KPK Akan Supervisi Kasus Febrie Adriansyah, DPR Bentuk Panja
KPK akan menyupervisi penanganan kasus Febrie Adriansyah. DPR membentuk Panja untuk mengawasi proses penyidikan bersama Kejagung dan Polri.
Tanaman Kakao - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai Kabupaten Gunungkidul memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan sektor pariwisata dan komoditas unggulan berbasis sumber daya alam. Pengembangan tersebut dinilai dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian kawasan lindung melalui prinsip pembangunan berkelanjutan.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menyebut kekayaan bentang alam dan potensi komoditas pertanian menjadi modal utama Gunungkidul dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Destinasi Geopark Dinilai Masih Sangat Potensial
Menurut Made, Gunungkidul memiliki banyak destinasi berbasis geopark yang masih terbuka lebar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
"Banyak destinasi geopark yang sangat berpotensi untuk dikembangkan," katanya, Sabtu (11/7/2026).
Ia menjelaskan sebagian besar wilayah Gunungkidul merupakan kawasan lindung. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkan potensi ekonomi selama tetap menjaga fungsi konservasi.
"Mampu mempertahankan kawasan sebagai kawasan lindung, tetapi tidak hanya berhenti di situ dan tidak bisa berbuat apa-apa di kawasan lindung," ujarnya.
Made mengungkapkan pada masa lalu dirinya kerap menerima keluhan mengenai sulitnya mengembangkan potensi daerah karena sekitar 60 persen wilayah Gunungkidul berstatus kawasan lindung.
Kini, menurutnya, pola pikir tersebut mulai berubah. Masyarakat dinilai semakin mampu memanfaatkan potensi yang ada tanpa mengesampingkan upaya pelestarian lingkungan.
Kakao, Kopi, dan Durian Jadi Komoditas Unggulan
Selain sektor pariwisata, Made menilai kondisi tanah dan iklim di Gunungkidul mendukung pengembangan sejumlah komoditas bernilai ekonomi, terutama kakao.
"Jadi, tidak hanya nikmat dikonsumsi, cokelat juga dapat membantu merelaksasi pikiran dan memberikan manfaat bagi kesehatan," katanya.
Ia juga menyebut kopi dan durian memiliki prospek yang menjanjikan untuk terus dikembangkan sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Potensi tersebut semakin kuat karena didukung bentang alam Gunungkidul yang dapat dipadukan dengan pengembangan destinasi wisata berbasis alam.
"Belum lagi kawasan alamnya yang bisa dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata," katanya.
Meski demikian, Made mengingatkan agar seluruh upaya pengembangan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan, terutama di kawasan lindung seperti Gunung Api Purba Nglanggeran.
"Harapan kita semua kawasan ini tetap terjaga sehingga keberlanjutannya tetap ada, jangan sampai dieksplorasi secara berlebihan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan," ujarnya.
Industri Olahan Dongkrak Minat Budidaya Kakao
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan perkembangan kakao di DIY menunjukkan tren positif dan kembali menjadi salah satu komoditas unggulan.
Menurut Aris, nilai ekonomi kakao meningkat setelah tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
"Dulu kakao dijual dalam bentuk bahan mentah, sekarang sudah mulai diolah menjadi berbagai produk," katanya.
Ia mengungkapkan pada masa lalu banyak petani menebang pohon kakao karena harga jualnya dianggap kurang menguntungkan.
Namun, berkembangnya industri pengolahan membuat minat masyarakat untuk kembali membudidayakan kakao meningkat.
"Sekarang ketertarikan masyarakat sudah semakin tinggi ketika kakao mulai diolah menjadi produk bernilai tambah, pohon yang sebelumnya banyak ditebang kini mulai dirawat kembali," ujarnya.
Aris menambahkan hingga saat ini Gunungkidul masih menjadi daerah dengan areal perkebunan kakao terluas di DIY.
"Kurang lebih ada sekitar 5.250 hektare lahan yang ditanami kakao di Gunungkidul," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
KPK akan menyupervisi penanganan kasus Febrie Adriansyah. DPR membentuk Panja untuk mengawasi proses penyidikan bersama Kejagung dan Polri.
ISEAI mengusulkan skema B50 lebih fleksibel melalui Dynamic Blending Policy untuk menekan risiko fiskal dan menjaga keberlanjutan program.
Plt Jampidsus Rudi Margono memastikan penanganan perkara korupsi tetap berjalan usai pengunduran diri Febrie Adriansyah.
Pemda DIY menilai Gunungkidul memiliki potensi besar mengembangkan wisata geopark, kakao, kopi, dan durian dengan prinsip keberlanjutan.
KPK merespons pelimpahan tiga perkara dugaan korupsi terkait Febrie Adriansyah ke Kejaksaan dan mengajak publik menghormati proses hukum.
KPK membuka peluang memeriksa suami Bupati Sukoharjo Etik Suryani dalam kasus dugaan pemerasan di Pemkab Sukoharjo.