Industri Pesta Pernikahan Tetap Bertahan Gerakkan Ekonomi Lokal

Newswire
Newswire Sabtu, 18 Juli 2026 15:57 WIB
Industri Pesta Pernikahan Tetap Bertahan Gerakkan Ekonomi Lokal

Industri pernikahan Jogja tetap tumbuh pada 2026. Tren intimate wedding berkembang, sementara vendor mengedepankan profesionalisme. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Industri pesta pernikahan di Daerah Istimewa Jogja (DIY) masih menunjukkan ketahanan sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal sepanjang 2026. Meski kondisi ekonomi makro memengaruhi pola belanja masyarakat, aktivitas bisnis di sektor ini tetap berlangsung karena pernikahan menjadi kebutuhan sosial sekaligus momen sakral yang terus dijalankan masyarakat.

Perubahan justru terlihat pada pola penyelenggaraan pesta yang semakin sederhana, namun tidak mengurangi kebutuhan terhadap layanan profesional dari berbagai vendor lokal.

Ketahanan industri tersebut turut menjaga perputaran ekonomi masyarakat karena ekosistem bisnis pernikahan melibatkan banyak sektor usaha sekaligus. Rantai pasoknya mencakup berbagai profesi yang selama ini bergantung pada penyelenggaraan pesta pernikahan.

Menopang Banyak Profesi

Ketua Himpunan Perusahaan Penata Acara Pernikahan DPW DIY, Dendi Prasetyo, mengatakan industri pernikahan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian masyarakat karena bersifat multisektoral. Berbagai profesi lokal memperoleh manfaat langsung dari keberlangsungan sektor tersebut.

Mulai dari pekerja dekorasi, pelaku usaha katering, fotografer, perias, desainer busana hingga pekerja seni dan hiburan panggung menjadi bagian dari ekosistem yang terus bergerak. Karena itu, stabilitas industri pernikahan turut memengaruhi kesejahteraan banyak tenaga kerja.

"Sampai saat ini industri di bidang pernikahan tetap bergerak. Sektor ini menghidupi banyak orang. Karena itu kami sebenarnya berharap pemerintah memberikan dukungan lebih," katanya dikutip Sabtu (18/7/2026).

Prasetyo mengakui kondisi ekonomi saat ini turut memengaruhi cara masyarakat mengalokasikan anggaran. Namun, menurutnya, kebutuhan menggelar pernikahan tetap ada sehingga aktivitas bisnis di sektor tersebut masih berjalan. Perubahan paling nyata pada 2026 terlihat dari bergesernya konsep pesta menuju perayaan yang lebih sederhana dengan jumlah tamu yang lebih terbatas atau intimate wedding.

Meski skala acara berubah, kebutuhan terhadap jasa vendor profesional tetap tinggi. Dekorasi, dokumentasi, tata rias, hingga layanan pendukung lainnya tetap menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pernikahan.

"Konsepnya berubah menjadi lebih intimate, tetapi vendor tetap dibutuhkan. Kuncinya adalah meningkatkan pelayanan dan terus beradaptasi," ujarnya.

Respons Pasar Positif

Optimisme terhadap industri ini juga tercermin dari tingginya antusiasme masyarakat dalam pameran pernikahan lokal di Pakuwon Mall Jogja pada 17-19 Juli 2026. Owner Jason Enterprise, Jason Lin, menyebut respons pengunjung pada penyelenggaraan pameran kali ini melampaui perkiraan. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya nilai transaksi dibandingkan tahun sebelumnya.

"Perputaran modal terjadi secara masif karena melibatkan sekitar 40 vendor lokal, termasuk lini jasa yang jarang muncul di pameran konvensional seperti pembawa acara, penyedia entertainment, hingga vendor interior," ujarnya.

Menurut Jason, seluruh vendor yang terlibat telah melalui proses seleksi ketat sehingga kualitas layanan kepada konsumen tetap terjaga.

"Sebenarnya untuk pemilihan vendor, kami sangat menjaga banget ya. Karena sekarang kan banyak kasus vendor bodong, yang spam, dan lain sebagainya. Makanya ketika mereka ikut di tempat kami, rata-rata adalah vendor yang sudah bekerja sama dengan kami, sehingga kami tahu persis kredibilitas dan background mereka," ungkap Jason.

Kemampuan membaca perubahan kebutuhan konsumen juga menjadi faktor yang menjaga daya saing industri pernikahan di Jogja.

Salah satu inovasi yang mulai banyak ditawarkan adalah dekorasi bertema Metallic Garden, yakni konsep yang memadukan nuansa alami dengan sentuhan futuristik.

Di sisi lain, fleksibilitas anggaran tetap menjadi daya tarik bagi calon pengantin. Pasar menyediakan pilihan mulai dari paket bernilai puluhan juta rupiah untuk konsep minimalis hingga anggaran yang tidak terbatas, bergantung pada pemilihan lokasi atau venue.

Untuk menjaga pemerataan peluang usaha, penyelenggara pameran tidak membatasi penawaran dalam bentuk paket all-in. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas perputaran ekonomi di antara pelaku usaha yang terlibat dalam industri pernikahan di Jogja.

Menurut Prasetyo, karakter industri pernikahan berbeda dibanding sektor usaha lain karena berkaitan dengan momentum pribadi yang sakral. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap layanan profesional relatif tetap terjaga.

Kepercayaan Konsumen

Selain dituntut mampu beradaptasi, pelaku industri juga menghadapi tantangan menjaga kepercayaan masyarakat di tengah maraknya kasus vendor bodong.

Prasetyo menjelaskan pihaknya telah memiliki lembaga sertifikasi sebagai bagian dari upaya menjaga standar profesional anggotanya. Sistem kurasi dalam pameran pernikahan juga diterapkan untuk memastikan hanya vendor yang memiliki rekam jejak baik yang dapat berpartisipasi.

"Kami memiliki lembaga sertifikasi sehingga anggota kami memiliki standar profesional. Vendor yang tidak memiliki kredibilitas yang baik biasanya tidak akan lolos kurasi," ujar Prasetyo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online