Krisis Air di Rongkop, Warga Kemesu Beli Air Rp120.000 per Tangki

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 15 Juli 2026 17:57 WIB
Krisis Air di Rongkop, Warga Kemesu Beli Air Rp120.000 per Tangki

Salah seorang warga mengambil air dari bak penampungan yang ada di Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Selasa (14/7). /Harian Jogja-David Kurniawan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Musim kemarau kembali memicu krisis air bersih di Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul. Ketiadaan sumber air membuat puluhan keluarga harus membeli air bersih seharga Rp120.000 per tangki atau mengandalkan bantuan dropping air dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut telah menjadi persoalan yang berulang setiap musim kemarau. Meski jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani sudah masuk ke wilayah tersebut, pasokan air belum dapat memenuhi kebutuhan warga karena distribusinya masih terbatas.

Warga Bergantung pada Air Hujan dan Bantuan

Salah seorang warga, Wakino, mengatakan masyarakat di Padukuhan Kemesu tidak memiliki sumber air sehingga sangat bergantung pada air hujan. Saat kemarau tiba, warga tidak memiliki pilihan selain membeli air bersih.

Ia mengaku hingga pertengahan musim kemarau tahun ini sudah dua kali membeli air dengan harga Rp120.000 untuk setiap tangki.

“Warga hanya mengandalkan air hujan karena memang tidak ada sumber air. Kalau kemarau terpaksa membeli,” katanya kepada wartawan, Rabu (15/7/2026).

Selain membeli secara mandiri, warga juga memperoleh bantuan dropping air dari pemerintah. Air bersih tersebut ditampung di bak penampungan sebelum dibagikan kepada masyarakat.

“Sudah rutin ada bantuan dan ini sangat membantu warga untuk mendapatkan air bersih,” katanya.

Sebanyak 66 KK Terdampak Krisis Air

Dukuh Kemesu, Sugiyanta, menyebut sedikitnya terdapat 66 kepala keluarga (KK) di wilayahnya yang terdampak krisis air bersih setiap musim kemarau.

Menurut dia, tidak adanya sumber air membuat masyarakat bergantung pada pembelian air ataupun bantuan dari pemerintah.

“Tidak ada sumber air sehingga harus membeli atau mengandalkan bantuan,” katanya.

Sugiyanta menjelaskan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebenarnya telah berupaya memperluas layanan air bersih melalui PDAM. Namun, distribusi air yang diterima warga masih jauh dari harapan.

Di Padukuhan Kemesu, jaringan PDAM baru tersedia di tiga titik dan air hanya mengalir satu kali dalam sepekan, yakni setiap Kamis malam.

“Itu pun yang terpasang hanya tiga titik. Mengalirnya setiap Kamis dan di waktu malam sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga secara bergantian,” katanya.

Sumur Bor Belum Berhasil

Selain menghadirkan jaringan PDAM, pemerintah juga sempat mencoba menyediakan sumber air melalui pembangunan sumur bor.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena sumur yang dibangun tidak mengeluarkan air.

“Harapannya masalah layanan air bersih di Kemesu bisa terselesaikan sehingga tidak mengalami krisis, khususnya saat kemarau,” katanya.

PDAM Siapkan Pemisahan Jaringan Layanan

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, Sulistyo Ariwibowo, membenarkan bahwa instalasi PDAM telah terpasang di Padukuhan Kemesu meski cakupannya masih terbatas.

Ia menjelaskan distribusi air ke wilayah tersebut belum optimal karena berada di ujung jaringan pelayanan yang memanfaatkan sumber air Seropan dan harus berbagi pasokan dengan pelanggan di Kapanewon Ponjong.

“Airnya mengambil dari sumber Seropan. Berhubung berbagai dengan pelanggan di wilayah Ponjong, maka layanan di Kemesu jadi paling akhir,” katanya.

Untuk meningkatkan kelancaran distribusi, PDAM Tirta Handayani telah menyiapkan skema pemisahan jaringan pelayanan.

Melalui skema tersebut, wilayah Kalurahan Pucanganom nantinya akan memperoleh pasokan langsung dari sumber Seropan tanpa melewati jaringan pelayanan di Kapanewon Ponjong. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi beban distribusi menuju Ngrombo hingga Rongkop sehingga aliran air ke Padukuhan Kemesu dapat lebih cepat dan stabil.

“Ini untuk mengurangi bebang layanan di arah Ngrombo menuju Rongkop sehingga aksesnya lebih cepat ke warga, salah satunya di Kemesu,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online