Unik, 3 Pasangan Resmi Menikah di Atas Harley Davidson di Sewon

Yosef Leon
Yosef Leon Selasa, 30 Juni 2026 13:47 WIB
Unik, 3 Pasangan Resmi Menikah di Atas Harley Davidson di Sewon

Tiga pasangan mempelai saat menunjukkan buku nikah seusai melaksanakan proses oernikahan di atas moge di KUA Sewon, Bantul dalam acara yang digelar oleh Golek Garwo Fortais dan Nikah Bareng Nasional, Selasa (30/6/2026) / Harian Jogja-Yosef Leon

Harianjogja.com, BANTUL—Suasana tak biasa terlihat di Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon, Bantul, Selasa (30/6/2026). Tiga pasangan dari DIY dan Jawa Tengah resmi mengikuti prosesi nikah bareng gratis dengan konsep unik, menikah di atas motor gede (moge) Harley Davidson.

Kegiatan tersebut digelar oleh Golek Garwo Fortais bersama Nikah Bareng Nasional, sekaligus menandai 20 tahun penyelenggaraan program sejak pertama kali dimulai pada 2006. Hingga kini, total 19.023 pasangan telah difasilitasi untuk menikah secara gratis melalui program tersebut.

Ketua penyelenggara Ryan Budi Nuryanto mengatakan, konsep pernikahan di atas moge bukan sekadar atraksi, tetapi memiliki makna filosofis tentang kehidupan rumah tangga.

Menurutnya, mengendarai moge membutuhkan keseimbangan, kekuatan, dan ketahanan—nilai yang diharapkan dapat menjadi simbol bagi pasangan dalam membangun keluarga.

“Harapannya para pengantin memiliki ketahanan keluarga yang kuat dan keseimbangan, baik secara lahir maupun batin,” ujar Ryan.

Ia menambahkan, minat masyarakat terhadap program nikah bareng sebenarnya cukup tinggi. Namun, hanya tiga pasangan yang lolos persyaratan administrasi sekaligus menyesuaikan kapasitas lokasi penyelenggaraan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam prosesi ini adalah mahar simbolis berupa uang pecahan lima dolar Amerika Serikat. Angka lima dimaknai sebagai representasi dasar negara serta rukun Islam, sementara penggunaan dolar disebut melambangkan harapan agar pasangan memiliki ketahanan ekonomi di tengah dinamika global.

Salah satu peserta, Wigi Andriyana asal Cilacap, Jawa Tengah, mengaku tertarik mengikuti program tersebut setelah mendapat informasi dari rekannya yang lebih dulu ikut. Ia yang bekerja di Yogyakarta kemudian mendaftarkan diri bersama pasangannya, Aliza, warga Temanggung.

Wigi menilai prosesi tersebut tidak bertentangan dengan aturan maupun hukum, sehingga menjadi pengalaman berkesan dalam hidupnya. Meski masih menghormati tradisi larangan menikah pada bulan Muharam di sebagian daerah, ia tetap memilih melangsungkan akad di Yogyakarta, sementara syukuran keluarga akan digelar setelah Muharam di kampung halaman.

Sementara itu, Aliza mengaku sempat memiliki kekhawatiran karena di daerah asalnya belum pernah ada pernikahan pada bulan Muharam. Namun, ia tetap optimistis prosesi tersebut membawa kebaikan bagi kehidupan rumah tangga mereka.

Dengan konsep unik di atas moge, prosesi nikah bareng ini kembali menjadi sorotan karena memadukan unsur simbolik, budaya, dan pendekatan modern dalam pernikahan massal di Bantul.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online