Nama Kepala BKPPD Gunungkidul Dicatut dalam Surat Mutasi Palsu
Surat mutasi palsu mengatasnamakan Kepala BKPPD Gunungkidul beredar di lingkungan puskesmas. ASN diminta waspada terhadap modus penipuan.
Tangki milik BPBD Gunungkidul pada saat menyalurkan bantuan air bersih ke salah satu bak penampungan air yang dimiliki warga Dusun Sumber, Planjan, Saptosari./Istimewa-BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dampak kekeringan di Kabupaten Gunungkidul terus meluas seiring berlangsungnya musim kemarau yang diprediksi lebih panjang pada tahun ini. Penyaluran bantuan air bersih pun terus diperluas ke sejumlah wilayah yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hingga pertengahan Juli 2026, BPBD Gunungkidul telah menyalurkan 38 tangki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter per tangki kepada masyarakat terdampak. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring meluasnya wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih dalam beberapa waktu ke depan.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan penyaluran bantuan air bersih telah dilaksanakan sejak beberapa waktu lalu. Pada tahap awal, bantuan hanya diberikan kepada warga di Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop.
Namun, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat, lokasi penerima bantuan terus bertambah. Hingga saat ini, penyaluran air bersih juga telah dilakukan untuk warga di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari.
Selain itu, bantuan juga telah disalurkan kepada warga di Padukuhan Guyangan, Kalurahan Giripanggung, Kapanewon Tepus serta di Padukuhan Jarah, Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari.
"Untuk penyaluran air bersih, tahun ini sudah dialokasikan sebanyak 1.150 tangki," kata Purwono, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan penyaluran bantuan air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD Gunungkidul. Sebanyak 12 kapanewon di Gunungkidul juga memiliki alokasi anggaran untuk melaksanakan droping air bersih secara mandiri sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.
Hingga pertengahan Juli 2026, tercatat sudah ada tiga kapanewon yang mulai menyalurkan bantuan air bersih, yakni Kapanewon Tepus, Rongkop, dan Tanjungsari. Penyaluran dilakukan dengan menggunakan anggaran yang telah disiapkan masing-masing kapanewon.
Menurut Purwono, prediksi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang tahun ini berpotensi memperluas dampak kekeringan di sejumlah wilayah Gunungkidul.
"Tahun ini, kemaraunya diprediksi lebih panjang sehingga dampak kekeringan diperkirakan masih akan meluas," katanya.
Selain mengandalkan anggaran penyaluran air bersih dari BPBD maupun kapanewon, Pemkab Gunungkidul juga menyiapkan dukungan pendanaan melalui Belanja Tak Terduga (BTT). Untuk mengakses anggaran tersebut, pemerintah telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan yang berlaku mulai 1 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Purwono mengatakan status siaga darurat tersebut dapat diperpanjang dengan mempertimbangkan kondisi kekeringan di lapangan.
"Status bisa diperpanjang dengan menyesuaikan kondisi di lapangan," ujarnya.
Sementara itu, Panewu Purwosari, Subiyantoro, mengatakan pihaknya mengalokasikan anggaran penyaluran air bersih sebesar Rp79,6 juta. Bantuan mulai disalurkan pada Rabu (8/7/2026) kepada masyarakat di Kalurahan Giricahyo dan Kalurahan Giripurwo.
Sebanyak enam tangki air bersih telah disalurkan dengan rincian empat tangki diberikan kepada warga di Kalurahan Giripurwo dan dua tangki lainnya disalurkan kepada warga di Kalurahan Giricahyo.
"Sewaktu-waktu ada pengajuan, maka kami siap menyalurkan bantuan dengan anggaran yang dimiliki," katanya.
Di sisi lain, Panewu Girisubo, Haryanto, mengatakan wilayahnya juga termasuk kawasan yang rutin terdampak kekeringan saat musim kemarau. Untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat, pemerintah kapanewon telah mengalokasikan bantuan air bersih sebanyak 266 tangki.
Meski demikian, penyaluran bantuan di Kapanewon Girisubo belum dilakukan karena direncanakan mulai diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan pada akhir Juli 2026.
"Belum disalurkan karena bantuan akan diberikan ke masyarakat yang membutuhkan mulai akhir Juli nanti," kata Haryanto.
Meluasnya wilayah terdampak kekeringan di Gunungkidul menjadi perhatian pemerintah daerah mengingat kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat. Dengan prediksi kemarau yang masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, penambahan lokasi penyaluran bantuan air bersih diperkirakan masih akan terus dilakukan sesuai kondisi di lapangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Surat mutasi palsu mengatasnamakan Kepala BKPPD Gunungkidul beredar di lingkungan puskesmas. ASN diminta waspada terhadap modus penipuan.
Kulonprogo masih menunggu regulasi pusat terkait penyaluran bansos melalui KDMP. Sebanyak 10 gerai telah rampung dan siap diverifikasi.
Morning anxiety dapat membuat seseorang merasa cemas sejak bangun tidur. Kenali penyebab, gejala, dan penjelasan para ahli mengenai kondisi ini.
Suara biola dan cello perlahan memenuhi Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Kamis (16/7) malam
Antrean BBM di Sumatra ditargetkan terurai dalam satu hingga dua hari. Lonjakan konsumsi dan panic buying menjadi penyebab utama.
Transaksi KDKMP sepanjang 2026 mencapai Rp56,8 miliar. Pupuk menjadi komoditas terlaris dan distribusi barang subsidi akan diperkuat.