomi.
Bangkok United resmi melepas Pratama Arhan usai kontrak berakhir. Bek Timnas Indonesia itu catat 15 laga di musim terakhirnya.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 23 Juni 2026 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 per perjalanan.
Mas Marrel serap aspirasi warga Purwosari soal air dan wisata kopi di Menoreh. Infrastruktur dan irigasi jadi perhatian utama.
Pemerintah luncurkan SPHP kedelai subsidi Rp2.000/kg untuk perajin tahu tempe. Kuota awal 250.000 ton dengan anggaran Rp500 miliar.
Revisi UU Hak Cipta diingatkan tak membatasi kreativitas digital. Regulasi harus lindungi kreator tanpa mengancam kebebasan berekspresi.