Jogja Waspadai Bediding dan Risiko Kebakaran Saat El Nino

Newswire
Newswire Minggu, 12 Juli 2026 07:37 WIB
Jogja Waspadai Bediding dan Risiko Kebakaran Saat El Nino

Ilustrasi suhu dingin - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena El Nino pada musim kemarau 2026. Langkah tersebut dilakukan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut musim hujan tahun ini berpotensi datang lebih lambat dari biasanya.

Selain mengantisipasi kekeringan dan kebakaran, BPBD juga meminta masyarakat mewaspadai fenomena bediding yang menyebabkan suhu udara terasa dingin pada malam hingga pagi hari, namun berubah menjadi panas pada siang hari.

BPBD Siagakan Posko dan Tim Reaksi Cepat

Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Jogja Iswari Mahendrarko mengatakan kesiapsiagaan dilakukan dengan mengoptimalkan Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bersiaga selama 24 jam.

"BPBD meningkatkan kesiapsiagaan melalui Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan serta mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat," katanya di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut Iswari, fenomena bediding yang saat ini mulai dirasakan masyarakat merupakan kondisi yang umum terjadi pada puncak musim kemarau.

Ia menjelaskan minimnya tutupan awan membuat panas matahari lebih mudah mencapai permukaan bumi pada siang hari. Sebaliknya, saat malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara menjadi lebih rendah.

"Akibatnya, masyarakat merasakan perbedaan suhu cukup ekstrem. Pada malam hingga pagi hari udara terasa dingin dengan suhu berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius, sedangkan siang hari suhu dapat mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius," katanya.

Perubahan Suhu Berpotensi Ganggu Kesehatan

BPBD mengingatkan perubahan suhu yang cukup tajam selama musim kemarau dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan masyarakat.

Udara yang lebih kering dan berdebu berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, hingga menurunkan daya tahan tubuh.

Di sisi lain, suhu panas pada siang hari juga meningkatkan risiko dehidrasi dan heat stroke, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.

Risiko Kebakaran Ikut Meningkat

Selain ancaman terhadap kesehatan, musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran.

Menurut Iswari, vegetasi yang mulai mengering, suhu udara yang tinggi, dan embusan angin membuat api lebih mudah membesar apabila terjadi kelalaian.

Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat lebih berhati-hati selama musim kemarau.

"Kami imbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman untuk mencegah terjadinya kebakaran," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online