Jogja Jadi Awal Riset Psoriasis, Targetkan Terapi Lebih Efektif

Yosef Leon
Yosef Leon Kamis, 06 Agustus 2026 17:57 WIB
Jogja Jadi Awal Riset Psoriasis, Targetkan Terapi Lebih Efektif

Suasana penandatanganan kerja sama riset metabolit untuk pasien psoriasis di kulit kepala antara Paragon Corp dan Corpora Science, Kamis (6/8/2026). Dokumentasi Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA— Jogja menjadi titik awal pelaksanaan riset metabolit untuk pasien psoriasis di kulit kepala yang diharapkan membuka jalan bagi pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat Indonesia. Penelitian ini juga diarahkan untuk mengisi keterbatasan data ilmiah mengenai psoriasis pada populasi Asia yang hingga kini masih minim.

Riset tersebut merupakan kolaborasi pertama antara Paragon Corp dan Corpora Science. Penelitian berfokus pada pemetaan metabolit pasien psoriasis di kulit kepala sebagai dasar pengembangan terapi yang lebih efektif sekaligus memperkuat riset dermatologi berbasis populasi Indonesia.

Data Psoriasis di Populasi Asia Masih Terbatas

Deputy CEO sekaligus Chief R&D Officer Paragon Corp, Sari Chairunnisa, mengatakan penelitian psoriasis pada kulit kepala masih sangat sedikit dilakukan. Selain itu, ketersediaan dataset pasien dari populasi Asia juga masih terbatas sehingga diperlukan penelitian yang lebih spesifik.

"Penelitian psoriasis di kulit kepala itu masih jarang. Kedua, dataset di populasi Asia juga masih sangat sedikit. Harapannya dengan kita mempunyai datanya, kita akan mempunyai terapi psoriasis yang lebih targeted sehingga lebih efektif," katanya saat penandatanganan kerja sama, Kamis (6/8/2026).

Menurut Sari, selama ini penanganan psoriasis di kulit kepala umumnya masih mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan di luar negeri. Padahal, karakteristik biologis masyarakat Indonesia belum tentu sama dengan populasi yang menjadi dasar penelitian tersebut.

Perbedaan karakteristik biologis itu, lanjutnya, dapat memengaruhi respons pasien terhadap terapi. Ia mencontohkan, pengobatan yang dikembangkan berdasarkan penelitian di negara lain kemungkinan menargetkan protein tertentu, sedangkan profil protein maupun metabolit pada masyarakat Indonesia bisa berbeda sehingga membutuhkan pendekatan terapi yang lain.

"Harapannya data ini menjadi dasar untuk mengembangkan pengobatan psoriasis di kulit kepala yang lebih efektif karena lebih targeted," ujarnya.

Hasil Awal Ditargetkan Terlihat pada Kuartal I 2027

Sari menjelaskan proses pengambilan data penelitian diperkirakan berlangsung relatif singkat. Namun, tahapan analisis dan pengolahan data diprediksi membutuhkan waktu lebih panjang.

Ia menargetkan hasil awal riset mulai dapat diperoleh pada kuartal pertama 2027.

Selain menjadi fondasi pengembangan terapi, hasil penelitian juga akan dimanfaatkan sebagai dasar ilmiah dalam pengembangan produk. Paragon bahkan berencana memperluas riset multiomics untuk berbagai masalah kulit lainnya, termasuk jerawat dan berbagai kelainan kulit lain.

"Kami percaya penelitian yang dimulai dari Jogja ini menjadi langkah pertama untuk semakin banyak riset yang komprehensif. Harapannya tidak hanya berhenti di psoriasis, tetapi juga berbagai kondisi kulit lain sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat Indonesia," katanya.

Kolaborasi Perkuat Pengembangan Teknologi Multiomics

Sementara itu, Chairman Wiralab Analitika Solusindo (Corpora Science), Felix Tanny, menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat riset dan pengembangan berbasis teknologi multiomics di Indonesia.

Menurut Felix, pendekatan multiomics memungkinkan peneliti memahami mekanisme biologis penyakit secara lebih rinci. Dengan demikian, pengembangan terapi maupun produk dapat dilakukan secara lebih terarah dan didukung bukti ilmiah yang kuat.

"Kami berharap sinergi ini menghasilkan riset yang akurat, dapat dipublikasikan secara ilmiah, hingga menjadi dasar pengembangan produk yang lebih kredibel dan bermanfaat bagi masyarakat," ujar Felix.

Penelitian yang dimulai dari Jogja tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya data ilmiah mengenai psoriasis pada populasi Asia, tetapi juga menjadi pijakan bagi pengembangan riset berbagai penyakit kulit lain yang relevan dengan karakteristik masyarakat Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online