Pengawasan Diperketat, Belasan Pengelola Parkir di Bantul Kena Teguran
Satpol PP dan Dishub Bantul menemukan 11 pelanggaran penyelenggaraan parkir. Tiga kendaraan yang parkir di area terlarang depan IGD RSUD Panembahan Senopati jug
Foto ilustrasi bantuan sosial (bansos), dibuat menggunakan Artificial Intelligence/AI.
Harianjogja.com, BANTUL— Pemerintah Kabupaten Bantul kembali menyalurkan bantuan melalui program Sambung Pangan (Sapa) Bantul untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat kurang mampu. Tahun ini, program tersebut menyasar 1.000 keluarga penerima manfaat (KPM) yang masing-masing memperoleh paket kebutuhan pokok bergizi senilai Rp200.000.
Bantuan tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan diwujudkan sebagai paket sembako yang dibelanjakan di warung pangan warga yang telah bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bantul.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bantul Sukrisna Dwi Susanta mengatakan mekanisme tersebut dipilih agar bantuan tidak hanya membantu warga miskin, tetapi juga menggerakkan perekonomian di tingkat lokal.
“Program ini diperuntukkan bagi warga miskin dan diwujudkan dalam bentuk sembako senilai Rp200 ribu. Mekanismenya yaitu dibelanjakan ke warung pangan warga,” ujarnya, Minggu (2/8).
Menurut Sukrisna, paket bantuan disusun untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga penerima manfaat. Komoditas yang diberikan tidak hanya berupa bahan pangan pokok, tetapi juga memperhatikan keseimbangan asupan nutrisi.
“Jadi ada beras sebagai karbohidrat, proteinnya bisa dari daging sapi atau ikan, kemudian ada buah-buahan, sayuran, dan yang terakhir susu. Jadi gizinya itu komplet,” katanya.
Melalui komposisi tersebut, Pemkab Bantul berharap bantuan yang diterima masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas gizi keluarga, khususnya kelompok rentan.
Namun, pelaksanaan SAPA Bantul tahun ini belum dapat berlangsung sepanjang tahun. Sukrisna mengatakan keterbatasan anggaran membuat pemerintah hanya mampu menyalurkan bantuan selama enam bulan.
“Karena ada keterbatasan anggaran, kami hanya mampu menyalurkan bantuan ini selama enam bulan,” ucapnya.
Untuk mendukung penyaluran bantuan, Dinsos Bantul menerapkan mekanisme virtual account (VA). Kepala Seksi Pengelolaan Bantuan Sosial dan Penanganan Korban Bencana Dinsos Bantul Jazim Ahmadi menjelaskan setiap keluarga penerima memperoleh barcode VA yang dicetak setiap bulan berdasarkan Surat Keputusan Bupati dan Surat Keputusan Kepala Dinas Sosial.
“VA kami cetak per bulan berdasarkan SK Bupati dan SK Kepala Dinsos. Setelah dicetak, nanti pendamping mengambil dan langsung membagikannya ke masing-masing KPM,” kata Jazim.
Barcode tersebut kemudian ditukarkan dengan paket sembako di warung pangan warga yang telah ditunjuk Dinsos Bantul. Menurut Jazim, mekanisme tersebut diterapkan agar bantuan tepat sasaran sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil di sekitar penerima manfaat.
“Jadi nanti kode batang VA itu ditukarkan dengan sembako di warung pangan warga. Dan untuk warungnya sendiri sudah kami tunjuk,” ujarnya.
Melalui skema tersebut, program Sapa Bantul tidak hanya diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga miskin, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Warung pangan warga memperoleh tambahan transaksi dari penyaluran bantuan, sedangkan keluarga penerima dapat memperoleh bahan pangan bergizi sesuai kebutuhan yang telah ditentukan pemerintah.
Pemkab Bantul berharap program ini mampu menjaga daya beli masyarakat kurang mampu sekaligus memastikan kebutuhan pangan bergizi tetap dapat diakses di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpol PP dan Dishub Bantul menemukan 11 pelanggaran penyelenggaraan parkir. Tiga kendaraan yang parkir di area terlarang depan IGD RSUD Panembahan Senopati jug
Sekolah Rakyat MA 20 Sleman memastikan PWA masih berstatus siswa dan membantah kabar kabur maupun putus sekolah usai kasus celurit.
Krisis migran di perbatasan Spanyol-Maroko menewaskan 67 orang. Gelombang penyeberangan massal diduga dipicu faktor politik dan diplomatik.
Petani di Kapanewon Semin mulai panen tembakau Grompol. Harga daun basah Rp4.500 per kilogram dan tetap dinilai menguntungkan.
Satu bayi kasus penitipan di Pakem masih dirawat BRSPA Dinsos DIY setelah orang tua biologis meminta perpanjangan masa penitipan.
Program Sapa Bantul kembali disalurkan kepada 1.000 KPM melalui warung pangan warga dengan paket sembako bergizi senilai Rp200.000.